Penamaan Nama Jalan Sebagai Penunjang ꦫꦺꦮ꦳ꦶꦠꦭꦶꦱꦱꦶ Revitalisasi Kampung Eropa

16 January 2024 | 107 kali
Sejarah By : Nanang Purwono

Omahaksara.id: Surabaya (16/1/24) – Papan Nama Jalan merupakan salah satu struktur atau ꦈꦠꦶꦭꦶꦠꦱ꧀ utilitas pelengkap jalan, yang memiliki fungsi sebagai ꦆꦣꦺꦤ꧀ꦠꦶꦠꦱ꧀ identitas jalan dan memberi informasi kepada warga atau pengguna jalan.

Jalan Jembatan Merah (dh. Willemkade). Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Untuk memberikan arti, papan nama jalan bisa dimaksimalkan manfaatnya sebagai sarana eksposisi ꦱꦼꦗꦫꦃ sejarah. Tidak semua nama jalan menunjukkan keberadaan tempat tempat penting di suatu daerah atau kota.

Di kota ꦯꦸꦫꦨꦪ Surabaya, khususnya di kawasan Kota Eropa, pada era kolonial, nama nama jalan menunjukkan adanya fasilitas dan utilitas kota. Kawasan Kota/Kampung Eropa Surabaya ini memiliki luas sekitar 4 – 5 hektar.

Litografi peta kota Surabaya 1750. Dok: nanang PAR/omahaksara.id

Luasan Kampung Eropa ini dibatasi oleh tembok yang berbentuk kotak (persegi). Batas (tembok) selatan kini menjadi Jalan Cendrawasih dan Jalan Merak. Batas (tembok) Barat kini menjadi Jalan ꦏꦿꦼꦩ꧀ꦧꦔꦤ꧀ꦠꦶꦩꦸꦂ Krembangan Timur. Batas (tembok) Utara, kini menjadi Jalan Garuda. Sedangkan batas Timur adalah Sungai Kalimas (tidak ada tembok).

Lukisan Kota Surabaya 1750. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Sementara jalan jalan di dalam ꦠꦺꦩ꧀ꦧꦺꦴꦏ꧀ꦏꦺꦴꦠ tembok kota, hingga kini (selama 275 tahun) tidak mengalami perubahan. Di era kolonial, di jalan jalan itu terdapat fasilitas dan utilitas kota penting yang ditandai dengan nama jalan.

Berikut nama nama jalan itu.

  1. Heerenstraat (jalan para Tuan), Poros utama jalan Daendel ⇒ Jl. Rajawali.
  2. Willemskade (Dermaga Willem) = pernah ada dermaga sungai ⇒ Jl. Jembatan Merah
  3. Roomesche Katolijkerk Straat (Jl. Gereja Katolik Roma) = pernah ada gereja katolik. ⇒ Jl Cendrawasih.
  4. Komedistraat (Jalan Komedi) = pernah ada gedung pertunjukan komedi ⇒ Jl. Merak.
  5. Boomstraat (Jl. Kepabeanan) pernah ada kantor kepabeanan di ujung utara jalan ini. ⇒ Jl. Branjangan dan Kasuari
  6. Dwaarboomstraat (Jl. Kepabeanan Samping) =  karena di ujung timur pernah ada kantor duane. ⇒ Jl Mliwis (timur).
  7. Oudehospitaalstraat (jl.Rumah Sakit Lama) karena pernah ada RS VOC di ujung barat jalan ini. ⇒ Jl Mliwis (barat).
  8. Paradesteeg (Gang Parade) karena di depan gang ini pernah ada lapangan parade militer (depan polres). ⇒ jalan Merpati.
  9. Suesteeg (Gang Nona ) karena pernah ada gang yang dihuni oleh nona nona cantik. ⇒ jalan Jalak
  10. Benaudesteeg (Gang berbau) karena jalan ini ada di belakang deretan pabrik. ⇒ Jalan Prenjak.
  11. Elbogstraat (jalan bersiku) karena jalan ini modelnya siku L. ⇒ jalan Elang.
  12. Schoolstraat dan Bankastraat (jalan Sekolahan dan jalan Bank) karena pernah ada sekolahan dan bank. ⇒ jalan Garuda.
  13. Willemstraat (jalan Raja Willem) karena dekat alun alun sebagai penghormatan Raja Willem. ⇒ Jalan Pangeran Jayengrono
  14. Willemsplein (Alun Alun Willem) karena pernah ada alun alun. ⇒ Taman Pangeran Jayengrono dan kini menjadi Taman Sejarah.
  15. Stadhuizsteeg (Gang Balai Kota) karena pernah ada Balai Kota. ==> jl. Gelatik.
  16. Heerensteeg (Gang Para Tuan) karena pernah ada kediaman para pejabat pemerintah. ==> Jalan Kedali.

Sejarah peradaban ꦏꦺꦴꦠꦯꦸꦫꦨꦪ kota Surabaya sebagaimana terdeskripsi pada nama nama lama kiranya bisa ditampilkan kembali dalam penataan kawasan Kota Eropa dan dwngan tidak melupakan kearifan lokal yang pernah ada sebelumnya. Yaitu Aksara Jawa.

Jalan Mliwis (dh. Dwaarsboomstraat). Foto: PAR / omahaksara.id

Maka seiring dengan Revitalisasi Kawasan Eropa, akan menjadi tindakan yang bijak bila Nama baru, nama lama (Belanda) dan ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ Aksara Jawa bisa tertampilkan dalam satu frame pada nama jalan.

Media papan nama jalan tidak sekedar penunjuk identitas sekarang tapi bisa dimanfaatkan sebagai media informasi ꦱꦼꦗꦫꦃꦥꦼꦫꦣꦧꦤ꧀ꦏꦺꦴꦠ sejarah peradaban kota.

Di atas adalah contoh pembuatan papan nama tersebut. (nanang PAR)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *