TiMe Amsterdam Jajaki ꦏꦺꦴꦭꦧꦺꦴꦫꦱꦶ Kolaborasi Museum Pendidikan Surabaya dan Amsterdam.

27 February 2024 | 23 kali
Fitur By : Nanang Purwono

Max Meijer dan Petra Timmer mendapat penjelasan dari kurator museum MT Agus. Foto: nanang PAR/omahaksara.id

Omahaksara.id: Surabaya 27/2/24) – Sebuah proyek ꦏꦼꦂꦗꦱꦩ kerjasama revitalisasi Makam Peneleh sebagai Perpustakaan Hidup (Peneleh Cemetery As a Living Library) telah dimulai. Kerjasama ini melibatkan komunitas sejarah Begandring Soerabaia (Indonesia) dan TiMe Amsterdam (Belanda), yang kick off nya dimulai pada Senin, 26 Februari 2024 dan diharapkan tuntas di bulan Desember 2024.

Kerjasama revitalisasi Kampung Eropa Peneleh ini ꦧꦼꦂꦠꦸꦗꦸꦮꦤ꧀ bertujuan untuk membuka, menciptakan relevansi dan dampak serta nilai-nilai baru bagi Makam Peneleh sebagai wahana yang lebih bermakna dan lebih ramah bagi warga sekitar dan pengunjung baik secara langsung (offline) maupun online. Selain itu, proyek ini nantinya diharapkan dapat memberdayakan masyarakat lokal, kewirausahaan lokal dan meningkatkan citra masyarakat Kampung Peneleh dan sekitarnya. 

Sebelum kick off, yang digelar di Makam Peneleh, TiMe Amsterdam yang diwakili Max Meijer dan Petra Timmer, mengunjungi ꦩꦸꦱꦺꦪꦸꦩ꧀ꦥꦼꦤ꧀ꦝꦶꦣꦶꦏꦤ꧀ Museum Pendidikan Surabaya atas nama museum Belanda untuk mendiskusikan kemungkinan kolaborasi di masa mendatang. Mereka  disambut hangat oleh Kepala UPTD Museum dan Gedung Seni Kota Surabaya Saidatul Maknunah dan kurator museum M.T. Agus.

Menurut Max Meijer, Direktur TiMe Amsterdam, ada hal menarik dan penting dari Museum Pendidikan Surabaya dalam kaitannya dengan Museum Pendidikan di Amsterdam Belanda. Yaitu mengenai konten kebangkitan bangsa di bidang pendidikan dan konten kebudayaan terkait dengan ꦄꦏ꧀ꦱꦫꦤꦸꦱꦤ꧀ꦠꦫ Aksara Nusantara, khususnya Aksara Jawa.

Dalam konten ꦏꦼꦧꦁꦏꦶꦠꦤ꧀ꦥꦼꦤ꧀ꦝꦶꦣꦶꦏꦤ꧀ kebangkitan pendidikan, yang disajikan oleh Museum Pendidikan di Surabaya, dinilai Max sebagai kejujuran yang apa adanya dan tidak ditutup tutupi. Tampak pada sajian narasi pada zona terakhir di museum ini yang menyebutkan bahwa justru pada pasca kemerdekaan atau dekolonialisasi, sistem pendidikan di Indonesia terus silih berganti yang seolah tiada henti.

“Setiap ganti pemimpin selalu diiringi dengan ganti sistem pendidikannya”, jelas pemandu museum sambil menjelaskan display naratif di zona terakhir Museum Pendidikan.

Dalam kunjungan ini, Max meijer yang juga museologist serta konsultan permuseuman dalam jaringan ICOMOS (International Committee on Museums and Sites), yang berdiri di bawah payung UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), mengatakan bahwa di sela sela kegiatan formalnya dalam proyek revitalisasi Makam Peneleh sebagai ꦥꦼꦂꦥꦸꦱ꧀ꦠꦏꦄꦤ꧀ꦲꦶꦣꦸꦥ꧀ Perpustakaan Hidup (Peneleh Cemetery as a Living Library), dirinya menjajaki potensi kerjasama di bidang permuseuman dengan Museum Pendidikan Surabaya. 

Max Meijer dan Petra Timmer adalah ahli dan ꦏꦺꦴꦤ꧀ꦱꦸꦭ꧀ꦠꦤ꧀ konsultan permuseuman dunia yang tidak asing di Indonesia karena perannya dalam berbagi ilmu dengan museum museum di Indonesia. Misalnya museum Kereta Api Ambarawa, Museum Nasional di jakarta dan bahkan dengan museum Panji di Malang. Hal yang sama diharapkan dengan Museum Pendidikan di Surabaya.

Selain di dalam konten kebangkitan pendidikan, max dan Petra juga mulai tertarik dengan konten manuscript yang didisplay di museum. Apalagi menurut kurator museum Agus disebutkan bahwa museum tidak sekedar memajang ꦄꦂꦠꦼꦥ꦳ꦏ꧀ artefak, tapi sekaligus menyajikan makna dan pesan di balik fisik artefak melalui sejumlah kegiatan. Diantaranya adalah kerjasama dan berjejaring dengan komunitas.

“Kami bekerjasama dengan komunitas budaya ꦥꦸꦫꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷ Puri Aksara Rajapatni untuk pembelajaran Aksara Jawa sebagai tangga memahami isi dari koleksi manuskrip”, jelas Agus kepada Max dan Petra.

Agus menjelaskan secara umum sambil mengunjungi wahana edukatif di museum terkait dengan keaksaraan bahwa memasuki museum, pengunjung disambut dengan wahana ꦥꦿꦄꦏ꧀ꦱꦫ Pra Aksara. Yaitu zaman ketika manusia belum mengenal aksara sebagai media komunikasi. Dalam zina ini diilustrasikan zaman purba ketika manusia tidak mengenal aksara, tetapi masih berupa simbol simbol saja.

Setelah zona ꦥꦿꦄꦏ꧀ꦱꦫ Pra Aksara, kemudian masuklah pada zona kerajaan dimana aksara sudah mulai dikenal dan digunakan. Tersajikan dalam zona itu adalah manuskrip yang terdiri dan ditulis di atas daun lontar dan kertas. Menurut kurator Agus, manuscript yang dikoleksinya tidak banyak tetapi justru ia mencoba mengkajinya satu persatu untuk mengungkap isi dari manuscript koleksinya.

Untuk mengenalkan isi manuscript, ia bekerja sama dengan komunitas yang mengajarkan Aksara Jawa, ꦥꦸꦫꦶꦄꦏ꧀ꦱꦫꦫꦴꦗꦥꦠ꧀ꦤꦷ Puri Aksara Rajapatni. Wujudnya adalah kegiatan Sinau Aksara Jawa. Ia menambahkan bahwa dengan mengetahui aksara Jawa akan menjadi langkah dalam mengenal manuskrip. Karananya berjejaring dengan komunitas yang fokus dalam Aksara Jawa menjadi sebuah cara.

Diantara koleksi manuskrip yang ada, ada dua yang telah dikaji dan nantinya akan menjadi materi dalam kelas aksara Jawa. Selain belajar aksaranya, peserta ꦱꦶꦤꦻꦴꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮ Sinau Aksara Jawa nuga akan belajar ini dari manuskrip itu. 

Sementara itu, Max dan Petra yang semakin mengerti konsep Museum Pendidikan Surabaya menjadi semakin berkeinginan menjalin hubungan kerjasama antar museum pendidikan ꦯꦸꦫꦨꦪ Surabaya dan Amsterdam. Apalagi di kota Amsterdam, ada museum pada momen tertentu menyelenggarakan sinau nulis aksara Jawa untuk publik. Bukan untuk orang Indonesia tapi masyarakat Belanda. (nanang PAR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *