Kolaborasi Budaya: ꦮꦶꦱ꧀ꦩꦗꦼꦂꦩꦤ꧀ Wisma Jerman – Phillip Marburg Universiteit Jerman – FISIP Unair – Puri Aksara Rajapatni 

9 March 2024 | 31 kali
Umum By : Nanang Purwono

Mahasiswa Jerman mengenal Aksara Jawa. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Omahaksara. id: Surabaya (9/3/24) – Tidak kurang dari tiga puluh mahasiswa dari Phillip Marburg Universiteit Jerman pada Kamis dan Jumat (7-8/3/24) mengunjungi Surabaya dalam Program Surabaya Cultural Odyssey. Kedatangan mereka ini atas kerjasama dengan Wisma Jerman, yang menggandeng Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Airlangga serta komunitas Aksara Jawa, ꦥꦸꦫꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷ Puri Aksara Rajapatni sebagai mitra penguat.

Pada hari pertama, Kamis (7/3/24) mereka terlebih dahulu mengunjungi Museum Ethnografi Universitas Airlangga untuk mengenal geo kultural terkait dengan pola pola pemakaman serta koleksi tulang dan tengkorak manusia untuk mengenal ꦱꦺꦴꦱꦶꦪꦺꦴꦭꦺꦴꦒꦶꦏꦸꦭ꧀ꦠꦸꦫꦭ꧀ sosiologi kultural peradaban manusia.

Mengunjungi . Useum Kematian di Unair. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Setelah itu, mereka diterima di aula ꦄꦣꦶꦱꦸꦏꦣꦤ Adi Sukadana di lingkungan kampus FISIP Unair. Perwakilan dari masing masing pihak terkait seperti Dhahana Adi (Wisma Jerman), Markus Hassler (Phillip Marburg Universiteit Jerman), Probo Darono Yekti (FISIP Unair) dan Nanang Purwono (Puri Aksara Rajapatni) menyampaikan pandangannya dalam program Surabaya Cultural Odyssey ini.

Markus Hassler berterima kasih atas sambutan pihak Fakultas Ilmu Sosial dan Politik kepada para mahasiswa dari Universitas Phillips Marburg Jerman. Ia berharap ꦏꦼꦂꦗꦱꦩ kerjasama lintas lembaga peduli budaya ini dapat memberikan bekal bagi para mahasiswa, yang datang dan belajar tentang budaya Indonesia, terutama budaya Jawa Timur.

Sementara itu mewakili ꦩꦲꦱꦶꦱ꧀ꦮ mahasiswa Jerman, Flo, mengatakan bahwa budaya Jawa Timur sangat beragam sebagai mana diketahui dari paparan yang disajikan oleh BEM FISIP Unair. Secara khusus adalah budaya Surabaya.

Mewakili komunitas budaya ꦥꦸꦫꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷ Puri Aksara Rajapatni, Nanang Purwono, menjelaskan tentang pentingnya melestarikan Aksara Jawa yang keberadaanya tersaingi oleh Aksara Latin sehingga Aksara Jawa menjadi hidup segan mati tak mau alias mati suri.

Nanang berterima kasih karena telah diajak kolaborasi untuk melestarikaan dan memperkenalkan budaya Jawa, khususnya ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ Aksara Jawa, kepada para mahasiswa Jerman. Aksara Jawa adalah bentuk budaya Jawa, yang tidak hanya diampu oleh Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah, tapi Jawa Timur khususnya Surabaya juga berhak mengampu kearifan lokal ini.

Untuk melihat aktualisasi keberadaan ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ Aksara Jawa, rombongan mahasiswa Jerman ini sempat diajak keliling kota ketika menuju ke tempat tempat penting di Surabaya dalam kaitannya dengan budaya Surabaya. Pada hari Kamis (7/3/24) mereka mengunjungi Museum Ethnografis Unair, lalu Kampung Lawas Maspati dan terakhir ke Balai Pemuda Surabaya.

Dalam perjalanan, mereka mengamati ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ Aksara Jawa yang telah berdiri menghiasi Taman Apsari dan Kantor DPRD Kota Surabaya. Tambahan visualisasi lebih nyata lagi ketika mereka berkunjung ke Kampung Lawas Maspati di kawasan Bubutan Surabaya.

Kampung Lawas ꦩꦱ꧀ꦥꦠꦶ Maspati adalah sebuah wisata Kampung urban yang menyajikan sejarah Kampung, penghijaun Kampung, pendayagunaan masyarakat Kampung dan pemanfaatan tanaman sebagai bahan olahan yang bernilai ekonomis serta pelestarian permainan tradisional.

Kedatangan rombongan mahasiswa Jerman ini disambut meriah olah warga kampung. Setelah turun dari bus, mereka diberi kalungan sarung dan mahkota udeng Surabaya. Diramaikan suguhan musik akustik, pembuatan minuman cincau, permainan tradisional dan memasuki rumah rumah Lawas. Salah satunya gedung Lawas yang dulu pernah dipakai ꦱꦼꦏꦺꦴꦭꦲꦤ꧀ sekolahan.

Mahasiswa Jerman senang bisa mengenal Aksara lokal sebagai bagian dari belajar geo kultural di Surabaya. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Di dalam gedung ꦱꦼꦏꦺꦴꦭꦲꦤ꧀ sekolahan inilah para mahasiswa menemukan papan tulis bertuliskan Aksara Jawa Ha Na Ca Ra Ka (Carakan). Di tempat ini, mereka mengenal lebih dekat lagi Aksara Jawa. Mereka pun belajar mengenal literasi Lawas yang hanya terdiri dari 20 Aksara.

Nanang menjelaskan kepada mahasiswa Jerman bahwa Aksara Jawa adalah salah satu dari ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦤꦸꦱꦤ꧀ꦠꦫ Aksara Nusantara yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan bahasa bahasa daerah di Indonesia.

Joel Lehmann, mahasiswa semester 6, senang bisa melihat dari dekat Aksara Jawa karena sebelumnya ia melihat ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ Aksara Jawa dari jauh. Di tempat itu, dia bisa mengamati Aksara per Aksara. Menurutnya Aksara Jawa unik dan menarik.

Tidak lupa, Joel menyempatkan berfoto dengan latar belakang papan tulis berlatar belakang ꦕꦫꦏꦤ꧀ Carakan. Ia pun mengajar rakan rekannya untuk berfoto bersama dengan latar belakang Aksara Jawa.

Untuk melengkapi ꦏꦸꦚ꧀ꦗꦸꦔꦤ꧀ꦧꦸꦣꦪ kunjungan budaya, mereka dijadwalkan mengunjungi wisata religi Ampel pada Jumat, 8 Februari 2024. Di penghujung acara, pihak pihak terkait: Wisma Jerman, Phillip Marbrug, FISIP Unair dan Rajapatni sepakat melanjutkan giat budaya lintas lembaga dan lintas negara, terkait dengan pelestarian Aksara Jawa. (nanang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *