Sinau Aksara Jawa Diikuti ꦏꦼꦭꦸꦮꦂꦒꦗꦼꦥꦁ Keluarga Jepang

28 January 2024 | 81 kali
Fitur By : Nanang Purwono

Omahaksara.id: Surabaya (28/1/24) – Kelas Sinau Aksara Jawa, yang diadakan oleh komunitas budayaꦥꦸ ꦫꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷ Puri Aksara Rajapatni, dimulai pada Sabtu, 27 Januari 2024. Kegiatan edukatif ini diadakan di komplek Museum Pendidikan Surabaya di jalan Genteng Kali 10 Surabaya. Dimulai pada pk. 15.00 hingga 17.00.

Rombongan belajar PAR 01. Foto: nanang PAR/omahaksara.if

Kelas perdana ini diikuti oleh peserta dengan jumlah terbatas, hanya 10 peserta, menyesuaikan kapasitas ruangan. Gedungnya tidak seberapa besar dan berdiri di tepi sungai Kalimas. Bangunan ini didirikan di era kolonial, satu paket dengan bangunan utama yang sebelumnya pernah dipakai sebagai sekolah ꦠꦩꦤ꧀ꦱꦶꦱ꧀ꦮ Taman Siswa. Tapi kala itu, di era kolonial, bangunan ini digunakan sebagai Villa. Namanya Villa Rivierzight atau Riversight Villa.

Dari 10 peserta Sinau ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ Aksara Jawa ini ada peserta dari keluarga Jepang. Namanya keluarga Ishii Yutaka. Dalam keseharian Ishii bekerja dikenal sebagai pejabat diplomat yang  suka sejarah dan budaya. Dalam kelas Aksara Jawa ini, Ia mengajak istri dan anaknya.

Aksara Jawa memang sedang populer di kota Surabaya. Di mana mana, Aksara Jawa mulai bermunculan, khususnya di kantor kantor pemerintahan Kota Surabaya. Kehadiran Aksara Jawa ini, setidaknya setelah turunnya Surat Edaran Sekda Kota Surabaya pada 19 September 2023, yang isinya tentang instruksi penggunaan Aksara Jawa di kantor kantor pemerintahan ꦏꦺꦴꦠꦯꦸꦫꦨꦪ Kota Surabaya.

Sinau Aksara Jawa, yang diinisiasi dan diselenggarakan oleh ꦥꦸꦫꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷ Puri Aksara Rajapatni ini, adalah upaya membumikan Aksara Jawa melalui belajar membaca dan menulis, terbuka untuk umum dan gratis. Menurut founder Puri Aksara Rajapatni ꦆꦠꦯꦸꦫꦗꦪ Ita Surojoyo kegiatan edukatif ini sebagai upaya untuk melestarikan Aksara Jawa. Sekarang keberadaan Aksara Jawa ini dalam kondisi hidup segan mati tak mau.

Keluarga Ishii ikuti sinau Aksara Jawa. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Yang menarik dari Sinau Aksara Jawa, yang dimulai Sabtu 27 Januari 2024, adalah kehadiran keluarga Jepang. Mereka sangat antusias mengikuti pelajaran yang disajikan oleh ꦆꦠꦯꦸꦫꦗꦪ Ita Surojoyo. Materi pelajarannya menyenangkan. Meski pelajarannya tentang Aksara Jawa, tapi materi yang dipersembahkan justru dengan pengantar Bahasa Inggris. Bahkan materi pelajarannya,  selain menggunakan handout, juga bersifat digital. 

Diskusi aksara Jawa. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Sinau Aksara Jawa ini dirancang untuk lima kali pertemuan. Empat kali ꦥꦼꦂꦠꦼꦩꦸꦮꦤ꧀   pertemuan tatap muka dan sekali berupa online. Menurut Ita, di penghujung kegiatan ini, setiap peserta harus membuat tugas akhir. Yaitu membuat banner bertuliskan Aksara Jawa untuk para penjual jajanan keliling atau yang biasanya mangkal di sekitar sekolah. 

Bannernya berukuran sesuai dengan rombong jualannya. Jadi peserta bisa menyesuaikan ukuran rombong yang ditemui di daerahnya masing masing.

“Penulisan Aksara Jawa ini untuk mendorong pihak sekolah dalam pengajaran Aksara Jawa”, kata ꦆꦠꦯꦸꦫꦗꦪ Ita Surojoyo.

Gagasan ini sekaligus mendukung rencana penggunaan Aksara Jawa sebagai mata pelajaran Muatan Lokal (mulok) sebagaimana isi resume dari sebuah rapat di ruang ꦄꦱꦶꦱ꧀ꦠꦺꦤ꧀ꦄꦣ꧀ꦩꦶꦤꦶꦱ꧀ꦠꦿꦱꦶꦣꦤ꧀ꦲꦸꦏꦸꦩ꧀Asisten Administrasi dan Hukum, Pemkot Surabaya.

Dengan memanfaatkan dunia teknologi, kegiatan belajar  ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ  Aksara Jawa pada edisi perdana ini, sudah menggunakan media gadget sebagai perangkat belajar.

Penggunaan gadged dalam sinau Aksara Jawa memudahkan dan menyenangkan bagi generasi kini. Foto: IS PAR/omahaksara.id

“Padahal pada pertemuan pertama ini, mereka seharusnya terjadwal belajar mengenal Aksara Jawa, tapi nyatanya sudah belajar menulis ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ Aksara Jawa secara digital”, jelas Ita.

Nama Jepang dalam Aksara Jawa. Foto: dok PAR/omahaksara.id.

Belajar nulis Aksara Jawa secara digital ini juga langsung ditangkap oleh keluarga Ishii. Dengan dibantu oleh pengajar lainnya, salah satunya adalah Wiji, keluarga Ishii Yutaka ini mulai menulis nama mereka dalam Aksara Jawa. Misalnya nama Ryuta Ishii, anak Ishii Yutaka.

Sinau Aksara Jawa dengan nyaman di sebuah bangunan kolonial. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Selain nama Jepang, Aksara Jawa ini juga bisa digunakan untuk menulis nama nama asing, seperti nama nama yang berbau ꦥꦺꦴꦂꦠꦸꦒꦶꦱ꧀ Portugis. Kebetulan dalam.kelas ini ada peserta keturunan Portugis yang bernama Pricilia Joejeva Delfino Da Silva.

“Dalam Aksara Jawa ini tidak mengenal huruf F dan V, lalu bagaimana menulis kata kata yang ada huruf V atau F”, tanya Ita. 

Lantas Ita menjelaskan bagaimana menulis kata kata asing yang secara alphabet tidak dimiliki oleh Aksara Jawa. Hal yang sama juga terdapat pada kata kata dalam ꦧꦲꦱꦗꦼꦥꦁ Bahasa Jepang.

Ketika nama nama Jepang dapat ditulis dalam Aksara Jawa, keluarga Ishii semakin antusias belajar Aksara Jawa. Di kelas perdana PAR 01 ini juga dikawal oleh tenaga pengajar Aksara Jawa yang terdiri dari Ginanjar, Rama dan Wiji. Juga hadir dalam kelas perdana ini Novita dan Asyikul.

Selain diikuti oleh keluarga Jepang, kelas ini juga diikuti oleh petugas Taman Baca Masyarakat (TBM) Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya dan siswa SMK. (nanang PAR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *