Revitalisasi: Kota ꦏꦮꦏ꧀ Kawak atau Kota ꦭꦮꦱ꧀ Lawas Surabaya ?

20 December 2023 | 23 kali
Opini By : Nanang Purwono

Omahaksara.id: Surabaya (20/11/23) – Jakarta punya ꦏꦺꦴꦠꦠꦸꦮ Kota Tua. Semarang punya ꦏꦺꦴꦠꦭꦩ Kota Lama. Surabaya ingin berbeda. Maka, munculah kata “Lawas” dan disebutlah Surabaya ꦏꦺꦴꦠꦭꦮꦱ꧀ Kota Lawas untuk mengiringi revitalisasi kawasan kota Surabaya, yang sudah ada selama berabad abad.

Untuk pilihan diksi agar setara dengan “tua” (Jakarta) dan “lama” (Semarang), maka untuk Surabaya selain ada kata “lawas”, ada pula ꦏꦮꦏ꧀ “kawak”. Kata “kawak” menurut KBBI berarti sudah tua atau sudah lama sekali dan termasuk jenis kata sifat.

Maka ada dua pilihan penyebutan untuk Surabaya agar tidak sama dengan Jakarta dan Semarang. Yaitu Surabaya ꦏꦺꦴꦠꦏꦮꦏ꧀ Kota Kawak atau Surabaya ꦏꦺꦴꦠꦭꦮꦱ꧀ Kota Lawas. Menurut penulis, kata yang lebih bagus adalah “Kawak”.

“Kawak” dibolak balik tetap kawak. Secara phonetik juga enak didengar dan puitis jika berfrasa dalam ꦱꦸꦫꦧꦪꦏꦺꦴꦠꦏꦮꦏ꧀ “Surabaya Kota Kawak”. Kata kawak sangat local wisdom dan lebih langka dari pada kata “lawas”. Ini sih, masih pendapat penulis.

Apapun diksinya, lawas dan kawak, semuanya akan merujuk pada kawasan kota Surabaya yang sudah mulai terbentuk sejak adanya peradaban di sana. Di mana? Di kawasan ꦗꦼꦩ꧀ꦧꦠꦤ꧀ꦩꦺꦫꦃ꧈ꦥꦼꦕꦶꦤꦤ꧀ꦝꦤ꧀ꦄꦩ꧀ꦥꦺꦭ꧀ Jembatan Merah, Pecinan dan Ampel.

Kawasan Pecinan, yang dikenal dengan Se Sui yang berarti “Empat Air” yang dalam pemahaman literatur dan kebudayaan Tionghoa, adalah Surabaya. Kawasan ini sudah ada sejak masuknya bangsa Mongol di akhir abad 13.

Kawasan Kota Kawak atau Lawas Surabaya lainnya adalah ꦏꦩ꧀ꦥꦸꦁꦄꦩ꧀ꦥꦺꦭ꧀ Kampung Ampel, bukan Arab. Kampung Ampel ini mulai ada dan ramai sejak masuknya ꦫꦣꦺꦤ꧀ꦫꦃꦩꦠ꧀ Raden Rahmat pada pertengahan abad 15, yang kemudian mendirikan ꦩꦱ꧀ꦗꦶꦣ꧀ꦄꦩ꧀ꦥꦺꦭ꧀ Masjid Ampel.

Sedangkan Kawasan Kawak atau Lawas lainnya adalah Kawasan Eropa yang berada di barat Sungai ꦏꦭꦶꦩꦱ꧀ Kalimas dan berada di seberang Kampung Pecinan. Kawasan ini lebih muda dari Pecinan dan Ampel. Bangsa Eropa mulai membangun kawasan permukiman yang diawali dengan sebuah pos dagang lalu jadi ꦧꦺꦤ꧀ꦠꦺꦁꦩꦶꦭꦶꦠꦺꦂ benteng militer pada tahun 1677 (Asia Maior: Surabaja 1900-1950).

Dalam perkembangan kekinian, Kawasan Pecinan dan Kawasan Ampel sudah ada sentuhan dari Pemerintah Kota Surabaya dalam bingkai Revitalisasi. Sudah berjalan.

Selanjutnya Pemerintah Kota Surabaya akan menyentuh Kawasan Eropa yang berada di barat Sungai Kalimas.

 

Revitalisasi Kampung Eropa

Kawasan Kampung Eropa Surabaya secara teritorial dapat diidentifikasi dengan jelas. Jejak dari awal pembangunan kota di abad 17 oleh bangsa Eropa, khususnya ꦧꦼꦭꦤ꧀ꦝ Belanda, masih tersisa. Selain berupa jalan yang menjadi jejak keberadaan ꦠꦺꦩ꧀ꦧꦺꦴꦏ꧀ꦏꦺꦴꦠ tembok kota, juga bangunan bangunan kolonial di antara bekas ꦠꦥꦭ꧀ꦧꦠꦱ꧀ꦏꦺꦴꦠ tapal batas kota itu. 

Bekas tapal batas kota tidak berubah hingga sekarang. Jejaknya di sebelah selatan adalah Jalan ꦕꦼꦤ꧀ꦝꦿꦮꦱꦶꦃ Cendrawasih dan jalan  Merak. Di tapal batas Barat ada jalan Krembangan Timur hingga ke Utara memotong jalan ꦫꦗꦮꦭꦶ Rajawali. Di tapal batas Utara ada jalan ꦒꦫꦸꦣ Garuda. Sedangkan tapal batas Timur ada Sungai Kalimas sebagai batas alami kota.

Kunjungan peneliti Belanda di Kampung Eropa Surabaya dengan didampingi Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, AH Thony (kiri). Foto: nanang/omahaksara.id

Sementara bangunan bangunan yang ada di dalam tembok kota sudah banyak mengalami perkembangan sesuai zaman dan bahkan arsitekturnya. Jika diamati, disana banyak bangunan yang bergaya modern peninggalan awal hingga pertengahan abad 20. Selain itu masih ada tiga unit bangunan dari abad 19 dengan gaya indisch nya. Di depan bangunan terdapat pilar pilar sebagaimana ada di jalan ꦩ꧀ꦭꦶꦮꦶꦱ꧀ Mliwis dan pojokan jalan ꦧꦿꦚ꧀ꦗꦔꦤ꧀ꦫꦗꦮꦭꦶ Branjangan-Rajawali. 

Selain itu, di Kawasan Kampung Eropa Surabaya ini masih menyisakan bangunan bangunan kuno yang diduga dari abad 18. Secara fisik dan arsitektur, gayanya sederhana. Struktur bangunan lancip dan memuncak ke atas. Modelnya ꦥꦼꦭꦤꦏꦸꦣ pelana kuda, menyosor (miring) ke depan dan belakang. Pada bagian depan berpenampilan simetris. Satu pintu di tengah, diapit dua jendela di samping kiri dan kanan. Bangunan tidak memiliki halaman rumah. Langsung menghadap ke jalan.

Dibandingkan dengan ꦏꦺꦴꦠꦠꦸꦮꦗꦏꦂꦠ Kota Tua Jakarta dan ꦏꦺꦴꦠꦭꦩꦱꦼꦩꦫꦁ Kota Lama Semarang, Kota Kawak atau Lawas Surabaya, khususnya Kampung Eropanya, relatif masih dalam kondisi baik dan aktif. Yaitu digunakan sebagai perkantoran yang di depannya ramai dilewati kendaraan lalu lintas.

Dalam skema revitalisasi ini, kiranya ada yang perlu mendapat perhatian meski kondisi fisik masih baik. Yaitu yang bisa menambah nuansa ꦏꦺꦴꦠꦏꦮꦏ꧀ Kota Kawak atau Lawas untuk bisa lebih dinikmati dan dikunjungi.

Menurut pandangan penulis setelah membandingkan (studi banding) dengan Kota Lama Semarang, Kota Tua Jakarta, Kota Warisan Budaya ꦥꦫꦩꦫꦶꦧꦺꦴ Paramaribo Suriname dan Kota Bertembok Amersfoort Belanda, penanganan Kota Eropa Surabaya jauh lebih gampang (secara fisik).

Icon arsitektur di Kota Eropa Surabaya, Gedung Singa. Foto: nanang/omahaksara.id

Yang bisa dilakukan oleh Pemkot Surabaya adalah penataan Trotoar dengan pilihan batu yang khas agar berbeda dengan trotoar lainnya di Surabaya. Design PJU yang dapat disesuaikan dengan model tempo dulu yang pernah ada di Surabaya. Jika museum De Javasche Bank bisa, kenapa Pemkot Surabaya gak bisa. 

Penggunaan pencahayaan pada malam hari untuk menerangi point point penting di kawasan Kota Eropa. Juga pemanfaatan tiang PJU sebagai sarana pemasangan media informasi yang berisi narasi tentang bangunan dan lingkungan. Tidak lupa penempatan kursi kursi taman untuk menunjang sarana Kota Eropa agar pengunjung nyaman dalam menikmati kawasan ini. Ini diantara yang perlu mendapatkan perhatian Pemerintah kota dalam revitalisasi kawasan Kota Eropa Surabaya.

Yang tidak kalah pentingnya adalah peran serta para pengelola, pemilik dan pengguna bangunan ꦕꦒꦂꦧꦸꦣꦪ cagar budaya di kawasan Kampung Eropa ini. Mereka harus suportif terhadap program bersama untuk kota Surabaya. Ketika aset mereka telah ditetapkan sebagai cagar budaya, maka ada sisi dimana peruntukan aset itu adalah untuk publik. Misal untuk tujuan tujuan pendidikan, ilmu pengetahuan, penelitian, kebudayaan dan pariwisata sebagaimana diamanatkan oleh UU 11/2010 tentang ꦕꦒꦂꦧꦸꦣꦪ Cagar Budaya.

Karenanya, pengelola cagar budaya bisa welcome terhadap pengunjung gedung yang ingin melihat dan menikmati cagar budaya. Selama ini pengunjung mengalami kesulitan untuk mengakses gedung gedung cagar budaya, apalagi gedung gedung yang tidak dihuni seperti  ꦒꦼꦣꦸꦁꦱꦶꦔ  Gedung Singa dan eks Penjara Kalisosok. 

Contoh pengelola yang baik adalah pengelola Rumah Abu Han yang selalu welcome terhadap pengunjung asalkan ada pemberitahuan dan izin terlebih dahulu. Pasalnya, gedung yang berada di kawasan Pecinan di jalan ꦏꦫꦺꦠ꧀ Karet ini tidak dibuka setiap hari tapi ada penjaga yang siap membukakan pintu.

Kini, jika Kampung Eropa akan di revitalisasi, maka revitalisasi itu tidak hanya fisik belaka tapi juga revitalisasi sumber daya manusia (SDM) yang terkait dan bersinggungan dengan Kampung Eropa agar semuanya bisa berjalan. (nng).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *