Jejak Aksara Jawa di ꦯꦸꦫꦨꦪ Surabaya Menyimpan Tanda Tanya? 

23 December 2023 | 42 kali
Fitur By : Nanang Purwono

Omahaksara.id: Surabaya (23/12/23) – Jejak Aksara Jawa lawas masih ada di ꦯꦸꦫꦨꦪ Surabaya. Keberadaannya begitu langka. Apalagi orang tidak mengenalnya. Salah satunya berada di tengah keramaian jamaah. ꦆꦫꦺꦴꦤꦶꦱ꧀ Ironis. Apalagi ada yang bertempat di kesunyian dan kegelapan. ꦮꦗꦂ Wajar. Praktis tidak ditengok orang. Aksara Jawa ini seolah semakin tiada. Apakah Aksara Jawa semakin ditinggalkan?

ꦠꦶꦣꦏ꧀ Tidak! 

Aksara Jawa sesungguhnya masih ada dan masih dirawat oleh warga. Cuma perawatan itu dilakukan secara parsial di tengah keramaian kota Surabaya. Geliatnya internal. ꦥꦿꦏ꧀ꦠꦶꦱ꧀   Praktis, keberadaannya seolah ditelan keramaian kota yang modern. Karenanya, keberadaannya bagai  ꦩꦠꦶꦱꦸꦫꦶ  mati suri.

Prasasti dalam Aksara Jawa di Masjid Kemayoran Surabaya. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Belakangan, Aksara Jawa menyeruak dari belantara kota Surabaya, bagai burung ꦒꦫꦸꦣ Garuda yang mengepakkan sayap sekuat tenaga dan meroket ke ꦄꦁꦏꦱ angkasa. Sosok garuda itu terlihat gagah mengangkasa dan kemudian hinggap di atas belantara betonisasi kota Surabaya yang modern.

ꦒꦫꦸꦣꦆꦠꦸꦄꦣꦭꦃꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ  Garuda itu adalah Aksara Jawa, yang sekarang bertengger di gedung gedung pemerintah kota Surabaya. Garuda garuda lainnya segera menyusul garuda yang telah berdiri gagah di atas gedung Balai Kota Surabaya.

Lantas dimanakah jejak Aksara Jawa yang telah ada ratusan tahun lamanya di ꦏꦺꦴꦠꦯꦸꦫꦨꦪ kota Surabaya?

Salah satu diantaranya ada di dalamꦩ ꦱ꧀ꦗꦶꦣ꧀ Masjid Kemayoran Surabaya. Baca “Inskripsi Aksara Jawa Tertua di Surabaya” (omahaksara.id edisi 22/12/23).

Aksara Jawa kuno lainnya ada di salah satu gapura komplek ꦩꦱ꧀ꦗꦶꦣ꧀ꦄꦩ꧀ꦥꦺꦭ꧀  Masjid Ampel. Gapura ini disebut gapura munggah (naik) yang berdiri di paling selatan, menghadap jalan ꦱꦱꦏ꧀ Sasak.

Goresan Aksara Jawa di gapura Masjid Ampel.sudah aus. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Gapura ini sebagai simbol ꦫꦸꦏꦸꦤ꧀ꦆꦱ꧀ꦭꦩ꧀ rukun Islam yang kelima, yakni melaksanakan ibadah haji. Secara arsitektur gapura ini berbentuk ꦥꦣꦸꦫꦏ꧀ꦱ paduraksa, yaitu gapura yang terhubung di bagian atasnya. Gapura ini khas arsitektur bangunan ꦩꦗꦥꦲꦶꦠ꧀ Majapahit.

Selain makna Islami, ꦒꦥꦸꦫ gapura ini juga menyimpan pesan pesan penting lainnya. Pada tubuh gapura, kiri dan kanan, terdapat relief dengan gambar bunga ꦕꦼꦁꦏꦺꦃ cengkeh, yang melambangkan komoditi ꦉꦩ꧀ꦥꦃꦉꦩ꧀ꦥꦃ   rempah rempah di era Sunan Ampel. Pesan ini melambangkan legitimasi keberadaan rempah rempah di Nusantara.

Gapura Ampel dengan relief bunga cengkeh. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Pesan penting lainnya adalah relief pada blandar kayu jati bertumpuk yang menyatukan dua tembok kiri dan kanan serta menyangga atap gapura. Inskripsi Aksara Jawa ini berbunyi “Adhanawalewa Wawadha Arangu Asasawapa”.

Secara bebas artinya adalah barang siapa melewati gerbang ini, Insya Allah mereka akan selamat. Jadi, di sini ada unsur doa bagi siapapun peziarah yang akan masuk ke masjid maupun yang akan datang ke makam Sunan Ampel.

Secara fisik ꦒꦺꦴꦫꦺꦱꦤ꧀ goresan Aksara Jawa ini sudah semakin aus karena cat yang bertumpuk tumpuk. Sayang tidak ada angka tahun dari penulisan  ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ   Aksara Jawa ini.

Inskripsi Aksara Jawa di Boto Putih. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Sedangkan Aksara Jawa lama lainnya didapati di komplek Pesarean ꦱꦼꦤ꧀ꦠꦤꦧꦠꦥꦸꦠꦶꦃ Sentono Boto Putih di jalan Pegirian Surabaya. Pesarean Boto Putih ini dikenal sebagai komplek pesarean ꦥꦫꦧꦸꦥꦠꦶꦯꦸꦫꦨꦪ para bupati Surabaya. 

Adalah ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ꦭꦤꦁꦣꦔꦶꦫꦤ꧀ Pangeran Lanang Dangiran, yang dianggap sebagai sosok yang menurunkan trah para bupati Surabaya. Pangeran Lanang Dangiran, yang juga dikenal dengan sebutan Mbah Brondong, diketahui meninggal pada 1638 dan dia memiliki dua putera. Mereka bernama ꦲꦁꦒꦗꦪ Honggojoyo dan ꦲꦁꦒꦮꦁꦱ Honggowongso. Honggojoyo menjadi Tumenggung di Pasuruan. Sedangkan Honggowongso menjadi Tumenggung di Surabaya.

Makam Pangeran Lanang Dangiran ini menempati petak luas yang berkalang pagar tembok dengan ꦒꦥꦸꦫꦥꦣꦸꦫꦏ꧀ꦱ gapura paduraksa sebagai akses keluar masuk.

Ada beberapa petak dengan banyak ꦏꦸꦧꦸꦫꦤ꧀   kuburan di dalamnya. Di sebelah utara dari petak Pangeran Lanang Dangiran terdapat petak lainnya dengan sedikit kuburan. Ada sekitar 10 kuburan tapi lebih kuno daripada kuburan lainnya di komplek Sentono Botoputih ini.

Kekunoan makam di petak ini adalah terdapatnya gentong andesit yang beraksara ꦏꦮꦶ Kawi. Lalu kuburan yang berjirat indah dengan ukiran Aksara Jawa. Entah kuburannya siapa ini. Inskripsi Aksara Jawanya belum terbaca. Struktur bangunan kuburan ini terbuat dari batuan   ꦄꦤ꧀ꦝꦺꦱꦶꦠ꧀ andesit.

Letak komplek pesarean Boto Putih dalam catatan kecagarbudayaan sebagaimana disematkan pada tembok komplek adalah peninggalan dari era Majapahit. Letaknya tidak jauh dari Makam Sunan Ampel, yang hanya dipisahkan oleh sungai Pegirian. Makam siapakah gerangan? (nanang).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *