Prasasti Masjid Kemayoran dan Naskah Bureng Buka Sejarah Surabaya
3 January 2024 | 78 kali
Sejarah By : Nanang Purwono
Omahaksara.id: Surabaya (3/3/2024) – Pegiat budaya Aksara Jawa, ꦥꦸꦫꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷ Puri Aksra Rajapatni, melakukan penelusuran ke sebuah ꦏꦩ꧀ꦥꦸꦁꦏꦸꦤꦺꦴ kampung kuno di Surabaya sebagaimana disebut dalam sebuah naskah yang tersimpan di Qatar National Library (QNL) di kota Doha. Naskah ini ditulis pada hari Senin, 8 Rabi’ul Awwal tahun 1274 H atau 26 Oktober 1857 M.

Naskah ini berupa selembar catatan beraksara ꦥꦺꦒꦺꦴꦤ꧀ Pegon, yang menjadi bagian dari Al- Quran tulisan tangan, yang ditulis di Kampung Bureng (Surabaya). Penulis dan pemilik Al Quran beserta catatan (manuskrip) yang terdapat di halaman bagian akhir kitab Al Quran (halaman 402) itu bernama “Afaroaitum” yang berasal dari kampung ꦫꦗꦒꦭꦸꦃ Rajagaluh, yang waktu itu secara administratif berada di wilayah Karesidenan Cirebon.

Yang menarik bagi kota Surabaya adalah di dalam naskah itu tidak hanya ada penyebutan nama ꦏꦩ꧀ꦥꦸꦁꦧꦸꦉꦁ Kampung Bureng, tapi ada penyebutan Negeri Besar Surapringga. Nama dan penyebutan ꦤꦼꦒꦼꦫꦶꦧꦼꦱꦂꦱꦸꦫꦥꦿꦶꦁꦒ Negeri Besar Surapringga ini sama sebagaimana disebut dalam Prasasti Masjid Kemayoran (1773 – 1776 S) atau 1849 – 1852 M yang hingga sekarang masih tertempel pada tembok bagian dalam Masjid Kemayoran.
Pada masa itu wilayah administratif ꦱꦸꦫꦥꦿꦶꦁꦒ Surapringga adalah wilayah khusus, yang dikelola oleh bangsa pribumi yang berada dalam wilayah administratif ꦤꦺꦢꦼꦂꦭꦤ꧀ꦲꦶꦤ꧀ꦝꦶꦪ Hindia Belanda. Keistimewaan ini terwujud pada pembangunan Masjid oleh pemerintah Hindia Belanda untuk bangsa (umat) Islam di ꦱꦸꦫꦥꦿꦶꦁꦒ Surapringga.

Pada prasasti itu, mewakili Pemerintah Hindia Belanda ada nama nama pejabat pemerintah mulai tingkat nasional hingga tingkat lokal. Di tingkat nasional ada nama Gubernur Jendral Jan Jacob Rochussen, di tingkat Karesidenan Surabaya ada nama Residen Daniel Francois Willem Pietermaat dan di tingkat lokal ꦏꦧꦸꦥꦠꦺꦤ꧀ꦱꦸꦫꦥꦿꦶꦁꦒ Kabupaten Surapringga ada nama Raden Tumenggung Kramajayadirana.
Sebagaimana dikutip dari www.burengsby.com, bahwa Penulis menyebut jika dirinya menulis naskah tersebut di wilayah besar ꦧꦭꦢ꧀ꦏꦧꦷꦂ (balad kabîr) Surapringga. Surapringga sendiri merupakan sebuah nama kawasan lama bagi kota Surabaya.
Sebuah riwayat menyebutkan bahwa Masjid Kemayoran dibangun pada lahan yang sebelumnya pernah ada musala kecil sebagai acuan didirikan masjid. Pembangunan Masjid Kemayoran (Masjid Surapringga) Ini sebagai pengganti masjid yang dibongkar di ꦄꦭꦸꦤ꧀ꦄꦭꦸꦤ꧀ꦱꦸꦫꦥꦿꦶꦁꦒ alun-alun Surapringga.
Di Surapringga, pada abad ke-19 terdapat sebuah masjid besar, keraton dan alun-alun yang menjadi ikon wilayah tersebut. Saat ini, tidak lagi ditemukan bekas bangunan masjid, keraton dan bahkan alun-alun Surapringga. Sekarang, bekas kawasan tersebut sudah berubah menjadi kawasan ꦠꦸꦒꦸꦥꦃꦭꦮꦤ꧀ tugu pahlawan di kota Surabaya.
Di dalam manuskrip tersebut disebutkan ada nama seorang ulama dari ꦥꦼꦱꦤ꧀ꦠꦿꦺꦤ꧀ꦧꦸꦉꦁ Pesantren Bureng, yang bernama Kiyai Muhammad Syarof (Syarif), dan menjadi guru daripada “Afaroaitum” Rajagaluh. Afaroatum adalah penulis dan pemilik Al Quran dimana di dalamnya pada halaman 402 terdapat naskah tersebut.
Naskah, yang kini tersimpan di Qatar National Library ini, penting bagi kota Surabaya. Karenanya, dalam upaya pemajuan kebudayaan dimana didalamnya, Naskah, adalah salah satu dari 10 Objek Pemajuan Kebudayaan, ꦥꦸꦫꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷ Puri Aksara Rajapatni mulai mengkaji prasasti Aksara Jawa di Masjid Kemayoran.
Isi Prasasti dan Naskah
Berikut isi ꦥꦿꦱꦱ꧀ꦠꦶꦩꦱ꧀ꦗꦶꦢ꧀ꦏꦼꦩꦪꦺꦴꦫꦤ꧀ Prasasti Masjid Kemayoran (1773 -1776 S) atau 1849 – 1852 M.


꧅ꦥꦸꦤꦶꦏꦱꦶꦃꦥꦼꦥꦫꦶꦁꦔꦶꦥꦸꦤ꧀ꦏꦁꦗꦼꦁꦒꦸꦥꦼꦂꦤꦼꦩꦺꦤ꧀ꦝꦸꦩꦠꦼꦁꦱꦫꦸꦥꦶꦤ꧀ꦤꦶꦁꦧꦺꦴꦁꦱꦄ꦳ꦶꦱ꧀ꦭꦩ꧀ꦏꦭꦥꦶꦤꦫꦶꦁꦔꦏꦼꦤ꧀ꦮꦲꦸꦢꦸꦏ꧀ꦤꦭꦶꦏꦥꦤ꧀ꦗꦼꦤꦼꦁꦔꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦏꦁꦗꦼꦁꦠꦸꦮꦤ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁꦮꦶꦕꦏ꧀ꦱꦤꦗꦤ꧀ꦗꦏꦺꦴꦧ꧀ꦫꦺꦴꦒ꦳ꦸꦱꦶꦤ꧀ꦒꦸꦂꦤꦢꦸꦂꦗꦺꦤ꧀ꦢꦿꦭ꧀ꦲꦶꦁꦠꦤꦃꦤꦺꦢꦼꦂꦭꦤ꧀ꦲꦶꦤ꧀ꦝꦶꦪꦩꦶꦱ꧀ꦡꦼꦂꦝꦤꦶꦄ꦳ꦺꦭ꧀ꦥ꦳ꦿꦤ꧀ꦱ꧀ꦮꦮꦶꦭ꧀ꦭꦩ꧀ꦥꦶꦠꦼꦂꦩꦠ꧀ꦫꦺꦱꦶꦝꦺꦤ꧀ꦲꦶꦁꦱꦸꦫꦦꦿꦶꦁꦒꦭꦤ꧀ꦫꦢꦾꦤ꧀ꦡꦸꦩꦼꦁꦒꦸꦁꦏꦿꦩꦗꦪꦢꦶꦫꦤꦨꦸꦦꦠꦶꦲꦶꦁꦤꦼꦒꦫꦶꦱꦸꦫꦦꦿꦶꦁꦒꦏꦭꦏꦪꦱꦥꦶꦤꦸꦗꦸꦮꦂꦱ꧇꧑꧗꧗꧓–꧗꧖꧇ꦏꦁꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦲꦪꦱꦗꦤ꧀ꦮꦶꦭ꧀ꦭꦼꦩ꧀ꦨꦂꦠꦸꦭꦸꦩꦾꦸꦱ꧀ꦮꦂꦝꦼꦤꦂ
“Punika asih pĕparingipun Kangjĕng Gupĕrnĕmen dhumatĕng sarupining bangsa Islam kala pinaringakĕn wau duk nalika panjĕnĕnganipun Kangjĕng Tuwan ingkang wicaksana Jan Jakob Roghusin (Jan Jacob Rochussen) Gurnadur Jendral ing tanah Nedĕrlan Indhiya, Mistĕr DHaniel Franswa Willam Pitĕrmat (Daniel Francois Willem Pietermaat) Residhen ing Surapringga, lan Radyan Tumĕnggung Kramajayadirana Bupati ing Nĕgari Surapringga kala kayasa pinuju warsa 1773–76 kang sampun ayasa Jan Willĕm Bartulumyus Wardhĕnar (Johannes Willem Bartholomeus Wardenaar). (Hasil pembacaan omahaksara.id, 3/1/24)
Berikut isi ꦩꦤꦸꦱ꧀ꦏꦿꦶꦥ꧀ꦧꦸꦉꦁ Manuskrip Bureng (1274 H) atau 1856 M.

“Wallâhu a’lam bi al-shawâb wa al-khata. Selesai menulis kitab al-Qur’an al-Karim ini pada hari / Senin, bulan Rabi’ul Akhir [tanggal] 15. Pemilik naskah al-Qur’an ini adalah “Afaroaitum” / dari negeri besar [karesidenan] Cirebon, dari desa Rajagaluh. Kitab ini ditulis / di negeri besar Suropringgo [Surabaya], di dalam kampung p.k.w.t [Pakutan] ? mulai / menulisnya. Adapun guru [saya] bernama Kiyai Muhammad Syarof. / Adapun [?] menulis ada di kampung Bureng. Selesai pada hari Senin / bulan Rabi’ul Awal tanggal 8, tahun Hijrah Nabi Saw dari Makkah ke Madinah 1274, bertepatan dengan tahun [Jawa Mataram] Jimakir”. (burengsby.com dan Diaz Nawaksara).
Demikianlah dua sumber yang bisa dikembangkan untuk kota Surabaya. (nanang PAR)