Aksara Jawa Tidak Sekedar ꦣꦺꦏꦺꦴꦫꦱꦶ Dekorasi.

24 December 2023 | 34 kali
Fitur By : Nanang Purwono

Omahaksara.id: Surabaya (24/12/22) – Berbagi ilmu  ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ  Aksara Jawa adalah semangat yang mendasari apapun kegiatan beraksara Jawa di masyarakat yang kian majemuk dan modern. Di Yayasan Muslim Surabaya, kegiatan pelatihan membatik menyertakan Aksara Jawa sebagai inspirasi ꦩꦺꦴꦠꦶꦥ꦳꧀ꦧꦠꦶꦏ꧀ motif batik.

Canting canting cantik siap menggores Aksara Jawa. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Wakil Ketua Yayasan Muslim Surabaya, Syariah Usman, berharap akan muncul ꦧꦠꦶꦏ꧀ batik khas Surabaya dengan motif Aksara Jawa. Kekhasan batik Surabaya dengan ꦩꦺꦴꦠꦶꦥ꦳꧀ motif Aksara Jawa akan menambah khasanah karya budaya kota Surabaya.

Ide itu diwujudkan melalui kegiatan ꦥꦼꦭꦠꦶꦲꦤ꧀ pelatihan membatik dengan Aksara Jawa sebagai tambahan motif terhadap gambar gambar bunga atau tanaman pada umumnya. Hadir dalam pelatihan itu adalah pegiat Aksara Jawa dari Gresik yang diundang oleh Ketua Rajapatni, ꦤꦤꦁꦥꦸꦂꦮꦤ Nanang Purwono, sebagai mitra Yayasan Muslim Surabaya dalam penyelenggaraan Pelatihan membatik ini.

Ali Topan (kiri) ikut membatik. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Menurut ꦄꦭꦶꦠꦺꦴꦥꦤ꧀‌ Ali Topan, menggunakan Aksara Jawa tidak sekedar sebagai penghias atau motif batik. Tetapi lebih dari itu adalah sebuah langkah mengena lꦗꦠꦶꦣꦶꦫꦶꦧꦁꦱ jati diri bangsa. Menulis aksara Jawa adalah pelibatan rasa dan karsa sehingga lahirlah karya. Dalam hal ini adalah karya batik bermotif aksara Jawa.

“Membatik dengan motif aksara Jawa juga harus mengenal bagaimana ꦩꦼꦤꦸꦭꦶꦱ꧀  menulis aksara Jawa. Menggores tarikan menulis harus dimulai dari bawah. Selain itu dalam menuliskan aksara Jawa diharapkan harus mengerti ꦩꦏ꧀ꦤ makna yang ditulis”, terang Ali Topan dihadapan pengasuh Yayasan Muslim.Surabaya, Agus Siswanto, dan para tutor pembatik dari Ponorogo serta ibu ibu RW setempat.

Hasil sementara goresan batik. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Diskusi singkat ini dilakukan setelah kegiatan ꦩꦼꦩ꧀ꦧꦠꦶꦏ꧀ membatik. Ali Topan memaparkan bahwa penulisan aksara Jawa beragam bentuknya. Untuk pemakaian dalam motif batik, minimal para pembatik ꦩꦼꦔꦼꦠꦲꦸꦮꦶ mengetahui bagaimana menuliskan aksaranya. Bila ada goresan yang salah, maka bisa jadi salah pula maknanya. 

“Karenanya cara menulisnya harus benar”, tandas Ali Topan. Ali Topan juga menunjukkan beberapa contoh goresannya dalam bentuk ꦏꦭꦶꦒꦿꦥ꦳ꦶ kaligrafi di sebuah buku kecil untuk memberikan gambaran dan ꦩꦺꦴꦠꦶꦮ꦳ꦱꦶ motivasi berkarya.

Sementara itu Yuni, pembatik asal Ponorogo mengusulkan kepada Pengasuh Yayasan  Muslim Surabaya, agar kegiatan budaya seperti ini harus ꦧꦼꦂꦏꦼꦱꦶꦤꦩ꧀ꦧꦸꦔꦤ꧀ berkesinambungan karena kegiatan yang membutuhkan skil dan skil butuh pembiasaan. (nanang PAR)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *