Manuskrip Berbinding Bambu Penuh Tanda Tanya. 

12 April 2024 | 24 kali
Umum By : Nanang Purwono

Manuskrip beraksara Jawa dan berbinding jeruji bambu dan benang. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Omahaksara.id: Surabaya (12/4/24) – ꧋ꦗꦸꦩ꧀ꦄꦠ꧀ꦱꦶꦪꦁ꧈꧇꧑꧒꧇ꦄꦥꦿꦶꦭ꧀꧇꧒꧐꧒꧔꧇꧈ꦄꦏ꧀ꦠꦶꦮ꦳ꦶꦱ꧀ꦧꦸꦣꦪꦥꦸꦫꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷꦩꦼꦤ꧀ꦝꦥꦠꦶꦱꦼꦧꦸꦮꦃꦩꦤꦸꦱ꧀ꦏꦿꦶꦥ꧀ꦝꦼꦔꦤ꧀ꦥꦼꦚ꧀ꦗꦶꦭꦶꦣꦤ꧀ꦱꦸꦥꦼꦂꦭꦁꦏꦣꦶꦯꦸꦫꦨꦪ꧉ꦠꦺꦏ꧀ꦤꦶꦏ꧀ꦥꦼꦚ꧀ꦗꦶꦭꦶꦣꦤ꧀ꦚꦩꦼꦁꦒꦸꦤꦏꦤ꧀ꦫꦸꦗꦶꦫꦸꦗꦶꦧꦩ꧀ꦧꦸꦣꦼꦔꦤ꧀ꦥꦼꦔꦶꦏꦠ꧀ꦧꦼꦤꦁꦈꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ꦩꦼꦚꦠꦸꦏꦤ꧀ꦱꦼꦩꦸꦮꦲꦭꦩꦤ꧀꧈

Jumat siang, 12 April 2024, aktivis budaya   ꦥꦸꦫꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷ Puri Aksara Rajapatni mendapati sebuah manuskrip dengan penjilidan super langka di Surabaya. Teknik penjilidannya menggunakan ruji ruji bambu dengan pengikat benang untuk menyatukan semua halaman. 

Binding langka dan unik. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Rajapatni pun berusaha bertanya kepada aktivis Aksara Jawa di Yogyakarta, Amrih Setya Prasaja (Segajabung), yang sudah terbiasa memegang buku buku kuno beraksara Jawa, namun dia belum pernah melihat model binding semacam yang ditemui aktivis Aksara Jawa di Surabaya ini. 

Bahkan, ꦥꦸꦫꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷ Puri Aksara Rajapatni berselancar di dunia maya untuk mencari teknik binding buku buku kuno. Ternyata tidak ada. Malah ditemukan informasi teknik binding masa lalu di dunia dari laman akarpadinews.com tentang kekhasan penjilidan buku kuno racikan Indonesia. Juga tidak ditemukan. 

Berikut sebuah artikel yang pernah ditulis akarpadinews.com pada edisi 19 Oktober 2015. Artikel ini ditulis oleh Ageng Wuri Rezeki A.

… … 

Akarpadinews.com| BUKU adalah jendela peradaban dunia. Beragam ilmu pengetahuan dan informasi yang disuguhkan dalam buku menjadi referensi bagi manusia untuk menjalani aktivitas kehidupannya. Membaca buku akan meningkatkan khasanah pemikiran manusia sehingga lebih bijak menyikapi beragam persoalan dan kreatif dalam mengembangkan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan penghuni alam semesta. Karenanya, cintailah buku.

Dari waktu ke waktu, buku terus diproduksi. Perkembangannya mengikuti perkembangan hidup manusia. Beragam tema, isu, kajian, dan sebagainya, diproduksi.  Sampul (cover) pun dikreasi sedemikian rupa untuk memancing minat masyarakat membaca, sekaligus menjaga buku agar bertahan lama. Namun, pernahkah kita memikirkan proses pembuatan sampul hingga sampai ke tangan kita sebagai pembaca?

Ternyata, penjilidan sebuah buku sudah ada sejak lampau. Sampul buku-buku yang diproduksi tempo dulu biasanya terbuat dari kulit. Hiasan dan motifnya pun beraneka ragam. Dulu, ada semacam profesi khusus, penjilid naskah. Penggarapan sampulnya pun butuh waktu, karena menyangkut jenis kulit, motif hiasan, penjahitan kuras, pengeleman, pemotongan, dan proses lainnya.

Adapun lem yang digunakan biasanya berwarna coklat, berasal dari jenis tumbuhan tertentu. Hiasan kulit sampul biasanya berupa hiasan timbul tanpa warna (blind stamping) atau disepuh emas. Pembuatan hiasan timbul tentu tidak mudah dilakukan. Dibutuhkan ketelitian, kreatifitas, dan ketekunan, termasuk ketersediaan peralatan.

Merujuk pada artikel berjudul Traditional Book Binding from Indonesia Materials, Journal of the Royal Institute of Linguistic and Anthropology, (BKI Vol. 149 No. 3, 1993), si penulis, M. Plomp menyimpulkan, ada ciri-ciri tertentu dalam gaya hiasan sampul naskah dari beberapa daerah di Indonesia. Ia menunjuk pada Tesis (1987) Haji Wan Ali Wan Mamat yang menyebutkan, beberapa koleksi naskah-naskah di Inggris dan Jerman disediakan secara tradisional dengan jilidan asli.

Hasil tesis itu menunjukan penjilidan biasanya dengan kulit berwarna atau tidak berwarna, dihiasi dengan hiasan timbul tanpa warna. Ada yang dihiasi, ada yang diberi sepuhan emas. Sampul naskah bagian belakang memiliki penutup seperti pada amplop atau flap. Namun, hingga sekarang belum ada peneliti yang tertarik lebih lanjut terhadap penelitian ini.

Secara umum, ia menjelaskan, ciri-ciri penjilidan tradisional di Indonesia, sampul naskah bagian belakang biasanya memiliki flap. Sementara sampul naskah bagian dalam dilapisi dengan kertas, agar tampak rapi.

Kertas yang digunakan biasanya adalah dluwang yang terbuat dari kulit kayu, meskipun naskah yang dijilid adalah kertas Eropa. Pilihan dengan kertas tradisional untuk penjilidan naskah adalah karena dluwang lebih kuat, dan mempunyai daya lentur, sehingga tidak mudah sobek.

Ia memberikan sebuah diagram atau gambar mengenai terminologi atau istilah kata yang digunakan dalam deskripsi dari penjilidan tradisional, termasuk sumber contoh penjilidan tradisional yang ia gunakan terdapat di dua koleksi naskah di Leiden, Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde (KITLV) dan Perpustakaan Leiden University. Ia juga melihat bahwa ada kesamaan antara perbedaan dari grup dan letak hiasan penjilidan yang dibandingkan penjilidan tradisional dari Indonesia dengan versi penjilidan Islam di dunia.

Menurutnya, hanya sedikit naskah-naskah yang penjilidannya asli dari Indonesia. Naskah-naskah yang ada disediakan tanggal dan tempat produksi.Penanggalan naskah juga kemungkinan bukan asli proses penjilidan tersebut. Karena, naskah yang tidak asli akan rusak, kebanyakan tidak dapat bertahan sampai 200 tahun. Hanya satu naskah yang penjilidannya asli yang tahan lama.

 

Lima gaya penjilidan berdasarkan wilayah dan tahunnya. 

Buku buku kuno dari zaman ke zaman dengan binding umum. Foto: wallpaper.com/nanang/omahaksara.id

Pertama, penjilidan Jawa Tengah (1815-1830). Gaya ini diproduksi di Gratzl’s yang naskah-naskahnya menjadi koleksi dari KITLV atau perpustakaan Leiden University. Penjilidan naskah-naskah ini asli dari Jawa Tengah sekitar abad ke-19. Beberapa di antaranya, tidak memiliki flap di sampul belakang. Sampulnya tipis, berbahan kulit yang lembut, berwarna coklat terang. Kertasnya menggunakan kertas Eropa dan dluwang.

Hiasan sampul depan dan belakangnya dengan hiasan timbul tanpa warna, dan flapnya juga memiliki hiasan, yang sama seperti di sampulnya, tetapi berbeda pengaturannya. Bingkai pada sampulnya ada 3-8 garis. Tetapi, biasanya rata-rata ada lima garis. Di bagian tengah, ada hiasan timbul tanpa warna disebut medallion yang berbentuk motif floral. Empat sudut di sampulnya ada motif floral juga.

Ia menyebutkan sedikit penjilidan naskah dengan desain dan hiasan di atas yang asli berasal dari Semarang, Madura atau Jawa Timur. Penjilidan naskah-naskah ini terdapat pada koleksi KITLV dengan nomor koleksi Or 1, LOr 1828, dan LOr 2138. Selain itu juga ada dengan nomor LOr 1828 penjilidannya asli berasal dari Gresik dengan penanggalan 1823 AD.

Kedua, Bangkalan, Madura Barat (1891-1892). Pada tahun 1897, naskah-naskah Madura yang asli, disumbangkan oleh Kiliaan ke koleksi Perpustakaan Leiden University. Kebanyakan naskah berisi catatan singkat yang menyebutkan tempat dan tahun pembelian serta harga yang dibeli dari naskah itu. Di sana juga menyebutkan, jumlah uang yang dibayar Kiliaan. Naskah-naskah tersebut dibeli di Bangkalan, Madura Barat, antara tahun 1891-1892. Beberapa naskah koleksi ini memiliki tipe penjilidan dengan hiasan dan desain yang sama.

Ciri khas penjilidan Bangkalan tipis, halus, berwarna coklat dengan kulit yang padat membungkus sampul depan dan belakang. Di dalam penjilidan yang menempel ke tumpukan kertas garisnya berwarna biru  (spine) dan beberapa penjilidan memiliki tali berwarna merah, oranye dan biru, merah dan oranye (endband) pada hiasannya. Teksnya menggunakan kertas Eropa dan dluwang.

Hiasan timbul tanpa warna ada di kedua sampul. Sampul depan dan belakang ada desainnya. Penjilidan ini terdapat pada naskah-naskah dengan nomor LOr 4900a, 4900b, 4911,4913, 4914, dan 4915. Bingkainya juga ada dua hingga empat garis. Dengan medallion dengan motif floral. Di empat sudut sampulnya ada hiasan seperti daun. Motifnya biasanya berbentuk bunga tulip. Desain itu juga ada pada flap.

Ketiga, Banten, Jawa Barat, akhir abad 17 hingga awal abad 18. Naskah-naskah koleksi dari Perpustakaan Leiden University dengan penjilidannya yang bergaya Banten, antara lain LOr 1970, 1971, 2052, dan 2016. Penjilidannya memiliki flap pada sampul belakang. Berbahan kulit lembut dengan kulit warna coklat. Kertas sampul bagian dalamnya folio. Di dalam penjilidannya ada garis double (doublure hinge). Teksnya ditulis di atas kertas Eropa dengan tali yang menempel di penjilidannya (endband). Dihiasi dengan  hiasan timbul tanpa warna.

Bingkainya ada dua garis. Ada hiasan medallion dengan motif floral, yaitu bunga lotus Cina. Motif ini merupakan adopsi gaya dari penjilidan Turki dan  Persia dari abad ke- 17 dan 18. Sampul belakangnya terdapat flap. Ada hiasan bertuliskan syahadat. Dan, dalam penjilidannya terdapat garis-garis.

Keempat, Palembang, awal abad ke-19. Tipenya mengambil contoh dari penjilidan Banten. Desainnya mengikuti lingkungan alamnya. Penjilidannya memiliki flap pada sampul belakang dengan warna kulitnya coklat hingga di dalam sampulnya terdapat kertas berwarna coklat. Garis di dalam penjilidan kertasnya berwarna putih atau biru. Teksnya ditulis di atas kertas Eropa. Tali (endband) yang menghiasi perekatan penjilidannya berwarna merah dan putih. Contoh naskahnya adalah LOr 1895,  1896, dan 2283.

Bingkainya yang menghiasi terdapat tiga garis berbentuk segi empat. Ada medallion  yang timbul dengan motif floral. Di empat sudutnya juga sama terdapat motif floral. Sama seperti penjilidan Banten, tipe Palembang ini beberapa sama dengan penjilidan Persia dari abad ke-16, 17, dan 18.

Kelima, Minangkabau, Sumatera Barat (1800-1870). Beberapa penjilidan berasal dari Kota Gadang, Bukittinggi, dan Padang Panjang. Ada percampuran pengaruh Islamnya. Namun, perekatan dengan lemnya sangat lemah karena kertasnya sering lepas dari penjilidan. Format penjilidannya sangat kecil, dengan kertas folio.

Kulit yang membalut, bukan dari kulit yang lembut yang dipakai di Jawa atau Madura. Kulitnya kasar, tipis, dan gampang luntur di bagian permukaannya. Warna kulit yang digunakan berwarna coklat. Di dalam sampul penjilidannya dengan kertas tipis. Penjilidannya terdapat flap. Terdapat bingkai bergaris-garis dengan desain warna kuning dan hitam. Masih diperkirakan warna berasal dari daun yang berwarna emas.

Pada sampul depan dan belakang, memiliki desain dan bingkai. Ada medallionnya. Hanya, desainnya sederhana. Garis bingkainya terdapat empat. Desain yang sama juga ada di flapnya. Contoh naskahnya antara lain LOr 2014, 2336c, 6092, 6119, 6987, 12. 272 dan 14.624.

(Ageng Wuri Rezeki A.) 

 

Lantas Manuskrip Berdinding Bambu Ini Buatan mana dan Kapan? 

Kelima tipe penjilidan di atas memiliki persamaan dan perbedaan dari hal desain, hiasan hingga penjilidan nya. Kesimpulannya, penjilidan Indonesia dipengaruhi oleh gaya penjilidan Dunia Islam, khususnya dari Persia. Pengaruh Persia terdapat di kesusastraan klasik Melayu.

Lantas binding manuskrip dari bambu dan beraksara Jawa ini dibuat zaman apa dan oleh siapa serta isinya apa. Setiap orang memang memiliki gaya menulis berbeda beda, tidak berstandar. Pun demikian dengan manuskrip beraksara Jawa di Surabaya ini. Perlu pembacaan dengan cermat, manuskrip ini berisi tentang apa? (nanang PAR) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *