Menyambut Penetapan Gamelan Sebagai Warisan Budaya Dunia, ꦧꦣꦿꦱꦺꦮꦸ Badra Sewu Gelar Festival Gamelan (*).

11 December 2023 | 14 kali
Fitur By : Nanang Purwono

Omahaksara.id: Surabaya (11/12/23) – Ada oase cukup melegakan di tengah hiruk pikuk kota ꦗꦏꦂꦠ Jakarta, di tengah serbuan budaya asing yang kian masif dan masyarakat yang konon tidak perduli dengan keberadaan seni budaya tradisional, sehingga makin tersisih dan dilupakan. Yakni kegiatan yang dilakukan komunitas budaya ꦧꦣꦿꦱꦺꦮꦸ Badra Sewu dalam melestarikan dan mengembangkan seni gamelan atau karawitan.

Pada Minggu, 10/12/2023, komunitas budaya ꦧꦣꦿꦱꦺꦮꦸ Badra Sewu ini menggelar pertunjukan seni karawitan di Galeri Indonesia Kaya, Jl. M.H Thamrin, Jakarta Pusat. Pagelaran bertajuk “Luhuring Karawitan Pertiwi” (maknanya : memuliakan gamelan Jawa di Bumi Nusantara) ini dalam rangka menyambut  2 tahun ditetapkannya ꦒꦩꦼꦭꦤ꧀ Gamelan ke dalam daftar Intangible Cultural Heritage atau Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Unesco pada tanggal 15 Desember 2021. 

Dalam pertunjukan berdurasi 1,5 jam tersebut, menampilkan ꦒꦩꦼꦭꦤ꧀ꦗꦮ gamelan Jawa dengan berbagai Ladrang (lagu Jawa), tarian Gambyong Retno Kusumo (gaya Mangkunegaran) dan Gambyong Pangkur. Juga fragment wayang kulit menampilkan tokoh Antareja dan Antasena, dalam menjaga keharmonisan berbangsa dan bernegara.  Kedua putra Bima Sena ini contoh ksatria yang menjunjung tinggi dan membela negaranya hingga titik darah penghabisan. Yang menarik, fragment wayang ini dibawakan oleh seorang Dalang muda, berusia 19 tahun. Diaz, nama si Dalang, masih tercatat sebagai mahasiswa ꦈꦤꦶꦮ꦳ꦼꦂꦱꦶꦠꦱ꧀ꦆꦤ꧀ꦝꦺꦴꦤꦺꦱꦶꦪ Universitas Indonesia. 

Menurut Mutiara Gayatri, pendiri ꦧꦣꦿꦱꦺꦮꦸ Badra Sewu Gallery, anggota komunitas ini memang terdiri dari beragam usia dan profesi. Mulai usia 17 sampai 71 tahun. Mulai dari pelajar, banker, lawyer, guru sampai ibu rumah tangga. Bahkan ada juga anggota berkebangsaan WNA. Di ruang galleri yang nyaman dan bersih di Jalan Gg. H. Najihun, Gandaria Jakarta Selatan,  para anggota komunitas berlatih gamelan, latihan menari, latihan membatik serta perawatan ꦧꦠꦶꦏ꧀ꦏꦸꦤ batik kuna.

“Komunitas kami adalah sebuah wadah budaya untuk mempertahankan keberlangsungan seni ꦧꦸꦣꦪꦗꦮ budaya jawa. Semua ini dalam rangka nguri-uri atau melestarikan budaya sekaligus mengenalkan budaya Jawa pada lebih banyak orang, khususnya pada generasi muda di kota besar seperti Jakarta. Intinya, ꦮꦺꦴꦁꦗꦮꦄꦗꦭꦭꦶꦗꦮꦤꦺ wong Jawa aja lali Jawane atau orang Jawa jangan lupa ke-Jawa-annya.”ujar Gayatri. 

Sebelum pementasan di Galleri Indonesia Kaya, komunitas ini juga mengadakan Festival Gamelan yang berlangsung di galleri-nya pada tanggal 4 Desember 2023, dengan menampilkan kelompok-kelompok yang berlatih di ꦧꦣꦿꦱꦺꦮꦸ Badra Sewu mementaskan gending-gending Jawa menggunakan gamelan. 

Ikut tampil pula grup ꦥꦒꦸꦪꦸꦧꦤ꧀ꦕꦠꦸꦂꦱꦒꦺꦴꦠꦿ Paguyuban Catur Sagotra, yang merupakan paguyuban empat keraton, yakni Kasultanan Yogyakarta, Kasunanan ꦱꦸꦫꦏꦂꦠ Surakarta, Pura Mangkunegaran dan ꦥꦸꦫꦥꦏꦸꦄꦭꦩꦤ꧀ Pura Pakualaman.  

Sedangkan nama Badra Sewu diambil dari nama Gamelan Kyai Badra Sewu, yang sebelumnya dimiliki oleh Bapak Mashuri SH, mantan Menteri Penerangan RI (1973-1978) dan Wakil Ketua DPR/MPR (1977-1982).

Badra berarti keberuntungan, Sewu berarti seribu. Sehingga secara harafiah diharapkan siapapun anggota komunitas yang berhubungan akan diharapkan mendapatkan berkah keberuntungan, kesejahteraan dan kebaikan.

“Kami memberanikan diri menamakan tempat ini Galeri supaya lebih familiar di dalam dan di luar negeri,” tutur Gayatri. Lewat budaya, Gayatri dan para pemain gamelan di Badra Sewu percaya bahwa “Ajining Bangsa dumunung saka luhuring Budaya” alias harga diri sebuah bangsa juga didasari pada keluhuran budayanya. (set/nng)

(*) Susetyo, wartawan senior AWS Surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *