Menengok Commewijne Suriname, ꦣꦶꦱ꧀ꦠꦿꦶꦏ꧀ꦏꦼꦩ꧀ꦧꦂ  Distrik Kembar Yogyakarta.

21 December 2023 | 20 kali
Fitur By : Nanang Purwono

Omahaksara.id: Surabaya (21/12/23) – Penulis pernah menjelajah Kota ꦥꦫꦩꦫꦶꦧꦺꦴ Paramaribo dan distrik distrik lainnya di negeri  ꦱꦸꦫꦶꦤꦩ꧀  Suriname pada 2016. Berikut catatan lawas penulis (2016) yang masih relevan sekarang (2023) dari Suriname.

Kunjungan penulis dalam sebuah reportase di Districk Commeweijne, Suriname (2016). Foto: doc penulis/omahaksara.id

Bahasa Jawa tidak hanya dipakai di Indonesia, khususnya di ꦥꦸꦭꦻꦴꦗꦮ pulau Jawa. Ternyata ada tempat tempat lain di dunia ini yang sebagian warganya menggunakan ꦧꦲꦱꦗꦮ bahasa Jawa. Mereka adalah masyarakat Jawa yang sudah turun temurun bermukim dan bahkan lahir di negara itu, di luar pulau Jawa, ꦆꦤ꧀ꦝꦺꦴꦤꦺꦱꦶꦪ Indonesia.

Di negara Suriname misalnya, ꦧꦁꦱꦗꦮ bangsa Jawa mulai mendiami negara itu sejak 1890-an. Mereka dibawa dari pulau Jawa untuk dipekerjakan di ꦥꦼꦂꦏꦼꦧꦸꦤꦤ꧀ꦠꦼꦧꦸ perkebunan tebu sebagai buruh kontrak di negeri yang jauh disana. Bahkan mereka tidak tau kemana harus pergi kala itu. Mereka dibawa oleh ꦏꦥꦭ꧀ꦄꦥꦶ kapal api berbulan bulan lamanya.

Aktivitas warga di Districk Commeweijne yang tidak ubahnya tradisi di Jawa. Foto: doc penulis/omahaksara.id

Di sebuah distrik yang bernama Distrik Commewijne, penduduknya mayoritas ꦌꦠ꧀ꦤꦶꦱ꧀ꦗꦮ  etnis Jawa. Disinilah sebuah pabrik Gula itu berada dan tidak jauh dari ꦥꦧꦿꦶꦏ꧀ꦒꦸꦭ pabrik Gula terdapat komplek perumahan ꦆꦩꦶꦒꦿꦱꦶ imigrasi orang orang Jawa. Rumah rumahnya seperti di komplek ꦠꦿꦤ꧀ꦱ꧀ꦩꦶꦒꦿꦱꦶ transmigrasi di Sumatera. Hingga tahun 2016 ketika penulis datang ke sana, sebagian besar perumahan itu masih ada.

Menurut tokoh etnis Jawa, yang berprofesi sebagai seorang ꦣꦭꦁ dalang, ꦱꦥ꧀ꦠꦱꦺꦴꦥꦮꦶꦫ Sapto Sopawiro, bangsa Jawa mulai masuk ke Suriname pada 1890 dan berangsur hingga tahun 1939. Dia sendiri sudah terhitung generasi kedua. Ia lahir dari pasangan asal Pulau Jawa. Sebelum aktif di dunia ꦥꦼꦮꦪꦔꦤ꧀ pewayangan, Sapto bekerja pada sebuah perusahaan kapal dan perusahaan tambang.

Meski hidup di daerah dan negara baru, mereka tetap memelihara tradisi dan seni ꦧꦸꦣꦪꦗꦮ budaya Jawa. Namanya saja keluarga dalang, berbahasa Jawanya ya seperti di tanah Jawa.

Ayahnya bernama Ponco Sadeyo, seorang dalang asal ꦱ꧀ꦭꦺꦩꦤ꧀ Sleman yang diangkut Pemerintah Belanda menggunakan sebuah kapal bernama ꦗꦼꦩ꧀ꦧꦼꦂ Jember ke Suriname. Sementara itu ibunya, Jumiyem, adalah warga ꦱꦭ Solo, yang juga menggunakan kapal yang sama dalam kelompok keberangkatan di tahun yang berbeda. Di kemudian hari mereka bertemu dan lahirlah bayi Sapto Sopawiro pada 1932.

Moncong moncong meriam siaga di Benteng New Amaterdam. Foto: nanang/omahaksara.id

Di District Commewijne ini berdiri benteng besar. Namanya benteng New Amsterdam. Secara alami benteng ini terlindungi oleh gundukan tanah. Seperti Benteng Pendem. Pada gundukan tanah yang menghadap ke sungai berdiri moncong moncong meriam yang siap menghujam lawan. 

Sementara di dalam area benteng masih berdiri sejumlah bangunan dan peralatan ꦄꦂꦠꦶꦊꦫꦶ artileri yang pernah memperkuat benteng. Tidak ketinggalan di sana terdapat sebuah ruangan yang menjadi simbolis distrik kembar antara Commewijne dan kota Yogyakarta. Kedua distrik (kota) ini terus memelihara hubungan karena kesamaan etnis hingga sekarang. 

Dikutip dari warta.yogyakarta.go.id, disebutkan bahwa Pemkot Yogyakarta sudah sejak beberapa tahun lalu menjalin hubungan baik dengan Suriname. Salah satunya dengan pengembangan hubungan ꦏꦺꦴꦠꦏꦼꦩ꧀ꦧꦂ Kota Kembar (sister-city partnership) antara Kota Yogyakarta dengan salah satu daerah di Republik Suriname yaitu distrik Commewijne. (nanang)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *