Ishii Yutaka: ꦮꦂꦒꦗꦼꦥꦁ Warga Jepang di Surabaya Jauh Sebelum Tahun 1940-an.

22 January 2024 | 51 kali
Sejarah By : Nanang Purwono

Omahaksara.id: Sueabaya (22/1/24) – Sebuah buku beraksara Jepang merekam jejak warga Jepang di Surabaya pada awal abad 20. Isi buku semuanya ꦧꦼꦫꦏ꧀ꦱꦫꦗꦼꦥꦁ beraksara Jepang. Termasuk keterangan gambarnya, kecuali angka tahun. Tertulis tahun 1901 dan 1902 serta 1903. Dalam gambar atau foto tertulis nama Soerabaia atau Soerabaja.

Salah satu toko Jepang di Surabaya dalam gambar. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Angka angka tahun itu menunjukkan bahwa masyarakat Jepang sudah bermukim di Surabaya. Dalam peta, yang termuat pada buku itu, diantaranya memuat kawasan Alun Alun Contong dan ꦏꦮꦱꦤ꧀ꦠꦸꦚ꧀ꦗꦸꦔꦤ꧀ Kawasan Tunjungan. Ada juga peta, yang menggambarkan kawasan Jembatan Merah dan Kembang Jepun, yang kini masuk kawasan Pecinan Surabaya.

Ya, ternyata orang Jepang masuk Surabaya tidak tahun 1940-an seiring dengan perubahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang. Jepang sempat berkuasa di Indonesia, termasuk di ꦯꦸꦫꦨꦪ Surabaya, pada kurun waktu 1942 – 1945. 

Jepang sudah ada di ꦯꦸꦫꦨꦪ Surabaya pada akhir abad ke 19. Hal ini sebagaimana dikatakan Ishii Yutaka, warga Jepang yang tinggal di Surabaya. Selain itu, ada makam orang Jepang di Pemakaman Eropa Peneleh dari akhir abad 19.

Ishi Yutaka, warga Jepang di Surabaya. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Pada awal abad 20, data keberadaan ꦮꦂꦒꦗꦼꦥꦁ warga Jepang semakin terekam dengan baik. Ini sebagaimana ditulis dalam buku buku yang dikoleksi Ishii Yutaka.

Banyak toko toko dan ꦥꦼꦫꦸꦱꦲꦄꦤ꧀ꦗꦼꦥꦁ perusahaan Jepang berdiri pada masa itu, sebelum perang dunia pertama dan bahkan perang kemerdekaan. Diantaranya adalah Toko Chiyoda dan hotel Yamato.

Sangatlah keliru jika ada yang bilang bahwa orang Jepang di Surabaya hanya seumur jagung alias hanya sekitar 3,5 tahun. Tetapi mereka sudah ada di Surabaya sejak kaisar Meiji berkuasa atau dalam kurun  tahun 1852 – 1912. Kaisar Meiji (明治天皇 , Meiji-tennō) adalah ꦏꦻꦱꦂꦗꦼꦥꦁ Kaisar Jepang ke -122.

Warga Jepang di Surabaya pada kisaran tahun tahun itu sudah berjumlah 700 orang (wikipedia.org). Mereka sudah mendirikan toko toko dan berdagang berbagai komoditas.

Disisi lain, kekuatan ekonomi yang dibangun juga tidak terlepas dari keuletan dalam berdinamika di Surabaya pada saat itu. Mereka memiliki produk-produk buatan ꦄꦱ꧀ꦭꦶꦗꦼꦥꦁ asli Jepang dan mendirikan toko yang kemudian sangat fenomenal pada masa pendudukan Hindia Belanda.

Ishi Yutaka (kanan) bersama penulis (kiri). Foto: nanang PAR/omahaksara.id

 

Menurut ꦆꦱ꧀ꦲꦶꦪꦸꦠꦏ Ishii Yutaka, Kembang Jepun adalah dimana pusat wakil pemerintah Jepang di Surabaya.

“Saya menduga kuat bahwa kantor ꦏꦺꦴꦤ꧀ꦱꦸꦭꦠ꧀ꦗꦼꦥꦁ konsulat Jepang ada di Kembang Jepun, tepatnya di gedung yang bersebelahan dengan gedung Radar Surabaya sekarang. Dalam gambar ini ada bendera Jepang”, julas Ishi Yutaka sambil menunjukkan foto dalam buku.

Jalan Kembang Jepun penuh dengan toko dan kantor Jepang. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Jika melihat peta dengan banyaknya toko dan kantor kantor di ꦗꦭꦤ꧀ꦏꦼꦩ꧀ꦧꦁꦗꦼꦥꦸꦤ꧀ jalan Kembang Jepun, maka jalan ini layak sebagai Kampung Jepang. Ini selaras dengan nama jalan Kembang Jepun yang dulu di era kolonial bernama Handelstraat.

Menurut Anton Eikema, pemerhati sejarah Surabaya dari ꦯꦸꦫꦨꦪꦆꦤ꧀ꦝꦺꦴꦏ꧀ꦭꦧ꧀ Surabaya Indo Club, bahwa nama Kembang Jepun tidak lepas dari pernah adanya pusat gadis gadis Jepang (Jepun) di kawasan itu.

“Nama Kembang Jepun ini keluar karena pernah adanyaꦒ ꦣꦶꦱ꧀ꦒꦣꦶꦱ꧀ꦗꦼꦥꦸꦤ꧀ gadis gadis Jepun atau Jepang di daerah itu pada zaman dulu”,kata Anton ketika dirinya dikunjungi oleh pegiat Sejarah Surabaya.

Penuturan Anton Eikema ini cocok dengan ꦆꦤ꧀ꦥ꦳ꦺꦴꦂꦩꦱꦶꦧꦸꦏꦸ informasi buku yang dimiliki warga Jepang di Surabaya, Ishii Yutaka.

Ishi Yutaka bersama penulis. Foto: dok PAR/omahaksara.id

Ishii juga menceritakan bahwa di pemakaman ꦏꦼꦩ꧀ꦧꦁꦏꦸꦤꦶꦁ Kembang Kuning Surabaya pernah ada makam orang orang Jepang dalam jumlah yang cukup banyak. 

“Dulu pernah ada seorang warga Jepang yang sempat mengumpulkan tulang belulang warga Jepang yang dikubur di Kembang Kuning dan dijadikan satu, yang sekarang keberadaannya masih ada di Kembang Kuning”, jelas Ishii Yutaka kepada omahaksara.id.

Foto foto toko Jepang dalam gambar. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Ia  menambahkan bahwa ꦮꦂꦒꦗꦼꦥꦁ warga Jepang Surabaya masih memberikan hormat kepada para pendahulunya di Surabaya dua kali dalam setahun.

“Biasanya kami ke makam itu setiap bulan musim semi atau Maret – April dan bulan musim gugur pada September – Oktober”, terang Ishii.

Ishii adalah sosok warga Jepang di Surabaya yang suka  ꦱꦼꦗꦫꦃ sejarah. Ishii dalam perbincangan itu juga semakin tertarik sejarah Surabaya, terlebih mengenai peristiwa 31 Mei 1293 yang ternyata fakta sejarahnya sedikit berbeda dengan yang diungkap oleh pakar sejarah pada 1975 yang menjadi latar belakang historis Hari Jadi Kota Surabaya. (nanang PAR).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *