Jalan Tunjungan, Etalase ꦥꦼꦫꦣꦧꦤ꧀ Peradaban Bisnis Perkotaan

30 December 2023 | 31 kali
Sejarah By : Nanang Purwono

Jalan Tunjungan, Etalase ꦥꦼꦫꦣꦧꦤ꧀ Peradaban Bisnis Perkotaan

Omahaksara.id: Surabaya (30/12/23) –

Rek ayo rek, mlaku mlaku nang Tunjungan. Rek ayo rek rame rame bebarengan. Cak ayo cak, sopo gelem melu aku. Cak ayo cak, golek kenalan cah ayu….

Itulah sebait dari lagu legendaris ꦫꦺꦏ꧀ꦄꦪꦺꦴꦫꦺꦏ꧀ Rek Ayo Rek, ciptaan Is Haryanto yang dipopulerkan oleh Mus Mulyadi di tahun 70-an. Meski zaman telah berganti, lagu ini tetap populer dan tetap diperdengarkan dan didengar. Khusuanya di jalan Tunjungan sendiri, yang menjadi saksi sejarah segala zaman di surabaya.

Jalan ꦠꦸꦚ꧀ꦗꦸꦔꦤ꧀ Tunjungan memang pernah mengalami era keemasan sebagai kawasan elit dan bergengsi. Masanya adalah di era kolonial pada 1930 hingga pertengahan 1940-an. Eranya disebut era normal. Sebuah kehidupan, yang berjalan normal dan natural sebagai sebuah peradaban.

Jalan Tunjungan etalase bisnis, seni budaya. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Jalan Tunjungan menjadi sebuah etalase urban  ꦯꦸꦫꦨꦪ  Surabaya. Kala itu adalah etalase Eropanya Surabaya. Banyak hal tersedia di etalase ini mulai toko sepeda, musik, roti, bioskop, show room mobil, es krim hingga hotel. Hingga kini hotelnya tetap bertahan. Yaitu hotel Mojopahit.

Selama masa perang Surabaya pada 1945 Jalan Tunjungan mencekam. ꦆꦤ꧀ꦱꦶꦣꦺꦤ꧀ꦧꦼꦤ꧀ꦝꦺꦫ Insiden bendera membuat jalan Tunjungan memanas. Darah berceceran memerahkan jalan Tunjungan. Jeritan manusia, bising senapan dan raung pesawat pembom memekakkan telinga.

Pasca ꦥꦼꦫꦁꦯꦸꦫꦨꦪ Perang Surabaya, Jalan Tunjungan berangsur manata diri dan bangkit sebagai kawasan bisnis lagi. Salah satunya adalah gedung di pojokan jalan Tunjungan dan ꦒꦼꦤ꧀ꦠꦼꦁꦏꦭꦶ Gentengkali yang bernama Whiteaway Laidlaw atau Chiyoda. Kondisinya mangkrak karena rusak akibat perang. 

Kemudian tahun 1950-an, ada upaya untuk menasionalisasikan aset-aset asing oleh pemerintah Indonesia. Maka gedung itu pun menjadi hak milik Pemkot Surabaya. Pada dekade tahun yang sama, ada ꦭꦶꦩꦥꦼꦔꦸꦱꦲ lima pengusaha yang tertarik dengan gedung Whiteaway Laidlaw atau Chiyoda. 

Mereka berniat mengembalikan kejayaannya sebagai ꦥꦸꦱꦠ꧀ꦥꦼꦂꦣꦒꦔꦤ꧀ pusat perdagangan terbesar di Surabaya. Kelima orang ini adalah Soemitro, Ing Wibisono, Ong, Liem dan Ang. Kemudian disingkat menjadi SIOLA. Secara resmi, Siola dibuka dan diperkenalkan ke publik pada tahun 1964 (Jawapos.com)

SIOLA adalah salah satu penunjang keramaian di Jalan Tunjungan. Lainnya masih ada Bioskop Aurora dan hotel Majapahit serta Toko Buku ꦱꦫꦶꦄꦒꦸꦁ Sari Agung. Di tahun 1990-an, pusat perbelanjaan di Jalan Tunjungan redup seiring dengan munculnya mal mal di Surabaya seperti Tunjungan Plaza dan Surabaya Plaza. Semakin terpuruk lagi di tahun 2000 an ketika mal mal semakin menjamur di mana mana di Surabaya.

Terlalu sayang jika Tunjungan semakin terpuruk. Di era kepemimpinan walikota ꦠꦿꦶꦫꦶꦱ꧀ꦩꦲꦫꦶꦤꦶ Tri Rismaharini, jalan Tunjungan pernah ditata tapi kembali merana di tengah keramaian. Sampai akhirnya walikota baru Eri Cahyadi kembali menghidupkan dengan nama Tunjungan Romansa pada November 2021.

Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya secara resmi melaunching Kawasan Tunjungan sebagai ꦣꦺꦱ꧀ꦠꦶꦤꦱꦶꦮꦶꦱꦠ destinasi Wisata, pada Minggu (21/11/2021). Pembukaan bertema Tunjungan Romansa ini ingin menghidupkan kembali geliat perekonomian kota Surabaya yang sempat terhenti karena pendemi.

Setelah dua tahun berjalan, Tunjungan menjadi ramai dan sibuk. Perekonomian bergeliat dan koridor jalan Tunjungan gemerlap. Memasuki hari jumat sampai sabtu malam, ꦠꦸꦚ꧀ꦗꦸꦔꦤ꧀ꦩꦕꦼꦠ꧀ Tunjungan macet. 

Untuk mengoptimalkan kawasan itu, pemkot pun melengkapinya dengan suguhan ꦏꦸꦭꦶꦤꦺꦂ kuliner dari para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Surabaya. (nanang PAR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *