H.P. Berlage di ꦯꦸꦫꦨꦪ Surabaya

8 February 2024 | 148 kali
Fitur By : Nanang Purwono

Omahaksara.id: Surabaya (8/2/24) Sebuah ꦧꦸꦏꦸ buku yang menceritakan kembali perjalanan seorang arsitek modern terkenal, HP Berlage, sedang dalam proses finishing. Dikerjakan oleh tim dari Belanda, TiMe Amsterdam. Judulnya Mijn Indische Reis (2023), sama dengan judul buku sebelumnya yang ditulis oleh HP Berlage (1923).

Buku Mijn Indische Reis tentang perjalanan HP Berlage di Nusantara. Foto: dok BerlagediNusantara/omahaksara.id

Ketika itu, Berlage dalam perjalanannya di ꦤꦸꦱꦤ꧀ꦠꦫ Nusantara (dahulu: Indische) pada 1923, dia mengunjungi Surabaya. Dia memotret kehidupan budaya Surabaya yang berupa  kampung kampung etnis seperti Pecinan dan Arab serta sungai Kalimas.

Melihat ꦏꦭꦶꦩꦱ꧀  Kalimas, yang menjulur lurus dari ruas selatan (kawasan Jembatan Merah) ke Utara di pelabuhan Tanjung Perak dengan berjajarnya bangunan bangunan kolonial dan kesibukan pelabuhan kali dan lautnya, Berlage teringat dengan kota pelabuhan di Belanda. Yaitu Rotterdam. Karenanya Berlage menamakan Surabaya adalah Rotterdamnya Jawa.

Sketsa Kalimas dalam bidikan mata Berlage. Foto: dok berlagedinusantara/omahaksara.id

Ada jejak Berlage di Surabaya. Yaitu ꦒꦼꦣꦸꦁꦱꦶꦔ Gedung Singa di jalan Jembatan Merah. Gedung ini dibangun pada 1901, hampir seperempat abad sebelum Berlage datang ke Surabaya (1923). Berlage turut mendesignnya ketika dia sedang mengerjakan proyek besar di kota Amsterdam. Yaitu pembangunan gedung Beurs van Berlage.

Setelah hampir seperempat ꦄꦧꦣ꧀ abad itu, Berlage bisa berkunjung ke Hindia Belanda (Dutch Indische). Kala itu gedung Singa  menjadi satu satunya gedung paling modern di Surabaya.

 

Perjalanan HP Berlage 

Mijn Indische Reis” (1923) adalah sebuah buku catatan arsitek modern terkenal Hendrik Petrus Berlage, yang mendesain Gedung Singa di jalan ꦗꦼꦩ꧀ꦧꦠꦤ꧀ꦩꦺꦫꦃ Jembatan Merah Surabaya. Gedung itu dibangun pada 1901 ketika Berlage justru masih berada di Amsterdam dalam proses pembangunan gedung “Beurs van Berlage” di kota Amsterdam.

Dalam buku itu, Berlage menuliskan perjalanannya ke ꦲꦶꦤ꧀ꦝꦶꦪꦧꦼꦭꦤ꧀ꦝ Hindia Belanda dan kunjungannya ke Surabaya pada 1923 ketika gedung Singa sudah selesai. Ia mengatakan bahwa Surabaya adalah Rotterdam nya Jawa.

Dari statement Berlage itu, muncul rasa penasaran saya mengapa Surabaya dikatakan sebagai Rotterdam nya ꦗꦮ Jawa. Dalam penelusuran di kota Rotterdam (Juli-Agustus 2023), didapati jawaban atas keingintahuan itu.

Perahu motor ngedok di pelabuhan kali di Rotterdam. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Kota Rotterdam sedikit berbeda dari kota Amsterdam. Rotterdam lebih ke bersifat pelabuhan daripada Amsterdam. Kapal kapal terparkir di ꦣꦼꦂꦩꦒꦣꦼꦂꦩꦒ dermaga dermaga yang menjorok ke dalam kota.

Berdekatan dengan hotel dimana ꦥꦼꦤꦸꦭꦶꦱ꧀ penulis tinggal selama hampir dua minggu, The Social Hub, terdapat sebuah dermaga yang bernama Admiraliteitkade. Di dermaga ini terdapat jembatan yang bernama Admiraliteitbrug.

Jembatan Angkat Admiralitieitbrug di kota Rotterdam. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Jembatannya seperti Jembatan Petekan di Surabaya. Dulu, kira kira kesibukan dermaga di dekat Jembatan Petekan Surabaya seperti kesibukan di dermaga Admiralitietkade ini.

Tidak jauh dari dermaga Admiraliteitkade, masih di alur sungai yang sama, terdapat Koning Port, ꦥꦼꦭꦧꦸꦲꦤ꧀ꦫꦗ Pelabuhan Raja. Pelabuhannya tidak seaktif dulu, kata seorang pekerjaan di Koning Port ini. Di sana terdapat dok perkapalan kecil yang masih digunakan untuk tempat restorasi kapal kapal kecil bersejarah.

Kapal kapal yang telah direstorasi dipajang di dermaga sebagai tambahan atraksi dermaga. Ada kapal yang aktif di tahun 1950 dan ada yang aktif di tahun 1901. Masing masing kapal yang dipajang diberi deskripsi informasi untuk publik. Koleksi dan atraksi ini menunjukkan kota Rotterdam sebagai ꦏꦺꦴꦠꦩꦫꦶꦠꦶꦩ꧀ kota maritim.

Pelabuhan kali lama di kota Rotterdam. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Di dekat Koning Port terdapat jembatan Petekan lainnya, Spaanjaardsbrug, yang di waktu waktu tertentu dioperasikan sebagai atraksi ꦮꦶꦱꦠꦮꦤ꧀ wisatawan. Penulis berkesempatan melihat jembatan ini dioperasikan yang hanya untuk sebuah tontonan wisatawan.

Ini menjadi pengalaman tersendiri bagi penulis bisa melihat ꦗꦼꦩ꧀ꦧꦠꦤ꧀ꦄꦁꦏꦠ꧀ jembatan angkat atau jembatan Petekan beroperasi. Di Surabaya ada jembatan Petekan tapi sudah rusak dan mati. Pun demikian di Jakarta, yang bernama Jembatan Intan, juga sudah mati.

Jembatan Angkat sedang beroperasi di dekat Koning Port. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Jembatan Spaanjaardsbrug dan Admiralitietbrug adalah dua dari sejumlah jembatan angkat lainnya di kota Rotterdam. Ada satu lagi yang jauh lebih besar ukurannya membentang di atas Sungai Maas, Nieuwe Maas. Kira kira sungai Maas ini yang menjadikan pembangunan kanal Kali Surabaya di awal abad 19 dinamakan Maas dan menjadi Kali atau ꦏꦤꦭ꧀ꦩꦱ꧀ Kanal Mas.

Rivier Nieuw Maas di kota Rotterdam. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Sungai Nieuwe Maas di kota Rotterdam ini sangat luas, tidak seperti di ꦯꦸꦫꦨꦪ Surabaya, tetapi setidaknya keduanya memiliki fungsi yang sama. Di kiri kanan nya terdapat pertumbuhan dan dinamika perkotaan baik Surabaya maupun Rotterdam. Setidaknya dinamika itu yang dilihat oleh HP Berlage sehingga membuat dia berpendapat bahwa Surabaya adalah Rotterdam nya Jawa.

Pendapat itu tidak berlebihan karena di sepanjang Kanal Kalimas dan kawasan ꦏꦺꦴꦠꦭꦩꦯꦸꦫꦨꦪ Kota Lama Surabaya kala itu (1923) yang dialiri Kalimas memiliki kesibukan padat. Pandangan ini diduga mengingatkan Berlage pada kesibukan di dermaga dermaga di kota Rotterdam. (nanang PAR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *