Inskripsi ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ Aksara Jawa Tertua di Surabaya.

22 December 2023 | 36 kali
Fitur By : Nanang Purwono

Omahaksara.id: Surabaya (22/12/23) – Jejak Aksara Jawa diꦏꦺꦴꦠꦯꦸꦫꦨꦪ kota Surabaya jelas kentara. Letaknya di sebuah tempat yang agung. Yaitu di salah satu masjid besar di kawasan pusat kota lama Surabaya. Namanya ꦩꦱ꧀ꦗꦶꦣ꧀ꦏꦼꦩꦪꦺꦴꦫꦤ꧀ Masjid Kemayoran.

Inskripsi beraksara Jawa berangka tahun 1772-1776 Jawa atau pada kisaran 1848 M di Masjid Besar Kemayoran Surabaya. Foto: nanang/omahaksara.id

Aksara Jawa ini dalam bentuk prasasti pendirian masjid Kemayoran. Didirikan pada 1848 oleh pemerintah ꦲꦶꦤ꧀ꦝꦶꦪꦧꦼꦭꦤ꧀ꦝ Hindia Belanda yang diwakili oleh pejabat mulai dari tingkat pusat hingga tingkat lokal. Mereka adalah Gubernur Jenderal J.J. Rochussen, Residen Surabaya Daniel Franscois Willem Pietermaat dan Bupati Surabayaꦫ ꦣꦺꦤ꧀ꦠꦸꦩꦼꦁꦒꦸꦁꦏꦿꦩꦗꦪꦣꦶꦫꦤ Raden Tumenggung Kromodjoyodirono.

Pembangunan masjid ini dilakukan secara gotong royong dengan bangsa (umat) ꦆꦱ꧀ꦭꦩ꧀ Islam di Surabaya. Ada tokoh tokoh Islam dan juga warga Islam. Bagi mereka yang berkecukupan secara finansial, mereka menyumbangkan dana ꦈꦮꦁ uang. Sedangkan bagi mereka yang kurang berkecukupan secara finansial menyumbangkan ꦠꦼꦤꦒ tenaga.

Sebuah foto lama, yang disimpan di dalam kantor yayasan masjid yang beralamat di Jalan Indrapura Surabaya, menunjukkan tim pembangunan masjid. Mereka adalah tokoh tokoh ꦧꦁꦱꦆꦱ꧀ꦭꦩ꧀ bangsa Islam di Surabaya.

Yang menarik dari masjid Besar, yang awalnya disebut ꦫꦻꦴꦣ꧀ꦭꦠꦸꦭ꧀ꦩꦸꦱꦾꦮꦫꦃ Raudlatul Musyawarah adalah prasasti yang berdasar dan berframe serta bertulis Aksara Jawa dari logam tembaga. Dalam bahasa Jawa berbunyi:

“Puniko sih peparinganipun Kanjeng Gubernemen Landa dhumateng sarupining bangsa Islam, kala pinaringaken wau duk nalika panjenenganipun Kanjeng Tuwan ingkang wicaksono Jan Jacob Ruchussen, Gubernur Jendral ing tanah Nederlan Hindia; Mister Daniel Franscois Willem Pietermaat, Residen ing Surapringgo; Radyan (Raden) Tumenggung Kramajoyodirono, bupati ing negari Surapringga. Kala kayasa pinuju warsa: 1772-1776  kang sampun ayasa Van Willem Bartulumeus War De Nar”.

Artinya: Ini adalah pemberian pemerintah Belanda kepada segenap umat Islam. Pemberian ini dimasa Yang Terhormat: Tuan yang Bijaksana Jan Jacob Rochussen, Gubernur Jendral Hindia Belanda; Tuan Daniel Franscois Willem Pietermaat, Residen di Surapringgo (Surabaya); Raden Tumenggung Kramajoyodirono, bupati di negara Surapringga (Surabaya). Ketika itu tertanda tahun 1772-1776 oleh Van Willem Bartulumeus War De Nar.

Prasasti ini berukuran panjang kira kira 2 meter dan lebar 60 cm dengan posisi tertempel pada tembok masjid sisi selatan. ꦩꦱ꧀ꦗꦶꦣ꧀ꦏꦼꦩꦪꦺꦴꦫꦤ꧀ Masjid Kemayoran ini mengalami 3 kali renovasi yang buktinya bisa diamati hingga sekarang.

Bukti adanya proyek pembangunan pengembangan masjid pada 1935. Foto: nanang/omahaksara.id

Bangunan masjid hasil pembangunan tahun 1848 berupa bangunan utama masjid yang berbentuk segi delapan (oktagonal). Tahap kedua pembangunan masjid berdasarkan kutipan berita koran Soerabaiasch Handelsblad tertanggal 18 Juli 1934, adalah  pembangunan perluasan Masjid pada 1935.

Pada tahap berikutnya juga merupakan perluasan masjid ke arah Timur yang mengambil bagian dari lapangan luas yang dulunya adalah ꦄꦭꦸꦤ꧀ꦄꦭꦸꦤ꧀ꦏꦧꦸꦥꦠꦺꦤ꧀ꦯꦸꦫꦨꦪ Alun Alun Kabupaten Surabaya. Kini lapangan alun alun berubah fungsi menjadi ꦱꦼꦏꦺꦴꦭꦲꦤ꧀ sekolahan. SMA Ta’miriyah dan SMPN 2 Surabaya. Alun Alun Surabaya ini dulunya sangat luas. 

Saka Guru penyangga bangunan masjid yang masih menggunakan langgam kolonial. Foto: nanang/omahaksara.id

Ruang utama masjid ini disanggah oleh 4 ꦱꦏꦒꦸꦫꦸ saka guru (konsep Jawa) yang berbentuk kolom kolom silinder khas Eropa yang umum dari abad 19 di Hindia Belanda. Kemudian setiap sisi oktagon berlelung motif (arsitektur) gotik.

ꦄꦂꦱꦶꦠꦺꦏ꧀ꦠꦸꦂꦒꦺꦴꦠꦶꦏ꧀ Arsitektur Gotik adalah gaya arsitektur yang digunakan selama abad pertengahan tengah dan akhir. Gaya ini berevolusi dari arsitektur Romanesque dan diteruskan oleh arsitektur Renaisans. Arsitektur ini berasal dari ꦥꦼꦫꦚ꧀ꦕꦶꦱ꧀ Perancis abad ke-12.

Prasasti Masjid Raudhatul Musyawarah atau Masjid Kemayoran ditempatkan pada bagian selasar bangunan lama (1848). Meski usia prasasti ini hampir 200 tahun, kondisinya masih sangat baik. Aksara Jawa, yang memuat informasi pembangunan masjid, dalam kondisi prima. Inilah ꦆꦤ꧀ꦱ꧀ꦏꦿꦶꦥ꧀ꦱꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ inskripsi Aksara Jawa tertua di Surabaya. (nanang)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *