Satu Aksara, Dua ꦧꦸꦣꦪ Budaya.
4 February 2024 | 180 kali
Fitur By : Nanang Purwono
Omahaksara.id: Surabaya (4/2/24) – Belajar Aksara Jawa tidak sekedar belajar menggoreskan pena dengan meliuk-liuk sesuai masing masing anatomi aksara di atas kertas. Di era modern dan digital seperti sekarang, belajar ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ Aksara Jawa tidak juga hanya bisa menekan tombol gadget yang telah terpasang dengan Aksara Jawa.
Tetapi, belajar Aksara Jawa juga berarti ꦧꦼꦭꦗꦂ belajar budaya dan budi pekerti serta nilai nilai yang terkandung di dalamnya. Memang, Aksara Jawa, secara fisik, digunakan sebagai media dalam penyampaian pesan yang terkandung dalam Bahasa Jawa dan penyampaian pesan ini sangat umum kala itu (dulu). Sekarang keberadaannya sangat terbatas.
Secara non fisik, Aksara Jawa mempunyai makna yang berkaitan dengan konsep ꦏꦼꦠꦸꦲꦤꦤ꧀ ketuhanan, yang terdiri dari tiga unsur: Tuhan, manusia dan segala ciptaan-Nya. Dengan kata lain, Aksara Jawa menyangkut hubungan Manusia dengan Tuhan, Antar Manusia dan Manusia dengan lingkungan.
Ketika Aksara Jawa ini menjadi media yang menyangkut hubungan ꦄꦤ꧀ꦠꦂꦩꦤꦸꦱꦶꦪ Antar Manusia, tidak hanya berlaku antar manusia yang serumpun saja, misal antar orang orang Jawa. Tidak, tetapi antar manusia di muka bumi karena sesuai dengan sifat manusia bahwa manusia adalah makhluk sosial.
Jawa dan Jepang
Belajar Aksara Jawa dalam program “Sinau Aksara Jawa”, yang digelar oleh komunitas budaya ꦥꦸꦫꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷ Puri Aksara Rajapatni, menjadi perhatian keluarga Jepang di Surabaya, Ishii Yutaka. Ishii Yutaka beserta keluarga mendaftar untuk ikut kelas perdana Sinau Aksara Jawa, yang diselenggarakan di komplek Museum Pendidikan di Jalan Genteng Kali 10 Surabaya.
Dalam penyelenggaraan ini, ꦥꦸꦫꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷ Puri Aksara Rajapatni didukung oleh Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya dan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya.
Pada Sabtu, 3 Februari 2024, adalah penyelenggaraan Sinau Aksara Jawa untuk pertemuan kedua dari ꦏꦼꦭꦺꦴꦩ꧀ꦥꦺꦴꦏ꧀ꦧꦼꦭꦗꦂ kelompok belajar PAR 01 (Puri Aksara Rajapatni 01). Setiap kelompok belajar ini dirancang mingguan selama 5 kali pertemuan (Offline dan Online).
Untuk Kelompok Belajar (Kejar) PAR 01, selama dua kali pertemuan terakhir, telah membingkai dua budaya: Jawa dan Jepang, dalam interaksi budaya. Interaksi dua budaya ini, tentu bukan tujuan dalam kegiatan Sinau Aksara Jawa. Tetapi kegiatan ini ternyata mampu menjadi sebuah wadah interaksi antara ꦧꦸꦣꦪꦗꦮꦣꦤ꧀ꦗꦼꦥꦁ budaya Jawa dan Jepang.
Dalam dua kali pertemuan Kejar PAR 01 ini tidak hanya materi Aksara Jawa (menulis dan membaca Aksara Jawa) yang didapat para pembelajar (peserta), tetapi sekaligus mendapat dan belajar budaya dari kedua bangsa ini: Jawa dan Jepang. Kejar PAR 01 berisi 10 pembelajar, yang terbuka untuk umum dan free. Dari interaksi Sinau inilah ke sepuluh peserta ini dapat belajar nilai budaya ꦏꦼꦣꦸꦮꦧꦁꦱ dari kedua bangsa.
Menurut Ishii Yutaka, wadah Sinau Aksara Jawa ini sangat baik dan diselenggarakan dalam suasana kekeluargaan di dalam suatu
kelas yang nyaman sehingga mampu ꦩꦼꦫꦗꦸꦠ꧀ merajut hubungan kekeluargaan antar bangsa dan budaya.
“Misalnya sekarang kami sekeluarga datang dengan pakaian Kimono. Sedangkan pengajar datang dengan menggunakan pakaian tradisional Jawa. Sehingga kami bisa saling belajar tentang budaya Jawa dan Jepang”, terang Ishii.
ꦫꦾꦸꦠ ꦆꦯꦶꦆ Ryuta Ishii (13) adalah putra semata wayang yang dalam dua kali pertemuan sudah mulai kelihatan kemampuan menulis Aksara Jawa. Kemampuan ini tampak pada lembar kerja (worksheet) yang dikerjakan dan ketika Ryuta mengerjakan menulis Aksara Jawa pada papan di depan kelas. Hal yang sama juga terlihat pada lembar kerja orang tuanya.
Interaksi kelas Sinau Aksara Jawa ini sangat ꦄꦏꦿꦧ꧀ akrab. Antara pengajar, Ita Surojoyo dan Wiji, dengan para pembelajar bisa membaur jadi satu. Tidak ada sekat yang memisahkan antara pengajar dan pembelajar (peserta). Baik Ita Surojoyo maupun Wiji, mendekat menghampiri setiap peserta untuk memberikan instruksi maupun penjelasan.
Dalam interaksi ꦧꦼꦭꦗꦂꦩꦼꦔꦗꦂ belajar-mengajar ini, menurut Ita, pertanyaan dan tanggapan yang disampaikan pembelajar sudah melebihi materi ajar yang telah disiapkan sesuai dengan modul ajar. Karenanya ia harus fleksibel dalam menyampaikan dan menjelaskan pertanyaan yang diajukan peserta.
“Wah, sebetulnya pertanyaan itu untuk pertemuan selanjutnya. Tapi gak papa”, kata Ita fleksibel.
Dalam pertemuan kedua ini (Sabtu, 3 Februari 2024) selain belajar Aksara Jawa, juga terjadi diskusi mengenai ꦥꦏꦻꦪꦤ꧀ꦠꦿꦣꦶꦱꦶꦪꦺꦴꦤꦭ꧀ pakaian tradisional Jepang, Kimono. Keluarga Ishii (istri dan anak), semuanya mengenakan pakaian Kimono dan dengan bangga berbagi cerita tentang pakaian tradisional Jepang ini.
“Saya akan memakai pakaian ꦏꦶꦩꦺꦴꦤꦺꦴ Kimono pada pertemuan berikutnya, ah”, kata Ita Surojoyo di akhir kelas Sinau Aksara Jawa. (nanang PAR).
“