ꦠꦼꦩ꧀ꦧꦸꦁꦲꦤ꧀ꦝꦲꦤ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁꦩꦮꦶꦲꦠꦼꦂꦲꦠꦼꦂ
- Bunyi Sengau
- Apabila di awal kata dasar luluh, awalan bunyi sengaunya tidak ditulis menggunakan: ꦲ [ha]. Misalnya: ꦔꦠꦒ꧀ [ngatag], ꦤꦤ꧀ꦠꦁ [nantang], ꦚꦩ꧀ꦧꦼꦂ [nyambêr], ꦩꦿꦤꦠ [mranata]. Apabila diperlukan boleh ditulis: ꦲꦔꦠꦒ꧀ [angatag], ꦲꦤꦤ꧀ꦠꦁ [anantang], ꦔꦚꦩ꧀ꦧꦼꦂ [anyambêr], ꦲꦩꦿꦤꦠ [amranata].
- Apabila pada awal kata dasar tidak luluh, misalnya: ꦲꦤ꧀ꦢꦢꦂ [andadar], ꦲꦚ꧀ꦗꦏꦼꦠꦼꦠ꧀ [anjakêtêt], ꦲꦤ꧀ꦣꦼꦣꦼꦂ [andhêdhêr], ꦲꦁꦒꦶꦛꦶꦁ [anggithing], ꦲꦩ꧀ꦧꦸꦮꦁ [ambuwang], tidak boleh ditulis: ꦢꦢꦂ [dadar], ꦗꦏꦼꦠꦼꦠ꧀ [jakêtêt], ꦣꦼꦣꦼꦂ [dhêdhêr], ꦒꦶꦛꦶꦁ [githing], ꦧꦸꦮꦁ [buwang].
- Kata-kata kerja aktif yang awal kata dasarnya luluh dengan awalan bunyi sengau, apabila mendapat awalan: ꦥ [pa], awalan kata kerja aktif tersebut tidak diulang, misalnya: ꦥꦤꦼꦩ꧀ꦧꦃ [panêmbah], ꦥꦚꦼꦏꦼꦭ꧀ [panyêkêl], bukan ꦥꦤ꧀ꦤꦼꦩ꧀ꦧꦃ [pannêmbah], ꦥꦤ꧀ꦚꦼꦏꦼꦭ꧀[ [pannyêkêl].
- Bawa: ꦏ [ka].
Kata bawa: ꦏ [ka], yang awalannya tidak luluh dengan awal kata dasar, awalan: ꦏ [ka], harus dipepet, misalnya: ꦏꦼꦢꦢꦏ꧀ [kêdadak]. - Kata yang berawal aksara: ꦲ [ha], apabila diberi awalan: ꦥꦶ [pi], ꦥꦿꦶ [pri], tidak berubah, misalnya: ꦥꦶꦲꦁꦏꦸꦃ [piangkuh], ꦥꦶꦲꦮꦺꦴꦤ꧀ [piawon], ꦥꦶꦲꦭ [piala]. Yang menyimpang, awalnya berubah menjadi: ꦪ [ya], misalnya: ꦥꦶꦪꦒꦼꦩ꧀ [piyagêm], ꦥꦿꦶꦪꦺꦴꦁꦒ [priyăngga].
Sumber : Wewaton Sriwedari 1926