Imlek, Tradisi dan ꦥꦺꦴꦭꦶꦠꦶꦏ꧀ Politik

11 February 2024 | 107 kali
Fitur By : Nanang Purwono

Memandang sepi di keramaian hati. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Omahaksara.id: Surabaya (11/2/24) – Jalanan di kawasan Pecinan Surabaya sepi pada hari pertama di Tahun Baru Imlek 2575 Kongzili, yang jatuh pada hari Sabtu, 10 Februari 2024. Tahun baru penanggalan Tionghoa ini merupakan Tahun Shio Naga, tepatnya Tahun ꦤꦒꦏꦪꦸ Naga Kayu.

Dalam budaya Tionghoa, Naga melambangkan kehormatan, ketangguhan serta keberuntungan. ꦤꦒ Naga dianggap sebagai makhluk pembawa keberuntungan dan luar biasa serta tidak tertandingi dalam bakat dan keunggulannya.

Imlek menjadi salah satu perayaan ꦲꦫꦶꦧꦼꦱꦂ Hari Besar di Indonesia, yang sangat ditunggu tunggu oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Di hari itu, ada saat bersama sama secara kolosal di mana mana memanjatkan doa. Isi doanya bermacam macam. Ada yang berdoa demi mewujudkan impian dan cita cita. Ada pula yang berdoa untuk bersama sama membangun masa depan yang lebih baik. Tidak ketinggalan berdoa juga demi kesejahteraan dan keberuntungan yang melimpah.

Lengang di Jalan Kembang Jepun dan Jalan Dukuh. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Keyakinan dan tradisi Tionghoa ini lestari di Indonesia, termasuk di Surabaya. Mereka meluangkan hari itu demi tradisi dan tentu saja keyakinan dalam hidup. Karenanya jalanan di Surabaya, tepatnya di Kampung Pecinan terlihat lengang. Misalnya di jalan Kembang Jepun dan ꦗꦭꦤ꧀ꦝꦸꦏꦸꦃ jalan Dukuh

Jalan Dukuh adalah sisi kawasan Pecinan bagian Timur, dekat dengan Kali Pegirian. Kawasan Pecinan Surabaya dikenal dengan nama Si Shui (Empat Air atau Sungai). Di Barat ada Kalimas, di Timur ada Kali Pegirian, di utara ada kanal penghubung Kalimat dan Pegirian yang kini sudah mati dan menjadi nama Jalan Kalimalang, Kalimati Kulon dan Kalimati Wetan. Sementara di sisi Selatan sudah berubah menjadi jalan yang bernama Jalan ꦱ꧀ꦠꦱꦶꦪꦸꦤ꧀ꦏꦺꦴꦠ Stasiun Kota.

Di Klenteng Hok Tiek Hian, yang langsung menghadap Jalan Dukuh terdapat gapura Klenteng yang bertuliskan Aksara China. Artinya Selamatlah bagi mereka yang memasukinya. Setelah memasuki ꦒꦥꦸꦫ gapura ini, maka masuklah mereka ke altar altar persembahyangan.

Doa doa mereka berkisar pada keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan. Sementara api pada lilin lilin berbagai ukiran berwarna merah memiliki makna khusus. Yakni sebagai penerang menjalani kehidupan setahun ke depan. Masyarakat Tionghoa meyakini lilin lilin ini menjadi ꦲꦫꦥꦤ꧀ harapan agar kehidupan yang dijalani dapat berjalan dengan mudah dan lancar.

Lorong jalan Dukuh. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Itulah setidaknya ꦲꦫꦥꦤ꧀ harapan dan doa yang dipanjatkan di Klenteng Hok Tiek Hian di Jalan Dukuh Surabaya. Dalam mendekati hari Pemilihan Umum, yang jatuh pada Rabu, 14 Februari 2024, bukan tidak mungkin warga etnis Tionghoa juga berpikir tentang keselamatan bangsa ini. Sekarang warga etnis Tionghoa sudah banyak yang menjadi wakil wakil rakyat. (nanang PAR).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *