Prinsip Jepang Dalam Melestarikan Budaya

18 March 2024 | 25 kali
Fitur By : Nanang Purwono

Tradisi Jepang di zaman moderen. Foto: ist PAR

Omahaksara.id: Surabaya (18/3/24) – Jepang adalah salah satu negara maju di duniaL etaknya di ujung barat ꦱꦩꦸꦣꦿꦥꦱꦶꦥ꦳ꦶꦏ꧀ Samudra Pasifik, berdekatan dengan negara negara Asia. Salah satunya Indonesia.

Mirip seperti Indonesia. Negaranya terdiri dari pulau pulau (kepulauan) dan tentu saja dikelilingi oleh lautan. Penduduknya 128 juta orang, membuat   ꦗꦼꦥꦁ Jepang menjadi negara dengan negara penduduk terbanyak ke-10 di dunia. 

Tidak seperti di Indonesia, Jepang memiliki 4 musim yakni semi, gugur, dingin dan panas. Selama musim semi, Jepang identik dengan bunga ꦱꦏꦸꦫ sakura yang mekar dengan indahnya. Surabaya menanam bunga Tabebuya, memiripkan diri agar serupa dengan Jepang. 

Jalin persahabatan budaya Surabaya dan Jepang. Konjen (kanan) dan wakil konjen Jepang (kiri) di Surabaya  bersama Pendiri Puri Aksara Rajapatni, Ita Surojoyo. Foto: nanang PAR

Jepang dan Indonesia, khususnya Surabaya, secara historis memiliki persamaan. Menurut pejabat ꦏꦺꦴꦤ꧀ꦱꦸꦭꦠ꧀ꦗꦼꦥꦁ Konsulat Jepang di Surabaya, Ishii Yutaka, bahwa masyarakat   Jepang sudah berdiam di Surabaya pada akhir abad 19. Jejak masa lalu Jepang di Surabaya masih terukir. Salah satunya adalah seb uah makam warga Jepang di pemakaman Peneleh, yang dibuka tahun 1847.

Dari buku koleksi Ishii Yutaka, diceritakan bahwa terdapat sejumlah perusahaan dan toko toko Jepang di kawasan Kota Tua Surabaya yang kala itu sebagai pusat perdagangan dan administrasi kota ꦯꦸꦫꦨꦪ Surabaya

Jepang saat ini merupakan ꦤꦼꦒꦫꦩꦗꦸ negara maju teknologi, yang salah satu dari  kemajuan itu adalah mengembangkan kereta shinkansen hingga robot. 

Kendati demikian, Jepang masih kental dengan berbagai budaya dan tradisi seperti makanan tradisional, ꦏꦶꦩꦺꦴꦤꦺꦴ kimono, rumah tradisional hingga berbagai acara lokal. 

 

Jaga Tradisi

Masyarakat Jepang memiliki prinsip hidup yang kuat. Prinsip ini dikenal dengan nama Prinsip Bushido. Prinsip itu diterapkan sehari hari. 

Bushido merupakan serangkaian peraturan atau kode yang memuat prinsip ꦩꦺꦴꦫꦭ꧀ moral. Bushido sendiri merupakan sebuah kode etik kesatriaan golongan Samurai dalam feodalisme Jepang. 

Para samurai Jepang. Foto: ist PAR/omahaksara.id

Bushido berasal dari nilai-nilai moralꦱꦩꦸꦫꦻ samurai, yang paling sering menekankan beberapa kombinasi dari kesederhanaan, kesetiaan, penguasaan seni bela diri, dan kehormatan sampai mati. (Dekan FKIP Uhamka: Agustus 13, 2021).

 

Ada 7 prinsip dalam Bushido:

Pertama, Gi (義 – Kebajikan)

Gi memiliki arti ꦏꦼꦧꦗꦶꦏꦤ꧀ kebajikan atau kebaikan. Hal ini adalah sesuatu hal yang sering menjadi bunga-bunga nasihat. Namun sayang pada praktiknya, tidak banyak manusia yang benar-benar mau melakukan kebajikan. Lewat filosofi ini, kita diajak untuk menjadi pribadi yang jujur dalam setiap tindakan.

Kita perlu memahami bahwa keadilan itu tidak datang dari orang lain, tapi dari diri sendiri. Jangan berharap seseorang bisa bersikap adil jika kita sendiri tidak bisa mempraktekannya. Bagi seorang samurai, tidak ada tingkatan keadilan atau kejujuran. Hanya ada hitam dan putih, kejujuran dan kebohongan. Tidak ada yang namanya ‘white lie’.

 

Kedua, Yū (勇 – Keberanian)

Berani dalam menghadapi kesulitan. Keberanian merupakan sebuah karakter dan sikap untuk bertahan demi prinsip kebenaran yang dipercayai meski mendapat berbagai tekanan dan kesulitan. ꦏꦼꦧꦼꦫꦤꦶꦪꦤ꧀ Keberanian juga merupakan ciri para samurai, mereka siap dengan resiko apapun termasuk mempertaruhkan nyawa demi memperjuangkan keyakinan.

Keberanian mereka tercermin dalam prinsipnya yang menganggap hidupnya tidak lebih berharga dari sebuah bulu. Namun demikian, keberanian samurai tidak membabi buta, melainkan dilandasi latihan yang keras dan penuh disiplin.

 

Ketiga, Jin (仁 – Kemurahan hati)

Memiliki sifat ꦏꦱꦶꦃꦱꦪꦁ kasih sayang. Bushido memiliki aspek keseimbangan antara maskulin (yin) dan feminin (yang). Jin mewakili sifat feminin yaitu mencintai. Meski berlatih ilmu pedang dan strategi berperang, para samurai harus memiliki sifat mencintai sesama, kasih sayang, dan peduli.

Kasih sayang dan kepedulian tidak hanya ditujukan pada atasan dan pimpinan namun pada kemanusiaan. Sikap ini harus tetap ditunjukan baik di siang hari yang terang benderang, maupun di kegelapan malam. Kemurahan hati juga ditunjukkan dalam hal memaafkan.

 

Keempat, Rei (礼 – Menghormati) 

ꦲꦺꦴꦂꦩꦠ꧀ Hormat kepada orang lain. Seorang Samurai tidak pernah bersikap kasar dan ceroboh, namun senantiasa menggunakan kode etiknya secara sempurna sepanjang waktu. Sikap santun dan hormat tidak saja ditujukan pada pimpinan dan orang tua, namun kepada tamu atau siap pun yang ditemui. Sikap santun meliputi cara duduk, berbicara, bahkan dalam memperlakukan benda ataupun senjata.

 

Kelima, Makoto (信 – Kejujuran dan Ketulusan) 

Seorang Samurai senantiasa bersikap ꦗꦸꦗꦸꦂ Jujur dan Tulus mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran. Para ksatria harus menjaga ucapannya dan selalu waspada tidak menggunjing, bahkan saat melihat atau mendengar hal-hal buruk tentang kolega.

Samurai mengatakan apa yang mereka maksudkan, dan melakukan apa yang mereka katakan. Mereka membuat janji dan berani menepatinya.

 

Ke-enam, Meiyo (名誉 – Kehormatan)

Bagi samurai cara menjaga ꦏꦼꦲꦺꦴꦂꦩꦠꦤ꧀ kehormatan adalah dengan menjalankan kode bushido secara konsisten sepanjang waktu dan tidak menggunakan jalan pintas yang melanggar moralitas. Seorang samurai memiliki harga diri yang tinggi, yang mereka jaga dengan cara prilaku terhormat. Salah satu cara mereka menjaga kehormatan adalah tidak menyia-nyiakan waktu dan menghindari prilaku yang tidak berguna.

 

Ketujuh, Chūgo (忠義 – Kesetiaan)

Kesetiaan ditunjukkan dengan dedikasi yang tinggi dalam melaksanakan tugas. ꦏꦼꦱꦼꦠꦶꦪꦄꦤ꧀ Kesetiaan seorang ksatria tidak saja saat pimpinannya dalam keadaan sukses dan berkembang. Bahkan dalam keadaan sesuatu yang tidak diharapkan terjadi, pimpinan mengalami banyak beban permasalahan, seorang ksatria tetap setia pada pimpinannya dan tidak meninggalkannya.

Dari ketujuh Prinsip Bushido ini, sebenarnya tidak berbeda dari nilai nilai kejawen yang umum di Nusantara. Apakah nilai nilai moral itu kuat dijalankan di negeri sendiri? 

Jepang tidak takut mempertahankan dan mengaplikasikan tradisi di tengah tengah arus modernisasi. 

Ada negara lain dimana tradisinya sudah hilang terbawa arus. Bagaimana dengan Surabaya? (nanang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *