Prof. Suparto Wijoyo: Pulihkan Jiwa Kebangsaan  ꦧꦼꦂꦧꦱꦶꦱ꧀ꦠꦿꦣꦶꦱꦶ Berbasis Tradisi dan Jati Diri.

12 January 2024 | 86 kali
Fitur By : Nanang Purwono

Omahaksara.id: Surabaya (12/1/24) – Masuk ke dalam gedung dewan, DPRD Jawa Timur, bukan pertama kali. Melihat pemandangan ruang ꦥꦫꦶꦥꦸꦂꦤ Paripurna sudah biasa. Tapi ada yang luar biasa. Luar biasa ironisnya. 

Fokus ironisasi ini ada pada mimbar pimpinan Dewan yang terhormat. Pada panggung mimbar itu tertulis sesanti ꦗꦼꦂꦧꦱꦸꦏꦶꦩꦮꦧꦺꦪ Jer Basuki Mawa Bea, yang secara bahasajer” berarti seharusnya.Basuki” berarti kebahagiaan atau kesejahteraan.Mawa beya” berarti butuh biaya dan pengorbanan. Intinya. Jadi, Jer Basuki Mawa Beya mengajarkan manusia Jawa untuk senantiasa bekerja keras dalam menggapai suatu tujuan.

Sesanti sarat makna ꦥꦿꦺꦴꦮ꦳ꦶꦤ꧀ꦱꦶꦗꦮꦠꦶꦩꦸꦂ Provinsi Jawa Timur itu tertulis indah seperti Aksara Jawa. Tapi bukan Aksara Jawa.

Jer Basuki Mawa Beya seperti tertulis dalam Aksara Jawa, tapi bukan. Foto: dok Bumas DPRD Jatim for o.ahaksara.id

ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ  Aksara Jawa secara fisik memang indah. Apalagi Aksara Jawa ini memiliki ragam text style atau font. Ada sekitar 30 jenis fon dalam aksara Jawa.

Aksara Jawa memiliki sekitar 30 font. Tapi yang tertulis pada mimbar terhormat di gedung DPRD Jatim bukanlah Aksara Jawa dan font ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ Aksara Jawa.

Terlalu sayang aksara ꦤꦸꦱꦤ꧀ꦠꦫ Nusantara, Aksara Jawa ini. Yang disematkan pada mimbar terhormat rumah rakyat DPRD Jawa Timur ini bukanlah Aksara Jawa yang selama ini seharusnya kita banggakan sebagai aksara Nusantara. Tapi, yang digunakan untuk menuliskan sesanti Jawa Timur ini adalah Aksara Latin yang ditulis seperti Aksara Jawa.

“Itu aksara palsu”, kata Nanang Purwono, Ketua ꦥꦸꦫꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷ Puri Aksara Rajapatni, komunitas budaya yang fokus pada Aksara Jawa.

“Mengapa tidak ditulis dalam Aksara Jawa? Apakah kita malu menggunakan Aksara Jawa?”, tanyanya lebih lanjut.

Kritik Nanang ini menanggapi hadirnya Raperda Pemajuan Kebudayaan yang tengah digodok oleh DPRD Jawa Timur.

“ꦧꦲꦱ Bahasa, yang di dalamnya ada simbol simbol berupa aksara, adalah salah satu dari Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK)”, jelas Nanang

Nanang menambahkan dalam upaya melahirkan Raperda Pemajuan Kebudayaan di Pemerintah Provinsi Jawa Timur, maka seyogyanya DPRD Jawa Timur berangkat dengan ꦄꦏ꧀ꦱꦶꦚꦠ aksi nyata di lingkungan DPRD Jatim. 

“Menggunakan Aksara Jawa, seperti menggunakan pada mimbar terhormat di ruang paripurna DPRD Jatim, adalah wujud nyata Pemajuan Kebudayaan”, tambah Nanang, Ketua Puri Aksara Rajapatni.

Hal senada juga diungkapkan oleh Founder Puri Aksara Rajapatni ꦆꦠꦯꦸꦫꦗꦪ

Ita Surojoyo ketika menanggapi adanya Raperda Inisiatif Dewan DPRD Jatim terkait dengan Pemajuan Kebudayaan.

Gedung DPRD Jatim di jalan Indrapura Surabaya. Foto: dok Humas DPRD Jatim for omahaksara.id

“Kini saatnya Jawa Timur bangga dengan aksara Nusantara karena di jatim ini adalah rumah dari Aksara Kawi, yang menjadi ibu dari Aksara Jawa dan Bali, yang selanjutnya menyebar ke Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Bali”, terang  ꦆꦠꦯꦸꦫꦗꦪ  Ita Surojoyo.

Aksara adalah bagian dari ꦧꦲꦱ Bahasa, yang menjadi salah satu dari sepuluh Objek Pemajuan Kebudayaan, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 5, UU No. 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Sementara itu Prof. Suparto Wijoyo, Wakil Direktur Sekolah Pasca Sarjana Universitas Airlangga menyambut baik dan mendukung adanya Raperda Pemajuan Kebudayaan demi pelestarian dan pemanfaatan aset aset kebudayaan yang tersebar luas di ꦗꦮꦠꦶꦩꦸꦂ Jawa Timur.

“Saatnya Jawa Timur mengembangkan peradaban asli dalam berbangsa dan bernegara melalui gerakan jati diri bersama”, pesan Prof. Suparto Wijoyo yang disampaikan melalui pesan Whatsapp. 

Suparto Wijoyo menambahkan bahwa Perda ini nantinya akan ꦩꦼꦤꦼꦒꦱ꧀ꦏꦤ꧀ menegaskan tidak ada lagi istilah kawasan yang tidak berkarakter lokal. 

“Karena kita mau memulihkan kembali jiwa kabangsaan ini pada proporsi yang ꦧꦼꦂꦧꦱꦶꦱ꧀ꦠꦿꦣꦶꦱꦶ berbasis tradisi, bukan proporsi yang mengabaikan kearifan tradisi atas nama investasi. Nama nama jalan atau kawasan serta bangunan mutlak memiliki ꦫꦸꦃꦠꦿꦣꦶꦱ꧀ ruh tradisi”, Prof. Suparto Wijoyo menegaskan.

Aksara adalah sebagian kecil dari kekayaan budaya Jawa Timur. Maka dengan hadirnya Perda Pemajuan Kebudayaan, budaya tidak saja dipreservasi tetapi juga akan bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan ꦩꦱꦾꦫꦏꦠ꧀ masyarakat

Budaya adalah ruh suatu bangsa. Jika ruh itu hilang maka matilah bangsa itu. (nanang PAR).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *