ꦫꦺꦪꦸꦤꦶꦣꦸꦮꦄꦏ꧀ꦱꦫ Reuni Dua Aksara: Jawa dan Jepang.

28 January 2024 | 56 kali
Fitur By : Nanang Purwono

Omahaksara.id: Surabaya (28/1/24) – Ada catatan sejarah, yang mana Aksara Jepang dan Aksara Jawa pernah dalam satu wadah peradaban. Yaitu ꦥꦼꦫꦣꦧꦤ꧀ꦯꦸꦫꦨꦪ peradaban Surabaya. Pada masa itu, diantara akhir abad 19 hingga paruh pertama abad 20. Dalam kurun waktu itu Aksara Jepang ada di mana mana di Surabaya. Apalagi Aksara Jawa lebih di mana mana.

Beberapa sumber sumber buku yang dimiliki warga Jepang di Surabaya, Ishii Yutaka, menjelaskan potret ꦏꦺꦴꦩꦸꦤꦶꦠꦱ꧀ꦗꦼꦥꦁ komunitas Jepang di Surabaya. Ada toko toko Jepang, perusahaan serta gedung pertemuan warga Jepang di Surabaya. Termasuk pemakaman warga Jepang yang hingga sekarang jejaknya dapat diidentifikasi. Yaitu pemakaman masal di Kembang Kuning. Warga Jepang tidak di Surabaya hanya sebatas tahun 1942 hingga 1945. Tapi jauh sebelum tahun 1942.

Beberapa buku beraksara Jepang tentang masyarakat Jeoang di Surabaya di era Hindia Belanda. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Dengan hadirnya ꦆꦯꦶꦆꦪꦸꦠꦏ  Ishii Yutaka dalam kelas Sinau Aksara Jawa bukan tidak ada alasan. ꦆꦯꦶꦆꦪꦸꦠꦏ Ishii Yutaka sudah pernah hadir di Kampung Aksara Jawa di wilayah RW 5 Wisma Kedung Asem Indah, Kelurahan Kedung Baruk, Kecamatan Rungkut, Surabaya. Disana ia berbagi cerita budaya dengan warga RW 5 tentang Aksara Kanji. Ternyata ada kemiripan dalam filosofi tentang aksara leluhur Jepang dan Jawa. Kedua aksara ini tidak sekedar menulis aksara, tetapi ada nilai ꦧꦸꦣꦶꦥꦼꦏꦼꦂꦠꦶ budi pekerti.

Ishii Yutaka bersama warga RW 5 Wisma Kedung Asem Indah. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Setelah hadir di ꦏꦩ꧀ꦥꦸꦁꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ Kampung Aksara Jawa, Ishii Yutaka mengajak istri dan anak mengikuti kelas Sinau Aksara Jawa yang diadakan oleh Puri Aksara Rajapatni. Kelas perdana berkode PAR 01 ini dimulai Sabtu, 27 Januari 2024 dan berlangsung sebanyak lima kali pertemuan tatap muka (offline) dan sekali pertemuan online.

Ita Surojoyo dan Ishii Yutaka bersiap pecan kendi disaksikan istri Ishii. Foto: dok PAR/omahaksara.id

Pada kesempatan akan memulai kelas Aksara Jawa PAR 01 ini, Ishii Yutaka sekeluarga membersamai Founder ꦥꦸꦫꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷ Puri Aksara Rajapatni, Ita Surojoyo, memecah kendi sebagai pertanda dimulainya kelas Sinau Aksara Jawa. Dalam tradisi Jawa, pecah kendi disimbolkan dan sekaligus harapan dan permohonan doa untuk kelancaran rezeki dan kebaikan selama menjalani aktivitas, termasuk aktivitas Sinau Aksara Jawa demi pelestarian dan pengbangan Aksara Jawa di Surabaya.

“Kembalinya air dan tanah dalam prosesi pecah kendi”, kata Ita Surojoyo. Foto: dok PSR/omahaksara.id

Menurut Ketua ꦥꦸꦫꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷ Puri Aksara Rajapatni, Nanang Purwono, bertemunya Aksara Jawa dan Jepang di RW 5 Wisma Kedung Asem Indah, Kelurahan Kedung Baruk, Kecamatan Rungkut dan bertemunya warga Jepang dan warga Surabaya dalam kelas Sinau Aksara Jawa adalah wujud reuni dua budaya yang pernah bersama dalam satu wadah peradaban di kota Surabaya.

Melalui peradaban baru ini, diharapkan ada sinergi dan kerjasama antara masyarakat Jepang dan Surabaya sehingga lebih mempererat persahabatan antar dua negara ꦆꦤ꧀ꦝꦺꦴꦤꦺꦱꦶꦪꦣꦤ꧀ꦗꦼꦥꦁ Indonesia dan Jepang.

Sebagai   ꦕꦶꦤ꧀ꦝꦺꦫꦩꦠ cinderamata Tim Puri Aksara Rajapatni memberikan dua buku tentang Aksara Jawa. Satu buku berjudul “Titi Tikus Ambeg Welas Asih” karya Ita Surojoyo dan “Surabaya Beraksara Nusantara: Kisah Keberanian Kembali Beraksara Jawa, Simbol Jati Diri” karya Nanang Purwono.

Cinderamata simbol Reuni Budaya Aksara Jawa dan Jepang. Foto: dok PAR/omahaksara.id

Diharapkan cinderamata ini menjadi simbol ꦫꦺꦪꦸꦤꦶꦧꦸꦣꦪ Reuni Budaya Jawa dan Jepang. (nanang PAR).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *