Koin Beraksara China Bukti Percaturan Dagang Majapahit – China. 

12 April 2024 | 40 kali
Umum By : Nanang Purwono

Uang kepeng beraksara China dari masa Kerajaan Majapahit. Foto: ist/nanang/omahaksara.id

Omahaksara.id: Surabaya (12/4/24) – ꧋ꦈꦮꦁꦏꦺꦴꦮꦶꦤ꧀ꦏꦸꦤꦺꦴꦠꦶꦣꦏ꧀ꦲꦚꦩꦼꦚ꧀ꦗꦣꦶꦏꦺꦴꦭꦺꦏ꧀ꦱꦶꦤꦸꦩꦶꦱ꧀ꦩꦠꦶꦏ꧀ꦩꦼꦤꦫꦶꦏ꧀ꦧꦒꦶꦥꦫꦏꦺꦴꦭꦺꦏ꧀ꦠꦺꦴꦂ꧉ꦠꦼꦠꦥꦶ꧈ꦗꦸꦒꦩꦼꦚ꧀ꦗꦣꦶꦱꦸꦩ꧀ꦧꦼꦂꦱꦼꦗꦫꦃꦥꦼꦤ꧀ꦠꦶꦁꦧꦒꦶꦥꦸꦧ꧀ꦭꦶꦏ꧀꧈ꦈꦮꦁꦈꦮꦁꦏꦸꦤꦺꦴꦆꦤꦶ꧈ꦏ꦳ꦸꦱꦸꦱ꧀ꦚꦪꦁꦠꦼꦫꦶꦣꦺꦤ꧀ꦠꦶꦥ꦳ꦶꦏꦱꦶꦣꦫꦶꦩꦱꦏꦼꦫꦗꦄꦤ꧀ꦩꦗꦥꦲꦶꦠ꧀‌ꦩꦼꦚ꧀ꦗꦣꦶꦱꦼꦧꦒꦶꦪꦤ꧀ꦒꦩ꧀ꦧꦫꦤ꧀ꦥꦼꦂꦕꦠꦸꦫꦤ꧀ꦝꦒꦁꦆꦤ꧀ꦠꦼꦂꦤꦱꦶꦪꦺꦴꦤꦭ꧀ꦩꦗꦥꦲꦶꦠ꧀ꦝꦤ꧀ꦤꦼꦒꦫꦭꦻꦤ꧀‌ꦏ꦳ꦸꦱꦸꦱ꧀ꦚꦣꦼꦔꦤ꧀ꦕ꧀ꦲꦶꦤ꧉

Uang koin kuno tidak hanya menjadi koleksi numismatik menarik bagi para kolektor. Tetapi, juga menjadi sumber sejarah penting bagi publik. Uang uang kuno ini, khususnya yang teridentifikasi dari masa kerajaan Majapahit, menjadi sebagian gambaran percaturan dagang internasional Majapahit dan negara lain, khususnya dengan China.

Catatan penting mengenai dimulainya kontak antara China dengan penguasa Jawa adalah dimasa kekuasaan ꦏꦼꦂꦠꦤꦺꦒꦫ Kertanegara, Raja terakhir Kerajaan Singhasari. Bangsa dari dataran Asia, dibawah Kaisar Kubilai Khan hendak menguasai Jawa 1292, tapi gagal.

Selanjutnya di penghujung 1292, mereka datang berbondong bondong hendak menghukum Kertanegara. Tiba di Jawa dengan memasuki Jepara, Tuban, Gresik, Surabaya dan Canggu pada kisaran awal 1293. Tapi kondisi geo politik di Jawa sudah berubah. Kekuasaan Singasari sudah berakhir karena Kertanegara sudah tewas di tangan ꦗꦪꦏꦠ꧀ꦮꦁ Jayakatwang dari Kediri.

Serdadu Mongol ini tidak menemui sasaran dan kedatangannya dimanfaatkan oleh menantu Kertanegara,ꦫꦢꦺꦤ꧀ꦮꦶꦗꦪ Raden Wijaya, untuk balas dendam kepada Jayakatwang atas kematian mertuanya, Kertanegara. Singkat cerita Jayakatwang dapat dikalahkan dengan kekuatan gabungan Mongol dan prajurit Wijaya. Di saat itu juga, Serdadu Mongol dapat diusir oleh kekuatan Raden Wijaya untuk meninggalkan Jawa pada 31 Mei 1293.

Dengan kekosongan kekuasaan, maka berdirilah kerajaan baru yang bernama Majapahit dengan ꦫꦢꦺꦤ꧀ꦮꦶꦗꦪ Raden Wijaya sebagai raja pertama Kerajaan Majapahit.

Dimasa Kerajaan ꦩꦗꦥꦲꦶꦠ꧀ Majapahit, datanglah rombongan misi dagang Cheng Ho ke Majapahit pada 1412. Kedatangan rombongan ini dicatat dengan detail oleh sekretaris Cheng Ho, yang bernama Ma Huan dan selanjutnya dibukukan dengan judul Ying Yai Sheng Lan.

Rute Cheng Ho Dalam Catatan Mahuan adalah dari dataran China, memasuki kepulauan Karimata, kemudian masuk ꦗꦼꦥꦫ Jepara di wilayah Jawa Tengah. Selanjutnya bergerak ke arah timur dan berlabuh di Tuban. Bergerak lagi ke Timur di Gresik. Selanjutnya di Surabaya. Dari Surabaya memakai perahu perahu kecil ke selatan dan berhenti di pelabuhan sungai Canggu. Setelah itu berjalan kaki ke Majapahit.

Sejak itu hubungan dagang Majapahit dan China berkembang pesat. Barang barang dagang dari China mengalir deras ke Majapahit. Pun demikian dengan mata uangnya. Bahkan mata uang China, kepeng, menjadi alat tukar resmi di Majapahit. Sebagai bukti kehadiran orang orang asing China dengan segala bukti aktivitasnya terekam dalam museum Majapahit (PIM, Pusat Informasi Majapahit) dan Museum Mpu Tantular.

Uang Kepeng China yang dibuat berdasarkan kekuasaan Kaisar. Ada beberapa Kaisar yang mengeluarkan koin di masa Kerajaan Majapahit. Foto: ist/nanang/omahaksara.id

Di PIM ada artefak boneka boneka dari ꦠꦺꦫꦏꦺꦴꦠ terakota yang menggambarkan orang orang China serta kepingan mata uang China. Pun demikian yang tersimpan di museum negeri Mpu Tantular, tersimpan banyak mata uang kepeng yang tertulis aksara China.

Keberadaan mata uang logam ini media pembelajaran bagi publik. Pengunjung yang datang ke museum bisa belajar dari koleksi museum baik untuk tujuan tujuan pendidikan, ilmu ꦥꦼꦔꦼꦠꦲꦸꦮꦤ꧀ pengetahuan, penelitian, budaya dan pariwisata.

Mata uang logam China atau sering disebut uang kepeng, secara histori memang pernah berkembang dan populer pada masa Kerajaan Majapahit. Ini karena adanya ꦲꦸꦧꦸꦔꦤ꧀ꦝꦒꦁ hubungan dagang yang cukup erat antara China dan Kerajaan Majapahit. Hingga mata uang China ini digunakan sebagai alat pembayaran resmi pada masa Majapahit.

Karenanya, mata uang China ini banyak ditemukan tersebar di berbagai wilayah kerajaan Majapahit, khususnya di Jawa Timur. Buktinya adalah temuan temuan uang koin kuno. Misalnya di desa Bedanten, Kabupaten Gresik dan Desa Semen, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar pada Oktober 2017. Masih ada lagi lainnya.

Uang kepeng, sebagai benda seni, ternyata masih diproduksi hingga kini, seperti di Bali atau oleh etnis Tionghoa sebagai salah satu sarana ritual keagamaan. Kegunaannya tentu untuk kebutuhan seni dan ritual. Bukan lagi sebagai alat ꦥꦼꦩ꧀ꦧꦪꦫꦤ꧀ pembayaran.

Sementara uang kepeng, sebagai benda bersejarah, sudah tidak diproduksi lagi karena beda zaman dan sudah berbeda alat tukar dan pembayarannya. Karenanya, harus bisa membedakan uang kepeng sebagai benda bersejarah dan benda seni. Jangan salah menilai. (nanang PAR) .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *