Kampung Eropa Surabaya ꦭꦪꦏ꧀ Layak Sebagai Etalase Sejarah dan budaya Asli Surabaya, Termasuk Aksara Jawa. 

2 April 2024 | 34 kali
Umum By : Nanang Purwono

Omahaksara. id: Surabaya (2/4/24) – Proyek penataan ꦏꦺꦴꦠꦭꦩꦯꦸꦫꦨꦪ Kota Lama Surabaya sedang berlangsung. Pinggiran beberapa ruas jalan di kawasan itu, khususnya wilayah bekas Kampung Eropa, digali untuk akses gorong gorong. Termasuk pedestrian diperbaiki, disesuaikan dengan tema Kota Eropa.

Penataan sarana publik, yang bernama ꦠꦩꦤ꧀ꦱꦼꦗꦫꦃꦣ꧀ Taman Sejarah dan lingkungan sekitar, juga dirombak sehingga penampilan gedung Internatio yang megah akan tampak lebih jelas.

Tidak ketinggalan di sebelah selatan pojok dari Taman Sejarah dibangun ꦩꦺꦴꦤꦸꦩꦺꦤ꧀ Monumen Mobil Mallaby, yang menggambarkan keberanian arek arek Surabaya dalam melawan kehadiran Sekutu.

Kawasan eks Kampung Eropa ini adalah jejak Kota Surabaya, Stad van Soerabaja, yang dibangun Belanda dan dirancang sebagaimana kota kota di Eropa. Karenanya di Kampung Eropa ini pernah ada ꦄꦭꦸꦤ꧀ꦄꦭꦸꦤ꧀‌ Alun Alun, yang kala itu bernama Willemsplein (Taman Raja Willem). Di dekat Willemsplein pernah ada kantor Balai Kota (Stadhuis), di depan Balai Kota ada pangkalan perahu (Marina) dan di barat Alun alun terdapat Gereja Protestan.

Gambar sketsa kampung Eropa Surabaya 5ahun 1750 an. Foto:Asia Maior/omahaksara.id

Ketika sebuah proyek penataan atau revitalisasi di Kampung Eropa, diharapkan hasil revitalisasi itu dapat menghadirkan informasi sejarah Kampung Eropa Surabaya. Pertanyaan kita adalah apa yang dapat dijadikan petunjuk historis sejarah ꦏꦺꦴꦠꦭꦩꦯꦸꦫꦨꦪ kota lama Surabaya (Stad van Soerabaja)?

Secara fisik semua gedung di lingkungan ꦠꦩꦤ꧀ꦱꦼꦗꦫꦃ Taman Sejarah adalah gedung gedung yang masih aktif dipakai kegiatan, misalnya: perbankan, perkantoran dan bahkan perhotelan. Tidak akan banyak yang dilakukan pemerintah kota Surabaya pada bagian gedung gedung yang masih dikuasai dan dikelola pihak swasta. Seperti yang terlihat dalam kegiatan revitalisasi saat ini bahwa proyek itu hanya menyentuh ruang ruang publik.

Selain pedestrian, PJU, ꦠꦩꦤ꧀ꦱꦼꦗꦫꦃ Taman Sejarah, gorong gorong atau bahkan papan nama jalan, maka ada yang perlu dimaksimalkan pada pekerjaan di ranah publik ini agar revitalisasinya tidak sekedar memperindah secara fisik saja. Tapi, harus ada sentuhan edukatifnya.

 

Etalase Sejarah

Kawasan Kota Lama, khususnya Kampung Eropa, layak sebagai ꦌꦠꦭꦱꦼꦱꦼꦗꦫꦃ etalase Sejarah kota Surabaya. Karena, ya di kawasan ini mula sebuah kota Surabaya modern, yang kala itu bernama Stad van Soerabaja, yang secara fisik dibatasi oleh tembok dan secara administratif sebagai ibukota wilayah Pantai Utara Jawa bagian Timur (Java van den Oosthoek).

Prasasti beraksara Jawa di Masjid Kemayoran tahun 1848. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Karenanya ꦫꦺꦮ꦳ꦶꦠꦭꦶꦱꦱꦶ revitalisasi yang sedang dikerjakan ini harus mampu menghadirkan narasi sejarah kota Eropa ini, yang tidak sekedar melakukan pekerjaan fisik. Bahwa pada masa itu, pada awal awal keberadaan Kota Eropa Surabaya di abad 17 dan 18, secara kultur masyarakat asli Surabaya masih menggunakan bahasa dan aksara Jawa.

Aksara Jawa bersanding dengan Bahasa Belanda dan Melayu pada sebuah plakard di kota Surabaya. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Namun seiring dengan berkembang dan kuatnya kehadiran bangsa Eropa di Surabaya dan ꦤꦸꦱꦤ꧀ꦠꦫ Nusantara, maka aksara Latin yang dibawanya secara gradual menyisihkan aksara Jawa, aksara asli yang digunakan sehari hari.

Usulan penggunaan Aksara Jawa untuk penamaan nama nama jalan di kawasan Kota Eropa Surabaya. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Karenanya, seiring dan dalam mendukung dengan kebijakan pemerintah kota ꦯꦸꦫꦨꦪ Surabaya yang menggunakan aksara Jawa di seluruh kantor kantor mulai Balai Kota hingga kelurahan, maka kawasan Kota Eropa ini pantas sebagai etalase sejarah yang salah satu item historisnya adalah aksara Jawa.

Plakard di sebuah rumah kuno di Surabaya. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Aksara Jawa bisa disematkan pada nama nama jalan di wilayah Kota Eropa Surabaya. Ketika masih di era kolonial saja, pihak pemerintah kala itu menggunakan ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ aksara Jawa, bahasa Belanda dan bahasa Melayu untuk placard placard publik dan bahkan pengumuman publik.

Maka penggunaan aksara Jawa pada nama nama jalan di kawasan itu akan menambah nilai historis dan ꦧꦸꦣꦪꦄꦱ꧀ꦭꦶ budaya asli Surabaya. Pembuatan papan nama jalan ini masih berada di ranah publik yang menjadi wilayah pemerintah kota Surabaya. (nanang PAR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *