Pecinan ꦯꦸꦫꦨꦪ Surabaya (泗水 Su-Sui) Berkalang Empat Air.

24 December 2023 | 18 kali
Sejarah By : Nanang Purwono

Omahaksara.id: Surabaya (23/12/23) – Selama ini ada rasa penasaran mengapa Surabaya disebut Su-Sui (泗水) oleh kalangan warga Surabaya ꦌꦠ꧀ꦤꦶꦱ꧀ꦕꦶꦤ etnis Cina. Hanya waktu yang akhirnya berbicara

Kini, terjawab sudah rasa penasaran itu tentang ꦏꦩ꧀ꦥꦸꦁꦥꦼꦕꦶꦤꦤ꧀ Kampung Pecinan Surabaya. Ya, terkait awal kedatangan dan tempat pemberhentian para imigran dari daratan China di Surabaya, sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke pedalaman Jawa, maupun akhirnya bermukim di muara Pat-Shih-Kan.

Pat-Shih-Kan adalah nama lain ꦱꦸꦔꦻꦏꦭꦶꦩꦱ꧀ sungai Kalimas (Groenneveld). Pat-Shih-Kan adalah sungai kecil karena merupakan anak ꦱꦸꦔꦻꦧꦿꦤ꧀ꦠꦱ꧀ sungai Brantas.

Klenteng Hok An Kiong di jalan Slompretan dan jalan Coklat Surabaya. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Kampung Pecinan Surabaya berada di kawasan Kembang Jepun, jalan Karet, jalan ꦱ꧀ꦭꦺꦴꦩ꧀ꦥꦿꦺꦠꦤ꧀ Slompretan, Jalan Bongkaran dan sekitarnya. Di kawasan inilah wilayah konsentrasi pertama imigran China di Surabaya, yang letaknya di pinggir Pat-Shih-Kan atau Kalimas.

Gelombang kedatangan para ꦆꦩꦶꦒꦿꦤ꧀ imigran ini berlatar belakang yang berbeda beda dan berjalan dari kurun waktu mulai abad 13 hingga abad 19. Ada yang datang karena tujuan politik, perdagangan, sosial dan demi mencari penghidupan yang lebih baik dari negeri asalnya. 

Menurut beberapa sumber, salah satunya adalah “Mongol fleet on the way to Java: First archaeological remains from the Karimata Strait in Indonesia”, bahwa rute kedatangan mereka dari ꦣꦫꦠꦤ꧀ꦕꦶꦤ daratan Cina ke Pulau Jawa, termasuk singgah di Surabaya.

Rute itu adalah Guangzhou, Hainan, Champa, ꦏꦫꦶꦩꦠ Karimata, ꦤꦠꦸꦤ Natuna, ꦒꦼꦭꦩ꧀ Gelam, ꦏꦫꦶꦩꦸꦤ꧀ꦗꦮ Karimunjawa, ꦠꦸꦧꦤ꧀ Tuban, ꦒꦿꦼꦱꦶꦏ꧀ Gresik dan ꦯꦸꦫꦨꦪ Surabaya. Masih menurut Mongol fleet on the way to Java: First archaeological remains from the Karimata Strait in Indonesia”.

Kapan pun gelombang kedatangan mereka, mereka ternyata menuju dan akhirnya berdiam di titik kawasan yang sama. Kawasan itu kini dikenal dengan ꦏꦩ꧀ꦥꦸꦁꦥꦼꦕꦶꦤꦤ꧀ꦯꦸꦫꦨꦪ Kampung Pecinan Surabaya.

Letak Kampung Pecinan Surabaya berada di Timur sungai Kalimas di kawasan Kota tua Surabaya sekarang. Kampung Pecinan ini di bagian timur dibatasi oleh Kali Pegirian dan di bagian barat ada sungai Kalimas. Di utara ada kali kecil atau kanal yang menghubungkan Kalimas dan Pegirian. 

Kunjungan wisata ke Kampung Pecinan. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Kini, sungai kecil itu tu sudah mati dan berubah menjadi jalan, yang namanya Jalan ꦏꦭꦶꦩꦠꦶꦮꦼꦠꦤ꧀ Kalimati Wetan, Jalan ꦏꦭꦶꦩꦠꦶꦏꦸꦭꦺꦴꦤ꧀ Kalimati Kulon dan ꦏꦭꦶꦩꦭꦁ Kali Malang.

Sementara di selatan juga pernah ada sungai, yang menghubungkan Kalimas dan Kali Pegirian. Kini, sungai itu sudah mati dan berubah menjadi ꦗꦭꦤ꧀ꦱ꧀ꦠꦱꦶꦪꦸꦤ꧀ Jalan Stasiun.

Kampung Pecinan inilah, yang dinamakan 泗水 Su-Sui atau Si Shui. Secara harafiah Su Sui atau Si Shui berarti ꦄꦼꦩ꧀ꦥꦠ꧀ꦍꦂ Empat Air. Jika dikaitkan dengan kawasan Pecinan secara geografis alami, kawasan Pecinan ini adalah tempat, yang dibatasi oleh empat air atau ꦄꦼꦩ꧀ꦥꦠ꧀ꦱꦸꦔꦻ empat sungai.

Dari sisi linguistik, penulisan 水, yang berbunyi Si atau Su, berarti empat. Sedangkan aksara 泗, yang berbunyi Sue atau Shui, berarti air. Maka 泗水 yang dibaca Su-Sui berarti empat air (sungai).

Menurut Herwiratno 泗, ini artinya tidak sekedar air biasa, tetapi air yang ꦫꦣꦶꦏꦭ꧀ Radikal. Dalam mitologi agama Hindu, ada yang namanya ꦠꦶꦂꦠꦄꦩꦼꦂꦠ Tirta Amerta. Tirta Amerta adalah air kehidupan. Pun demikian dengan Air Radikal dalam pemaknaan 水 yang dibaca Sue atau Shui.

Jadi wmpat air atau empat sungai yang menjadi pembatas Kampung Pecinan ini adalah air atau sungai yang memiliki kekuatan yang tidak sekedar menghidupi fisik manusia, tetapi menghidupkan ruh manusia.

 

Diapit Klenteng

Tidak salah bahwa dua sungai besar di kawasan ini: sungai Kalimas di barat terdapat Klenteng Hok An Kiong (ꦱꦸꦏꦭꦺꦴꦏ Suka Loka) di Jalan Slompretan dan sungai Pegirian di timur terdapat Klenteng Hong Tiek Hian di jalan Dukuh. Tentu pembangunan kedua Klenteng di Kampung Pecinan ini memiliki makna ꦱ꧀ꦥꦶꦫꦶꦠꦸꦮꦭ꧀ spiritual untuk menjaga kawasan itu.

Hong Tiek Hian bisa diasumsikan seekor naga yang menjaga gerbang Timur setelah melewati Kali Pegirian. Sementara Hok An Kiong juga naga yang menjaga gerbang Barat setelah melewati Kalimas.

Karenanya pada zaman dulu, di jalan Kembang Jepun yang membujur Timur – Barat dan mengkoneksikan Kali Pegirian dan Kalimas pernah terdapat gapura berhias ꦤꦒ  naga.

Di era awal 2000 an, tepatnya tahun 2022 ketika dibuka Kya Kya Kembang Jepun, di kedua ujung jalan ini dibangun gerbang Kya Kya yang berhias ꦤꦒ naga.

Hingga kini, gerbang berhias ꦤꦒ naga itu masih menghiasi. Naga dalam sebuah mitologi Jawa maupun Cina adalah kekuatan spiritual yang menjaga sebuah kawasan, rumah dan lainnya yang ditempati oleh peradaban manusia.

Kampung Pecinan inilah yang bernama 泗水 Si Shui. Imigran Cina mengenal tempat itu adalah Surabaya. Pendek kata, ꦯꦸꦫꦨꦪ Surabaya adalah 泗水 Si Shui (empat air).

Kiranya selama ini sudah ada orang yang mengenal bahwa bahasa Mandarin nya ꦯꦸꦫꦨꦪ Surabaya adalah 泗水 Si Shui. Diyakini pula bahwa banyak orang tidak mengetahui bahwa Surabaya adalah 泗水 Si Shui.

Di dalam rumah abu Han di jalan Karet. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Ternyata 泗水 Si Shui tidak sekedar nama Mandarin dari Surabaya. Lebih jauh dari itu 泗水 Si Shui atau Kampung Pecinan adalah suatu tempat yang memiliki makna mitologi dan perlindungan bagi penghuninya.

Karenanya di lingkungan Klenteng Hong Tiek Hian di jalan Dukuh, di atas gapura yang menghadap ke jalan Dukuh terdapat tulisan beraksara Tionghoa 敬宗 yang berbunyi “Jing Zong” dan berarti “Menghormati keyakinan agama”.

Dalam terjemahan bebas bahwa dengan memasuki Gerbang Klenteng itu kita diajak untuk ꦩꦼꦁꦲꦺꦴꦂꦩꦠꦶ menghormati adanya kekuatan yang ada di dalamnya. Di dalamnya adalah peradaban manusia dengan segala kekuatan dan keyakinannya (nanang PAR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *