Puri Aksara Rajapatni Buka Lembar ꦏꦺꦴꦭꦧꦺꦴꦫꦱꦶ Kolaborasi Dengan Pemkot Surabaya

11 January 2024 | 215 kali
Fitur By : Nanang Purwono

Omahaksara.id: Surabaya (11/1/24) – Buku cerita fabel beraksara Jawa dengan judul ꦠꦶꦠꦶꦠꦶꦏꦸꦱ꧀ꦄꦩ꧀ꦧꦺꦒ꧀ꦮꦼꦭꦱ꧀ꦄꦱꦶꦃ “Titi Tikus Ambeg Welas Asih”, karya Ita Surojoyo, menandai awal kerjasama Komunitas Budaya yang fokus pada Aksara Jawa, ꦥꦸꦫꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷ Puri Aksara Rajapatni, dengan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya.

Kepala Disbudporapar Hidayat Syah (empat dari kiri) beserta jajaran dengan Ketua Puri Aksara Rajapatni Nanang Purwono (empat dari kanan)  dibersamai Pendiri Rajapatni, Ita Surojoyo (dua dari kanan) dan tim di kantor Disbudporapar Kota Surabaya. Foto: dok PAR/omahaksara.id

Ita Surojoyo, pendiri ꦥꦸꦫꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷ Puri Aksara Rajapatni, menilai pentingnya kerjasama dalam rangka bersama membumikan ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ Aksara Jawa di Surabaya sebagai bagian dari penguatan instruksi Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, di bidang Budaya. Kebudayaan adalah bidang dalam Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar).

Kamis pagi, 11 Januari 2024, Tim Puri Aksara Rajapatni diterima Kepada Dinas ꦲꦶꦣꦪꦠ꧀ꦱꦾꦃ Hidayat Syah, yang didampingi oleh Kepada Bidang Kebudayaan Heri Purwadi dan jajaran staf Bidang Kebudayaan. Hadir bersama Ita Surojoyo adalah Nanang Purwono (Ketua Rajapatni), Ginanjar (Wakil Ketua) dan Novita (Sekretaris).

Diskusi budaya, Aksara Jawa, untuk kota Surabaya. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Hidayat Syah menyambut baik hadirnya komunitas budaya, Puri Aksara Rajapatni, yang fokus pada ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ Aksara Jawa yang berupaya untuk memasyarakatkan Aksara Jawa di Surabaya. Menurutnya hadirnya Rajapatni ini selaras dengan apa yang sedang digalakkan oleh Pemerintah Kota Surabaya. 

“Saat ini Pemerintah Kota Surabaya sedang menggunakan Aksara Jawa untuk nama nama kantor pemerintah di lingkungan Pemerintah ꦏꦺꦴꦠꦯꦸꦫꦨꦪ Kota Surabaya”, kata Cak Hidayat Syah, begitu dirinya dipanggil di lingkungan Kantor Disbudporapar.

Aksara Jawa sudah terpasang di ruang penerima tamu Disbudporapar. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Cak Hidayat menambahkan bahwa dalam upaya membumikan Aksara Jawa, Ia bisa memulai dari lingkungan Dinasnya. Yaitu dalam setiap event yang digelar oleh Disbudporapar, pada bagian backdrop acara akan ditambahkan ꦥꦼꦤꦸꦭꦶꦱꦤ꧀ penulisan Aksara Jawa.

Gagasan ini, menurut Kepala Bidang Kebudayaan, Heri Purwadi, akan menjadi media yang praktis dalam ꦩꦼꦩ꧀ꦥꦼꦂꦏꦼꦤꦭ꧀ꦏꦤ꧀ memperkenalkan Aksara Jawa kepada masyarakat. Heri, yang sering menjadi Master of Ceremony (MC), dalam acara acara Dinasnya, melihat rencana penyisipan Aksara Jawa pada setiap acara bisa menjadi bahan komunikasi buat publik.

Tim Rajapatni dengan Kepala Dinas dan jajaran Tim Disbudporapar ini terkait dengan rencana kerja dan kegiatan Komunitas Rajapatni dalam waktu dekat. Menurut Ita Surojoyo, Rajapatni memiliki dua bidang ꦏꦼꦒꦶꦪꦠꦤ꧀ kegiatan. Yaitu Sinau Aksara Jawa (belajar menulis dan membaca Aksara Jawa) dan Pelatihan Ekonomi Kreatif yang bertema Aksara Jawa.

Karenanya Rajapatni berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) dan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (Diskopdag) Kota Surabaya. 

Menurut Sekretaris Rajapatni, Novita, yang juga aktivis wanita Surabaya, aksara Jawa juga ꦩꦼꦩꦶꦭꦶꦏꦶ memiliki peluang tampil pada produk produk kreatif UKM di Kota Surabaya. 

“Mengawali kiprah Rajapatni, kami sudah melakukan kerjasama pelatihan membatik yang bertemakan Aksara Jawa. Kami sedang mengembangkan Batik Aksara Surabaya, Basaraya di ꦗꦩ꧀ꦧꦔꦤ꧀ Jambangan, Surabaya”, jelas Novita dalam forum audiensi.

Ruang pamer Manuskript di Museum Pendidikan Surabaya. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Dalam berkegiatan edukatif, Nanang Purwono, Ketua Rajapatni, memilih lokasi kegiatan di Museum Pendidikan karena dianggap sesuai dengan tema kegiatan Rajapatni. 

“Di Museum Pendidikan ini ada benda koleksi museum berupa artefak manuskrip. Museum tidak hanya tempat untuk mengoleksi dan mempreservasi, tetapi juga berfungsi untuk menyampaikan pesan pesan yang terkandung didalamnya. Belajar ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦕꦣꦤ꧀ꦩꦼꦤꦸꦭꦶꦱ꧀ membaca dan menulis Aksara Jawa adalah tahapan mengenal artefak”, jelas Nanang kepada Kepala Dinas.

Penyerahan karya literasi beraksara Jawa dari penulis dan founder Rajapatni, Ita Surojoyo, kepada Rina mewakili Bidang Kebudayaan Disbudporapar Kota Surabaya. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Untuk menandai awal kerjasama di bidang budaya ini, Ita Surojoyo memberikan cinderamata berupa buku fabel beraksara Jawa dengan judul ꦠꦶꦠꦶꦠꦶꦏꦸꦱ꧀ꦄꦩ꧀ꦧꦺꦒ꧀ꦮꦼꦭꦱ꧀ꦄꦱꦶꦃ “Titi Tikus Ambeg Welas Asih” kepada Disbudporapar yang diterima oleh Rina.

Rina berharap kerja bareng di bidang budaya, khususnya Aksara Jawa, antara Disbudpirapar dan Rajapatni ini, bisa memberi warna tentang arti Kebudayaan di Surabaya. (nannag PAR).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *