Membayangkan Jalan Jalan di Alam Pedesaan Surabaya (Naditira Pradesa)

30 December 2023 | 57 kali
Fitur By : Nanang Purwono

Omahaksara.id: Surabaya (30/12/23) – Membayangkan, menurut Wikikamus, artinya menggambar sesuatu dalam pikiran. Yang tau ꦒꦩ꧀ꦧꦫꦤ꧀ gambaran atas sesuatu itu hanya orang yang membayangkan. Kecuali orang itu menceritakan kepada orang lain. Tetapi bayangan itu tidaklah nyata.

Membayangkan itu biasanya atas sesuatu yang bersifat imajinatif yang tidak nyata. Tetapi juga membayangkan atas sesuatu yang pernah ada. Karena pergantian zaman dan ꦥꦼꦫꦸꦧꦲꦤ꧀ perubahan di lingkungan sekitar, maka sesuatu yang bersifat fisik itu menjadi tiada. 

Sungai alami di Surabaya yang sudah berusia ratusan tahun. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Surabaya di abad 13 sudah sangat berbeda dengan ꦯꦸꦫꦨꦪ Surabaya di abad 21. Banyak yang telah berganti dan hilang. Keadaan alam pun sudah banyak perubahan. Kira kira hanya yang dibuat oleh Tuhan yang masih kekal kecuali kiamat mendatang. Di Surabaya, sesuatu yang diciptakan Tuhan adalah sungai. Contohnya sungai Kalimas dan Pegirian. 

Mereka masih ada tetapi sebagian juga mengalami perubahan. Terkadang sungai pun juga bisa hilang seperti sungai

Peninggalan peradaban maritim Majapahit di Surabaya, Tambangan. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Banyuurip. Karena telah dipasang box culvert yang diatasnya menjadi jalan. Ada juga kali kali yang hilang dan berubah menjadi jalan karena perkembangan dan kebutuhan zaman. Contohnya jalan ꦏꦭꦶꦩꦠꦶ Kalimati dan Kalisosok.

Surabaya, menurut prasast iꦕꦁꦒꦸ Canggu 1358 M, digambarkan sebagai sebuah desa di tepian sungai (naditira pradesa). Sekarang Surabaya menjadi sebuah kota raksasa yang menelan sungai itu sendiri. Dulu Surabaya menempel di tepi sungai. Sekarang Surabaya melingkupi sungai itu sendiri.

Menurut beberapa sumber, dulu Surabaya itu indah, asri dan cantik secara alami. Sampai sampai dalam kunjungan ꦫꦗꦲꦪꦩ꧀ꦮꦸꦫꦸꦏ꧀ Raja Hayam Wuruk di Wilayah Timur Jawa, sang Raja mampir ke Surabaya pada 1365 M. Ini tersebut dalam pujasastra Kakawin Nagarakretagama yang ditulis oleh Empu Prapañca.

“Yan ring Janggala lot shaba nepati ring Syurabhaya manurus mare Buwun”, artinya kalau di Jenggala (Hayam Wuruk) selalu singgah di Surabaya, kemudian meneruskan ke Buwun. (Kakawin Nagarakretagama, pupuh 17: 5c-d).

Di era kolonial pimpinan VOC, yang bertempat tinggal di gedung negara Huiz van Simpang (sekarang Grahadi) dan berkantor di Resident Kantoor di kawasan Jembatan Merah sekarang, selalu menyempatkan keliling Surabaya dengan menggunakan kereta kuda. Mereka terkagum oleh ꦏꦼꦆꦤ꧀ꦝꦲꦤ꧀ keindahan alam Surabaya. 

Di sana, keindahan alam di daerah aliran sungai (DAS), penuh dengan keindahan alami alam ꦥꦼꦣꦺꦱꦄꦤ꧀ pedesaan. Apalagi dari Surabaya dapat dilihat pemandangan alam pegunungan ke arah selatan kota. Adalah pemandangan alam Gunung Penanggungan.

Meski Surabaya tidak punya gunung, namun dataran tinggi Kupang dan ꦒꦸꦤꦸꦁꦱꦫꦶ Gunungsari sebagai bagian dari deretan Pegunungan Kendeng juga merupakan bagian keindahan alam Surabaya.

Karenanya di dataran tinggi ꦏꦸꦥꦁ Kupang dibangun sebuah lodji pada abad 18, yang kini dikenal dengan rumah Hantu. Di sekitar Rumah Lodji ini dulunya adalah kawasan pemakaman Cina, yang biasanya memang memilih tempat indah dan tinggi sebagai simbol dekat nirwana. Kebiasaan pemilihan tempat itu terjadi hingga sekarang.

Surabaya sebagai sebuah desa tidak hanya dikenal di era klasik, tetapi juga di era kolonial. Secara administrasi Surabaya, yang berkalang tembok, sudah dikenal sebagai kota bertembok dan menjadi ibu kota ꦏꦫꦺꦱꦶꦣꦺꦤꦤ꧀ꦯꦸꦫꦨꦪ Karesidenan Surabaya. 

Membayangkan Surabaya sebagai sebuah desa yang indah bukan sebuah mimpi atau halusinasi. Surabaya memang sebagai sebuah desa yang indah.

Perbukitan Gunungsari. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Sekarang kita membayangkan alangkah indahnya bisa berjalan jalan di desa Surabaya yang asri dan indah alami. Semua yang bisa merasakan ꦧꦼꦂꦗꦭꦤ꧀ꦗꦭꦤ꧀ berjalan jalan di alam pedesaan Surabaya pasti senang.

Suasana ini mengingatkan sebuah lagu  nostalgia yang berjudul “Bukit Berbunga”.

Di bukit indah berbunga, Kau mengajak aku kesana. Memandang alam sekitarnya, karena senja telah tiba…..

Kita pun turun bersama, Melintasi jalan setapak. Tanganmu kau peluk di pundak, Membawa aku melangkah……

Tak lupa kau petik, bunga warna ungu, lalu kau selipkan di rambutku.

Itulah gambaran desa Surabaya yang indah, yang mirip dengan lirik lagu Bukit Berbunga.

Sementara itu, berjalan jalan di tepian Kalimas yang kadang kadang diselingi dengan perahu menyusuri tempat tempat penting. Misal dari Wonokromo ke ꦏꦼꦥꦸꦠꦿꦤ꧀ Keputran yang juga dikenal sebagai kawasan permukiman royal family. 

Perbedaan atas perubahan dari alami ke betonisasi. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Lahan ꦥꦼꦂꦱꦮꦲꦤ꧀ persawahan juga luas membentang, yang berfatamorgana. Kawasan persawahan Surabaya dengan air yang mengalir sepanjang hari dari Sungai Brantas memberi gambaran kemakmuran desa agraria yang sudah dikenal di era Majapahit.

Berdirinya pabrik pabrik gula di Surabaya juga mempertegas kekayaan alam Surabaya dimana ꦭꦣꦁꦠꦼꦧꦸ ladang tebu di mana mana. Di Surabaya tercatat ada Pabrik Gula yang diantaranya adalah PG. Darmo, Ketabang, Gubeng, Ngagel, Karah dan Ketintang. Ladang kebun tebu ini tidak kalah dari Sidoarjo, Nganjuk, Kediri, Jombang dan Mojokerto.

Tidak ketinggalan kawasan dan dataran tinggi Pegunungan ꦏꦼꦤ꧀ꦝꦼꦁ Kendeng di kawasan Gunung Sari sehingga orang orang Belanda tertarik dengan mendirikan padang golf disana yang bernama Yani Golf sekarang.

Betapa indahnya bisa jalan jalan di desa Surabaya. (nanang PAR)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *