Tantangan: Pengajuan Aksara Jawa Sebagai Domain Internet Pernah Ditolak.

20 April 2024 | 36 kali
Umum By : Nanang Purwono

Omahaksara.id: Surabaya (20/4/24) – ꧋ꦠꦸꦭꦶꦱꦤ꧀ꦆꦤꦶꦄꦣꦭꦃꦥꦼꦂꦗꦭꦤꦤ꧀ꦱ꧀ꦥꦶꦫꦶꦠꦸꦮꦭ꧀ꦧꦸꦣꦪꦱꦪꦣꦭꦩ꧀ꦩꦼꦚꦼꦭꦩꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ꧉ꦣꦼꦔꦤ꧀ꦩꦼꦭꦶꦲꦠ꧀ꦏꦼꦩ꧀ꦧꦭꦶꦩꦱꦭꦭꦸꦱꦪ꧈ꦱꦪꦩꦼꦩ꧀ꦧꦕꦩꦱꦣꦼꦥꦤ꧀ꦠꦼꦂꦏꦻꦠ꧀ꦝꦼꦔꦤ꧀ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ꧉ꦣꦶꦠꦸꦭꦶꦱ꧀ꦥꦣꦠꦁꦒꦭ꧀ꦗꦣꦶꦱꦪ꧉

Tulisan ini adalah perjalanan spiritual budaya saya dalam menyelami Aksara Jawa. Dengan melihat kembali masa lalu saya, saya membaca masa depan terkait dengan Aksara Jawa. Ditulis pada Tanggal Jadi saya.

Belum lama saya pergi ke ꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦠ Yogyakarta. Tepatnya pada 13-14 April 2024. Saya datang ke kota yang menjadi jantung budaya Jawa itu untuk menelusuri jejak Aksara Jawa yang menjadi simbol tulis bahasa Jawa. Memang saya temui tulisan Aksara Jawa di beberapa tempat sebagai nama jalan, nama toko dan nama gedung. Tetapi memang kalah jauh dibandingkan dengan penggunaan Aksara Latin.

Penggunaan Aksara Jawa seolah sebagai penanda masih eksisnya Aksara di pusat pemerintahan klasik Jawa di wilayah ꦩꦠꦫꦩ꧀ Mataram. Sedangkan bahasa Jawanya, yang saya dengar di sepanjang kaki saya melangkah di jalanan Yogyakarta dan di tempat tempat saya mencuci mata sudah ꦠꦼꦂꦣꦼꦱꦏ꧀ terdesak oleh bahasa Indonesia. Maklum, sebagai bahasa Nasional. Bisa dimaklumi.

Apalagi Yogyakarta adalah kota wisata yang mana banyak dikunjungi oleh orang dan pendatang dari luar Yogyakarta. Akhirnya warga setempat, misalnya saja tukang becak motor dan kusir andong yang berpakaian adat Jawa, harus ꦧꦼꦂꦏꦺꦴꦩꦸꦤꦶꦏꦱꦶ berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Saya sempat berhenti di pangkalan andong di jalan Malioboro sisi utara, berbicara dengan para kusir. Saya sengaja tidak memulai dan membuka percakapan. Saya biarkan mereka menyapa atau menawarkan jasanya kepada saya. Ternyata mereka membuka percakapan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Saya memaklumi nya. Karena mereka menyapa ꦮꦶꦱꦠꦮꦤ꧀ wisatawan yang dipikirnya tidak bisa menggunakan bahasa Jawa.

Kemudian saya berfikir dan membandingkan dengan di suatu tempat di negeri ꦏꦤꦣ Kanada, khususnya di provinsi Quebec, dimana warganya menggunakan bahasa Perancis. Saya bersama Mitra (counterpart) berjalan dan berhenti di sebuah toko serba ada seperti Indomaret atau Alfamart.

Tentu saya bicara memakai bahasa Inggris. Mereka tidak merespon. Entah mereka tidak bisa bahasa Inggris atau entah apa. Padahal saya di ibukota provinsi itu, Montreal. Kata Mitra saya, Stephen Ouellette, bahwa penjaga toko itu maunya saya ngomong pakai bahasa Perancis. Lalu Stephen ngomong pakai bahasa ꦥꦼꦫꦚ꧀ꦕꦶꦱ꧀ Perancis.

“Dia ini mengerti bahasa Inggris, tapi gak mau pakai. Maunya bahasa Perancis”, kata Stephen.

Pada saat saya di sana di awal tahun 1990-an, Kanada sedang berada di tahun politik dimana akan ada penjajahan ꦫꦺꦥ꦳ꦼꦫꦺꦤ꧀ꦝꦸꦩ꧀ referendum apakah Provinsi Quebec akan melepaskan diri menjadi negara tersendiri karena provinsi Quebec sangat berbeda dari provinsi lainnya di sana.

Lepas dari issue politik, bahwa warga Kanada dari etnis Perancis benar benar mempertahankan bahasa Perancisnya di Kanada.

Sekarang kembali ke jantung ꦧꦸꦣꦪꦗꦮ budaya Jawa, Yogyakarta. Warganya adaptive. Mungkin mereka menghormati demi pariwisata dan agar dapat menjajakan jasanya. Tapi mereka melepas alat komunikasinya dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia.

Nah jika penggunaan bahasa Jawa saja mengalami pergeseran, apalagi penggunaan Aksara Jawanya. Ini yang kemudian lambat laun pengguna Aksara Jawa mengalami ꦥꦼꦤꦸꦫꦸꦤꦤ꧀ penurunan.

Aksara Jawa Ditolak ICANN

Apa ICANN itu? ICANN adalah ꦎꦠꦺꦴꦫꦶꦠꦱ꧀ꦆꦤ꧀ꦠꦺꦂꦤꦺꦠ꧀ꦝꦸꦤꦶꦪ otoritas internet dunia Lembaga internet dunia, Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN).

Lembaga internet dunia ini menolak pengajuan Aksara Jawa sebagai domain internet. ICANN belum mengabulkan pendaftaran Aksara Jawa untuk mendapatkan domain internasional, lantaran aksara ini tidak banyak digunakan.

Pengajuan itu dilakukan oleh Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI). Kegagalan PANDI itu tentu bukan karena kurang gesitnya PANDI, tapi harus diakui memang aksara Jawa itu hampir tak ada lagi yang ꦩꦼꦁꦒꦸꦤꦏꦤ꧀ menggunakan.

Meski di kota Yogyakarta sendiri. Pendiri Komunitas Aksara Jawa di Yogyakarta Sega Jabung, Amrih Setya Prasaja, pernah mengatakan bahwa ia menghadapi kondisi sulit karena generasi muda di kota itu tidak mengerti baca dan tulis Aksara Jawa. Karenanya komunitas Aksara Jawa, ꦱꦼꦒꦗꦧꦸꦁ Sega Jabung, ada.

Jika pun mau ditelusuri, sebenarnya juga seberapa banyak ꦥꦼꦤꦸꦠꦸꦂ penutur Bahasa Jawa, terutama di kalangan generasi muda. Bilamana memang hendak memajukan aksara Jawa, sepertinya pihak PANDI pun menyadari, dalam sistem dan lingkungan seperti apa Aksara Jawa itu digunakan sejauh ini.

Lebih membingungkan lagi, bagaimana menemukan pengguna aksara Jawa itu sendiri, walau untuk menemukan penutur bahasa Jawa bukanlah hal sulit. Bahkan di kantong-kantong budaya Jawa sekalipun, sebutlah Solo dan Jogja, hari hari ini banyak dijumpai anak-anak balita malah dilatih berbahasa Indonesia oleh orang tuanya, bukan lagi bicara Berbahasa Jawa maupun mempelajari aksara Jawa. Apalagi dipaksa ꦧꦼꦂꦱꦻꦁ bersaing dengan bahasa dan huruf Arab dan bahasa Inggris, yang dengan huruf latinnya. Dibanding dua bahasa dan dua huruf itu, tentulah bahasa dan aksara Jawa kedodoran.

Otoritas Aksara Jawa

Dari kondisi yang ꦩꦼꦩ꧀ꦥꦿꦶꦲꦠꦶꦤ꧀ꦏꦤ꧀ memprihatinkan ini, maka timbul pertanyaan, siapakah yang memegang otoritas aksara Jawa itu? Bilamana ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ Aksara Jawa itu berlindung dengan masih adanya program studi Bahasa Jawa di berbagai kampus, sejauh mana peran mereka terhadap memperkuat daya tawar (bargaining position) bahasa dan aksara Jawa di kancah global?

Semua pertanyaan itu masih berada di ꦭꦺꦴꦫꦺꦴꦁꦒꦼꦭꦥ꧀ lorong gelap yang entah dimana ujungnya.

Surabaya sebagai kota modern dan multikultural telah memulai memberanikan diri melangkah. Filsuf Tiongkok, Lao Tzu, pernah mengatakan bahwa “Perjalanan seribu mil selalu dimulai dengan langkah pertama”. Kota Surabaya sudah memulai langkah pertamanya.

Demi ꦩꦼꦚ꧀ꦕꦥꦻ mencapai seribu mill, dibutuhkan banyak upaya untuk menghadapi tantangan. Untuk mengembalikan Aksara Jawa di Surabaya dibutuhkan kesabaran dan ketangguhan serta ikhtiar karena tantangan itu datangnya tidak hanya dari luar tapi dari dalam.

Bismillah, Allah, ꦒꦸꦱ꧀ꦠꦶꦱꦒꦸꦁꦣꦸꦩꦣꦶ Gusti Sagung Dumadi senantiasa melindungi dan mengijabah segala harapan makhluknya. (nanang PAR).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *