Daun ꦱꦼꦩꦁꦒꦶ Semanggi Mengandung Doa.

19 February 2024 | 111 kali
Fitur By : Nanang Purwono

 

Semanggi setangkai empat helai daun menjadi inspirasi konstruksi jembatan yang sarat doa. Foto: nanang PAR/omahaksarq.id

Omahaksara.id: Surabaya (19/2/24) – Sudah populer diketahui bahwa ꦱꦼꦩꦁꦒꦶ Semanggi dalam bentuk kudapan menjadi ikon kota Surabaya. Namanya Pecel Semanggi. Nama Semanggi pun diabadikan dalam sebuah lagu “Semanggi Suroboyo”. Lirik dan lagunya sudah membahana dimana mana, di Nusantara dan Mancanegara. Isinya bercerita tentang kudapan khas Surabaya yang dipasarkan dari kampung ke kampung dengan digendong yang harga sepincuk hanya setali. 

ꦱꦼꦠꦭꦶ Setali adalah sebutan untuk 1/4 rupiah yang nilai nominalnya setara 25 sen. Satu rupiah sama dengan 100 sen. Di eranya, di zaman kolonial, seratus sen atau satu rupiah merupakan nominal yang cukup. Harga sepincuk semanggi dijual setali atau 25 sen.

Sekarang ꦱꦼꦥꦶꦚ꧀ꦕꦸꦏ꧀ sepincuk semanggi yang dipasarkan dari kampung ke kampung dan di stand di pinggir jalan di Kampung Sememi seharga Rp. 10.000. Perubahan waktu (zaman) menjadikan perubahan mata uang dan nilai jual barang, termasuk harga semanggi.

Semanggi dijual ditepian jalan dengan gerobak di kawasan Sememi, Surabaya. Foto: nanang PAR/omahaksara.id
Sepincuk semanggi yang berisi rebusan daun semanggi, kecambah dan kangkung serta kerupuk puli. Foto: ist/omahaksara.id

Semanggi adalah sejenis tanaman paku air yang umum ditemukan di pematang ꦱꦮꦃ sawah atau di tepi saluran air irigasi. Di Surabaya, Semanggi ditanam di bidang lahan layaknya padi (sawah). Kebun Semanggi di Surabaya dikenal ada di kawasan Kecamatan Benowo, Surabaya Barat. Di kawasan inilah, lahan hijau masih menjadi paru paru ekologi. Oase kota Surabaya masih menyegarkan. Morfologi tumbuhan ini sangat khas, yang jika dilihat dari atas, terlihat adanya empat helai daun yang saling berhadapan. Bentuk empat daun ini dipakai sebagai konstruksi Jembatan Semanggi di Jakarta.

Kebun Semanggi di wilayah Kecamatan Banjar Sugihan, Surabaya Barat. Foto: nanang PAR/omahaksara.id.

Ternyata bentuk ꦣꦻꦴꦤ꧀ꦱꦼꦩꦁꦒꦶ daun semanggi, yang menjadi jembatan di ibukota Indonesia ini, memiliki arti. Setiap helai daunnya, yang berjumlah empat, mengandung makna yang berbeda beda. Daun pertama melambangkan ketenaran. Daun kedua bermakna kekayaan. Ketiga berarti cinta dan daun keempat adalah kesehatan. 

Jadi, ada makna dibalik konstruksi ꦄꦭꦩꦶꦪꦃ alamiah daun semanggi. Semanggi, yang beranatomi empat helai daun dalam sebuah tangkai, bermakna doa. Suatu doa yang berharap ada ketenaran, kekayaan, cinta dan kesehatan. Publik belum banyak tau tentang makna dari daun semanggi yang menjadi kudapan khas kota Surabaya.

Pecel semanggi enak dimakan di siang hari. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Semanggi adalah makanan rakyat yang dijual dengan berkeliling masuk keluar kampung dan di pinggir jalan. Ketika makanan ini sudah jadi ikon kota, maka perlu kiranya dikembangkan keberadaannya. Tumbuhan semanggi harus dibudidayakan sehingga secara ekonomis turut bisa membantu meningkatkan ꦏꦼꦱꦼꦗꦃꦠꦼꦫꦄꦤ꧀ꦩꦱꦾꦫꦏꦠ꧀ kesejahteraan masyarakat dan secara kultural tradisi kuliner ini bisa dilestarikan.

Pecel daun semanggi umumnya didampingi dengan kecambah dan daun ꦏꦁꦏꦸꦁ kangkung. Semuanya di rebus dan kemudian diberi bumbu yang berbahan dasar ketela dan dicampur dengan gula jawa, terasi dan cabai (sambal). Tidak lupa disajikan dengan kerupuk puli dan secara tradisional dihidangkan dengan pincuk daun pisang.

ꦥꦼꦕꦼꦭ꧀ꦱꦼꦩꦁꦒꦶꦯꦸꦫꦨꦪ Pecel Semanggi Surabaya diabadikan dalam bentuk karya seni musik keroncong berjudul Semanggi Suroboyo, yang diciptakan dan digubah oleh seorang musisi keroncong, S. Padimin pada era tahun 1950-an. (nanang PAR).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *