Nilai Nilai Luhur Aksara Jawa

11 April 2024 | 22 kali
Umum By : Nanang Purwono

Dua mahasiswa Jerman membawa oleh oleh Aksara Jawa dari Surabaya. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Omahaksara. id: Surabaya (11/4/24) – ꧋ꦣꦶꦄꦏꦸꦮꦶꦄꦠꦻꦴꦠꦶꦣꦏ꧀ꦧꦃꦮꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮꦩꦱꦶꦃꦧꦼꦂꦱꦸꦱꦃꦥꦪꦃꦧꦼꦂꦠꦲꦤ꧀ꦝꦶꦣꦸꦤꦶꦪ꧈ꦪꦁꦏꦶꦤꦶꦠꦼꦭꦃꦣꦶꦣꦺꦴꦩꦶꦤꦱꦶꦎꦭꦺꦃꦄꦏ꧀ꦱꦫꦭꦠꦶꦤ꧀꧈ꦄꦥꦭꦒꦶꦗꦶꦏꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮꦲꦫꦸꦱ꧀ꦧꦼꦂꦠꦲꦤ꧀ꦝꦶꦠꦼꦔꦃꦠꦼꦔꦃꦏꦺꦴꦩꦸꦤꦶꦠꦱ꧀ꦪꦁꦱꦔꦠ꧀ꦩꦺꦴꦣꦺꦂꦤ꧀‌ꦲꦺꦠꦼꦫꦺꦴꦒꦺꦤ꧀ꦝꦤ꧀ꦩꦸꦭ꧀ꦠꦶꦏꦸꦭ꧀ꦠꦸꦫꦭ꧀꧈

Diakui atau tidak bahwa Aksara Jawa masih bersusah payah bertahan di dunia, yang kini telah didominasi oleh aksara latin. Apalagi jika Aksara Jawa harus bertahan di tengah tengah komunitas yang sangat modern, heterogen dan multikultural.

Menyadari akan kondisi sosial – kultural seperti itu, maka ꦥꦼꦊꦱ꧀ꦠꦫꦶꦪꦤ꧀ pelestarian aksara Jawa harus dipandang sebagai langkah yang mutlak dan harus dipertahankan untuk menjaga keberlangsungan kebudayaan Jawa. Kebudayaan Jawa adalah kebudayaan dan identitas bangsa.

Pelestarian ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ Aksara Jawa tidak hanya sekedar memperkuat budaya bangsa, tetapi mempertahankan dan melestarikan Aksara Jawa merupakan bagian penting dalam pendidikan budi pekerti sehingga eksistensi penggunaan aksaranya harus tetap dijaga.

Aksara Jawa tidak sekedar literasi, yang harus ditulis dan dibaca, tapi harus pula dipahami ꦤꦶꦭꦻꦤꦶꦭꦻꦭꦸꦲꦸꦂ nilai nilai luhur yang dikandungnya. Aksara Jawa, yang juga dikenal dengan Hanacaraka, adalah tuntunan bagi kehidupan manusia.

Hanacaraka, yang kita gunakan secara umum sekarang, memiliki 20 Aksara dan terdiri dari empat baris. Baris pertama Ha Na Ca Ra Ka. Baris kedua Da Ta Sa Wa La, Baris ketiga Pa Dha Ja Ya Nya dan baris keempat Ma Ga Ba Tha Nga.

Aksara Jawa, dari Ha sampai Nga, memiliki makna filosofis berupa gambaran dan ꦲꦏꦶꦏꦠ꧀ꦲꦶꦣꦸꦥ꧀ hakikat hidup manusia di dunia. Menurut budayawan Surabaya, Christanto Wibisono, Hanacaraka bermakna sebagai berikut.

ꦲꦤꦕꦫꦏ Hanacaraka berarti “anane utusaning pangeran” atau adanya utusan Tuhan.

ꦣꦠꦱꦮꦭ Datasawala berarti “ora bisa suwala, kabeh wus ginaris ing kodrat” atau tidak bisa diingkari bahwa semuanya sudah menjadi kodrat atau ketetapan Tuhan.

ꦥꦣꦗꦪꦚ Padhajayanya berarti “kanthi tetimbangan kang pada sak jodo anane” atau Tuhan menciptakan sesuatu sesuai dengan pertimbangan dan berpasangan.

ꦩꦒꦧꦛꦔ Magabathanga bermakna “manungsa kinodrat dosa, lali, luput lan mati” atau manusia ditakdirkan memiliki dosa, lupa, kesalahan, dan kematian.

Jadi dengan ꦩꦼꦊꦱ꧀ꦠꦫꦶꦏꦤ꧀ melestarikan Aksara Jawa melalui menulis dan membaca serta menggali nilai nilai luhur yang terkandung di dalamnya, kita bisa menjaga budaya Jawa melalui Aksara secara utuh. (nanang PAR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *