ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ Aksara Jawa Layak Hiasi Kampung Eropa Surabaya.

26 December 2023 | 44 kali
Opini By : Nanang Purwono

Omahaksara.id: Surabaya (25/12/23) – Kampung ꦧꦼꦭꦤ꧀ꦝ Belanda (Eropa) Surabaya telah berhias Aksara Jawa. ꦥꦥꦤ꧀ꦤꦩ Papan nama dengan tulisan Aksara Jawa itu tergantung pada halte tempo dulu di jalan ꦗꦼꦩ꧀ꦧꦠꦤ꧀ꦩꦺꦫꦃ Jembatan Merah, tepatnya di depan gedung PTPN X.

Aksara Jawa masuk Kampung Eropa sebelum revitalisasi. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Ini adalah papan nama sebuah kedai makanan dan minuman  ꦄꦁꦏꦿꦶꦔꦤ꧀ꦧꦭꦣꦺꦮ  Angkringan Baladewa. Tempatnya anak muda dan keluarga, termasuk menjadi pangkalan (starting dan finishing point) kegiatan jelajah ꦱꦼꦗꦫꦃ sejarah wisata kota tua Surabaya.

Kusnan, seorang pegiat budaya, pengelola kedai ꦄꦁꦏꦿꦶꦔꦤ꧀ꦧꦭꦣꦺꦮ Angkringan Baladewa ini sengaja turut meramaikan hadirnya Aksara Jawa di Surabaya. Melihat kehadiran Aksara Jawa di Surabaya, ꦏꦸꦱ꧀ꦤꦤ꧀ Kusnan secara mandiri turut menggunakan Aksara Jawa sebagai sumbangsih dalam pelestarian budaya bangsa. Selama ini Kusnan juga mendiri dalam melestarikan budaya  ꦭꦸꦣꦿꦸꦏ꧀  ludruk.

Jalan Jembatan Merah berpagar gedung raya. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Melihat hadirnya Aksara Jawa di kawasan kota Eropa Surabaya, Pemerintah Kota Surabaya seharusnya terdorong ꦩꦼꦊꦱ꧀ꦠꦫꦶꦏꦤ꧀ melestarikan Aksara Jawa di kawasan Eropa yang akan direvitalisasi.

Nanang Purwono mengapresiasi ꦥꦼꦔꦼꦭꦺꦴꦭ pengelola Angkringan Baladewa yang dengan inisiatif menggunakan Aksara Jawa untuk penamaan kedainya.

Nanang Purwono, Ketua Puri Aksara Rajapatni Surabaya. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

“Kami patut apresiasi Angkringan Baladewa yang mau menjunjung tinggi  ꦧꦸꦣꦪꦧꦁꦱ  budaya bangsa. Nah ketika pemkot Surabaya mau menata ꦏꦮꦱꦤ꧀ kawasan kota Eropa, jangan lupa menyertakan Aksara Jawa dalam penataan kawasan ini. Misalnya pada utilitas papan nama jalan”, terang ꦤꦤꦁꦥꦸꦂꦮꦤ Nanang Purwono, Ketua Puri Aksara Rajapatni, sebuah komunitas budaya yang fokus pada Aksara Jawa.

Plakard peringatan awas listrik dengan satu aksara Jawa dan dua aksara Latin (Bahasa Melayu dan Belanda). Foto: doc/omahaksara.id

 

“Dulu Aksara Jawa ditinggalkan karena masuknya Aksara Latin yang dibawa oleh bangsa Eropa. Sekarang ketika Pemkot merevitalisasi Kampung Eropa, seharusnya menyertakan Aksara Jawa seperti yang dilakukan oleh Angkringan Baladewa ini”, tegas Nanang Purwono di lokasi Angkringan Baladewa.

 

Wilayah Kampung Eropa Surabaya

Ketika pemerintah ꦏꦺꦴꦠꦯꦸꦫꦨꦪ kota Surabaya akan melakukan revitalisasi kembali kawasan Kampung Eropa Surabaya, banyak pihak yang berpendapat bahwa yang perlu ditangani adalah obyek A, B, C, D dan seterusnya. Misalnya jalan, trotoar, PJU, ꦱꦺꦤ꧀ꦠꦿꦮꦶꦱꦠꦏꦸꦭꦶꦤꦺꦂ Sentra Wisata Kuliner, gedung cagar  budaya, sungai Kalimas, Taman dan lain lain.

Semuanya baik. Dibandingkan dengan ꦏꦺꦴꦠꦠꦸꦮꦗꦏꦂꦠ Kota Tua Jakarta dan ꦏꦺꦴꦠꦭꦩꦱꦼꦩꦫꦁ Kota Lama Semarang, pekerjaan untuk Kota Eropa Surabaya tidak serumit di sana karena kondisi gedung gedungnya dan infrastruktur lainnya terbilang aktif dan terawat. 

Gedung Singa di jalan Jembatan Merah. Foto: dok nanang PAR/omahaksara.id

Namun demikian, idealnya semuanya harus dilakukan secara bertahap, pelan tapi pasti. Karenanya harus ada perencanaan yang kuat dan jelas apa yang mau dilakukan untuk memoles demi ꦥꦼꦊꦱ꧀ꦠꦫꦶꦪꦤ꧀ pelestarian kawasan Eropa ini. 

Ada hal hal, yang dilakukan secara fisik (infrastruktur) dan ada pula yang menyasar sumber daya ꦩꦱꦾꦫꦏꦠ꧀ masyarakat, misalnya para pengelola bangunan di kawasan itu serta masyarakat di sana.

Kampung Eropa Surabaya ini berbeda dari ꦏꦩ꧀ꦥꦸꦁꦥꦼꦕꦶꦤꦤ꧀ Kampung Pecinan, ꦏꦩ꧀ꦥꦸꦁꦩꦼꦭꦪꦸ kampung Melayu dan ꦏꦩ꧀ꦥꦸꦁꦄꦩ꧀ꦥꦺꦭ꧀ Kampung Ampel. Secara geografis, Kampung Eropa Surabaya ini berada di sisi barat sungai Kalimas. Luas wilayahnya sekitar empat hektar, yang dulunya pernah dibatasi oleh tembok kota. 

Sudut Kampung Eropa Surabaya. Foto: dok nanang PAR/omahaksara.id

Hingga sekarang bekas tapal batas tembok kota, yang pernah melingkari Kota Eropa Surabaya, masih bisa dilacak dan dikenali. Sekarang bekasnya menjadi jalan ꦕꦼꦤ꧀ꦝꦿꦮꦱꦶꦃ Cendrawasih dan jalan ꦩꦼꦫꦏ꧀ Merak untuk batas Selatan. Kemudian jalan Krembanfan Timur untuk batas tembok Barat. Jalan ꦒꦫꦸꦣ Garuda untuk batas tembok Utara. Sedangkan batas Timur ini istimewa. Tidak ada tembok sebagai pembatas. Yang menjadi batas Timur adalah sungai ꦏꦭꦶꦩꦱ꧀ Kalimas.

Sungai Kalimas ini sekaligus sebagai waterfront kota Eropa Surabaya. Karenanya di tepi Barat Kalimas ini berpagar gedung raya seperti pada lirik lagu ꦗꦼꦩ꧀ꦧꦠꦤ꧀ꦩꦺꦫꦃ Jembatan Merah. 

Jembatan Merah sungguh indah berpagar gedung raya….”.

Jika kita amati kawasan di dalam batas tembok kota, secara fisik kawasan Kota Eropa Surabaya tidaklah deretan dan kumpulan gedung gedung raya di jalan Rajawali dan Jalan Jembatan Merah saja. Tetapi, juga termasuk obyek obyek yang  berupa gedung gedung di dalam wilayah bekas tapal batas ꦏꦩ꧀ꦥꦸꦁꦌꦫꦺꦴꦥ Kampung Eropa. Secara arsitektur, gedung gedung nya menyimpan ragam gaya yang menunjukkan masa. Yakni abad 20, 19 dan 18.

Selain gedung gedung dari zaman yang berbeda, jalan jalan yang memetak metak kawasan ini masih tersisa dan masih aktif dilalui lalu lintas. Seiring dengan jalan jalan yang masih ada inilah, penamaan jalan bisa dimanfaatkan sebagai pendukung kawasan kampung Eropa.

Dulu, di era kolonial, nama nama tidak sekedar petunjuk jalan, tapi sekaligus petunjuk adanya utilitas dan infrastruktur kota. Misalnya Jalan ꦩ꧀ꦭꦶꦮꦶꦱ꧀ Mliwis (bagian Timur), dulu bernama Dwaar Boomstraat yang berarti Jalan Kepabeanan Samping, karena di ujung Timurnya pernah ada kantor pabean (duane). Sementara jalan Mliwis bagian Barat bernama Oudehospitaal Straat yang artinya Jalan ꦫꦸꦩꦃꦱꦏꦶꦠ꧀ꦭꦩ Rumah Sakit Lama karena di ujung Barat jalan ini pernah ada Rumah Sakit dari era VOC.

Contoh lainnya adalah Jalan ꦒꦼꦭꦠꦶꦏ꧀ Gelatik yang dulu bernama Stadhuissteeg,  yang artinya ꦒꦁꦧꦭꦻꦏꦺꦴꦠ Gang Balai Kota, karena di ujung Utara gang ini pernah ada ꦏꦤ꧀ꦠꦺꦴꦂꦧꦭꦻꦏꦺꦴꦠ Kantor Balai Kota. Termasuk Jalan Merak yang dulu bernama Comediestraat, yang artinya Jalan Komedi karena disana pernah ada gedung pertunjukan. Di tempat itu sekarang ada gedung PTPN XI. 

Begitu pula dengan jalan jalan lainnya seperti: 

  1. Jalan Cendrawasih, dulu Roomschekatolik Kerkstraat (jalan Gereja Katolik Roma).
  2. Jalan Merpati, dulu Paradestraat (jalan Parade)
  3. Jalan Jalak, dulu Soesstraat (jalan Nonik Nonik).
  4. Jalan Prenjak, dulu Benaudestraat (jalan Bau)
  5. Jalan Rajawali, dulu Heerenstraat (jalan Yang Mulia)
  6. Jalan Kedali, dulu Heerensteeg (gang Yang Mulia)
  7. Jalan Elang, dulu Elbogstraat (jalan Siku)
  8. Jalan Garuda, dulu Schoolstraat (jalan Sekolahan) dan Bankstraat (jalan Bank)
  9. jalan Jayengrono, dulu Willemstraat (jalan Raja Willem)
  10. Taman Sejarah, dulu Willemplein (Taman Raja Willem)
  11. Jalan Jembatan Merah, dulu Willemkade Straat (Jalan Dermaga Willem).

Seiring dengan revitalisasi kampung Eropa, jika nama nama lama (Belanda) itu ditulis dalam satu papan nama, maka revitalisasi kali ini akan memberikan informasi dan edukasi tentang sejarah Kampung Eropa Surabaya. Bahwa kala itu Kota Eropa di Surabaya sudah terbentuk.

 

Tiga Bahasa Dalam Satu Media

Contoh papan nama jalan yang dimock up oleh Puri Aksara Rajapatni Surabaya. Foto: ginanjar PAR/omahaksara.id

Di era kolonial, tempo dulu, penggunaan tiga bahasa, sudah biasa. Meskipun pada akhirnya Aksara Jawa semakin tersisih. Namun bukti nyatanya sudah ada. Ada bahasa Melayu, Belanda dan Jawa (aksara). Penulisan 3 bahasa ini adalah kekayaan ragam bahasa yang memang digunakan kala itu. 

Jalan Merpati yang dulunya (d/h Paradestraat). Foto: ginanjar PAR/omahaksara.id

Kini dalam pemajuan nilai budaya dan sejarah kota, khususnya Kota Eropa, akan sangat efektif dan efisien bila karya itu bisa dimanfaatkan untuk papan nama jalan yang menggunakan tiga bahasa.

Dalam setiap frame atau papan nama jalan berisi, pada bagian atas, nama jalan dengan menggunakan ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ Aksara Jawa Kemudian di bawahnya adalah aksara latinnya dalam bahasa Indonesia atau Melayu. Pada baris ke tiga menampilkan nama lama (Belanda) yang di bawahnya pada baris keempat adalah terjemahannya. 

Papan nama yang informatif. Foto: ginanjar PAR/omahaksara.id

Terjemahan dari Bahasa Belanda ini menunjukkan utilitas kota masa lalu. Sehingga dengan papan nama jalan seperti ini, kita bisa belajar sejarah Kampung Eropa (kota lama Surabaya. Secara fisik, papan nama yang didukung desain tiang papan nama khusus bisa menambah ꦌꦱ꧀ꦠꦺꦠꦶꦏꦏꦺꦴꦠ estetika kota. Desain papan nama ini berbeda dari kawasan lain di kota Surabaya dan sekaligus penanda Kawasan Kampung Eropa.

Penggunaan ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ Aksara Jawa adalah upaya melestarikan sejarah dan budaya. Bahwa pada masa itu, Aksara Jawa sudah menjadi aksara komunikasi. Apalagi saat ini Walikota Surabaya, Eri Cahyadi, mempunyai kebijakan penggunaan Aksara Jawa di kantor kantor di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya.

Pembuatan ꦥꦥꦤ꧀ꦤꦩꦗꦭꦤ꧀ papan nama jalan ini masih dalam ranah pemerintah kota Surabaya sehingga dalam upaya revitalisasi kampung Eropa ini masih dapat dijangkau tanpa pelibatan pihak lain. (nanang PAR).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *