Sinau Aksara Jawa ꦄꦏ꧀ꦠꦸꦮꦭꦶꦱꦱꦶꦩꦤꦸꦱ꧀ꦏꦿꦶꦥ꧀ꦠ꧀ Aktualisasi Manuskrip

31 December 2023 | 24 kali
Fitur By : Nanang Purwono

Omahaksara.id: Surabaya (31/12/23) – Manuskrip atau naskah kuno menjadi salah satu dari 10 Objek ꦥꦼꦩꦗꦸꦮꦤ꧀ꦏꦼꦧꦸꦣꦪꦄꦤ꧀ Pemajuan Kebudayaan (OPK) UU 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Surabaya memiliki manuskrip sebagaimana dikoleksi oleh Museum Pendidikan Kota Surabaya. Beberapa diantaranya dipamerkan di museum itu. Ada yang berbentuk lontar dan buku.

Koleksi Manuskrip di Museum Pendidikan Surabaya. Foto: IS PAR/omahaksara.id

Etalase manuskrip ini menempati ruang setelah kronologi ruang ꦥꦿꦄꦏ꧀ꦱꦫ Pra Aksara dimana peradaban kala itu belum mengenal aksara sebagai simbol simbol komunikasi. Masa ini adalah masa di era zaman purba. Meski begitu bukan berarti mereka tidak berkomunikasi antar sesama dalam koloninya.

Pada pengelompokan masa berikutnya dimana manusia sudah mengenal simbol simbol komunikasi, khususnya dalam bentuk ꦄꦏ꧀ꦱꦫ Aksara. Ada aksara Pegon dan Jawa. Ada yang ditulis dalam bentuk buku di atas kertas,  di atas daun lontar dan di atas bahan kulit.

Ada manuskrip tentang kisah Nabi Muhammad dan tembang macapat. Tembang macapat ini ditulis dalam aksara Jawa pada lembaran berbahan kulit dalam bentuk buku. Diawali dengan pupuh ꦄꦱ꧀ꦩꦫꦣꦤ Asmaradana.

Manuskrip koleksi Museum Pendidikan kota Surabaya. Foto: IS PAR/omahaksara.id

Dalam kemasan etalase ini, pengunjung diajak menyaksikan hasil peradaban masa lalu. Tidak hanya menyaksikan manuskrip secara fisik, pihak museum juga berusaha menyajikan isi dari manuskrip tersebut. Ini juga wujud dari fungsi museum yang tidak sebatas mempreservasi manuskrip, tapi juga berbagi informasi mengenai isi. Karena itu museum juga melakukan kajian kajian dari ꦏꦺꦴꦭꦺꦏ꧀ꦱꦶꦩꦤꦸꦱ꧀ꦏꦿꦶꦥ꧀ koleksi manuskrip.

Dalam rangka membedah isi manuskrip yang ditulis dalam aksara Jawa, kurator museum Agus M.T. menyambut baik rencana komunitas budaya, ꦥꦸꦫꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷ Puri Aksara Rajapatni, yang berencana membuka kegiatan sinau aksara Jawa di lingkungan Museum Pendidikan Surabaya di jalan Genteng Kali Surabaya.

Manuskript berbahan daun lontar. Foto: IS PAR/omahaksara.id

Saat ditemui oleh Ketua ꦥꦸꦫꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷ Puri Aksara Rajapatni, Nanang Purwono, Kurator Agus M.T. mengatakan bahwa kegiatan Rajapatni ini sangat relevan dengan kegiatan museum.

“Kegiatan komunitas ini sesuai dengan rencana kegiatan museum mendatang, khususnya tentang kajian kajian manuskrip beraksara Jawa. Belajar aksara Jawa di Museum Pendidikan adalah wujud nyata tahapan mempelajari manuskrip”, jelas Agus kepada Ketua Puri Aksara Rajapatni.

Mengingat komunitas ini masih baru maka jumlah peserta kegiatan sinau aksara Jawa dibatasi. Kegiatan budaya ini merupakan ꦱꦶꦤꦺꦂꦒꦶꦩꦸꦠꦸꦮꦭ꧀ sinergi mutual antara museum dan komunitas. (nanang PAR).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *