Pengalaman Spiritual Dengan Aroma ꦣꦸꦥ Dupa.

15 December 2023 | 16 kali
Fitur By : Nanang Purwono

Omahaksara.id: Surabaya (15/12/23) – Meski kita sudah hidup di alam modern, namun yang namanyaꦠꦿꦣꦶꦱꦶ tradisi tidak lepas dari kehidupan sekarang (modern). Harmonis bila ꦠꦿꦣꦶꦱꦶ tradisi bisa bersanding dengan ꦩꦺꦴꦣꦺꦂꦤꦶꦱꦱꦶ modernisasi. Apakah bisa? Bisa !

Kota ꦱꦸꦫꦧꦪ Surabaya adalah contohnya. Mungkin salah satu dari sekian contoh yang ada. Keyakinan dan kepercayaan adalah hak setiap orang, yang hidup dalam wadah ꦤꦼꦒꦫ Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Pasal 28E UUD 1945: Pasal 28E (2) menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan meyakini ꦏꦼꦥꦼꦂꦕꦪꦄꦤ꧀ kepercayaan, menyatakan ꦥꦶꦏꦶꦫꦤ꧀ pikiran dan ꦱꦶꦏꦥ꧀ sikap sesuai dengan hati nuraninya.

Kepercayaan adalah salah satu dari keberagaman dalam menganut Ketuhanan ꦪꦁꦩꦲꦄꦼꦱ Yang Maha Esa. Disana dalam kebiasaan dan tradisi kepercayaan, membakar dupa adalah salah satunya. Terkadang sebagai sebuah tradisi, membakar dupa tidak ada kaitannya dengan agama. Membakar dupa adalah bagian dari tradisi dan ꦏꦼꦧꦶꦪꦱꦄꦤ꧀ kebiasaan yang telah turun temurun dilakukan oleh nenek moyang.

Di Suriname misalnya, yang letak negaranya berada di belahan barat dari Kota ꦩꦼꦏꦃ Mekah, ꦱꦻꦴꦣꦶꦄꦫꦧꦶꦪ Saudi Arabia, mestinya keberadaan masjid (kiblat) harus menghadap ke Timur. Tapi ada masjid (kiblat) disana menghadap ke barat. Para jamaah masjid ini masih memegang teguh tradisi nenek moyang, yang ketika sholat masih menghadap ke Barat seperti di (Jawa) Indonesia.

“Jare para simbah, yen ꦱꦼꦩ꧀ꦧꦲꦾꦁ  sembahyang kudu ngadep ngulon”, begitu kalimat yang diucapkan secara klise oleh orang Jawa Suriname yang sholat menghadap ke Barat. Sementara masjid masjid lainnya menghadap ke Timur.

 

Bakar Dupa

Ada tradisi bakar dupa. Mengapa? Dengan membakar dupa sebenarnya merupakan sebagai sebuah tindakan untuk menciptakan suasana yang hening dan sakral. Tentu saja juga untuk menciptakan ruangan atau tempat yang harum. Dengan demikian proses berjalannya acara ꦫꦶꦠꦸꦮꦭ꧀ ritual dapat lebih terkonsentrasi, tidak terganggu oleh kebisingan dan aroma yang tak sedap.

Menurut literasi ꦥꦫꦶꦱꦣꦲꦶꦤ꧀ꦝꦸꦣꦂꦩꦆꦤ꧀ꦝꦺꦴꦤꦺꦱꦶꦪ Parisada Hindu Dharma Indonesia, phdi.co.id, Dupa adalah sejenis harum-haruman yang dibakar sehingga berbau harum dan menyala sebagai lambang ꦄꦒ꧀ꦤꦶ Agni atau api dan berfungsi sebagai perantara yang menghubungkan pemuja dengan yang dipuja.

Dupa berasal dari ꦮꦶꦱ꧀ꦩ Wisma yaitu alam semesta dan asapnya yang secara perlahan menyatu ke angkasa inilah sebagai perlambang menuntun umat agar menghidupkan api dalam raga dan menggerakkan menuju ke ꦱꦁꦲꦾꦁꦮꦶꦣꦶ Sanghyang Widhi.

Karenanya perbedaan dalam beragama adalah warna dalam NKRI. Karena perbedaan itulah, kemudian ada toleransi dan saling bekerjasama dalam kehidupan ꦧꦼꦂꦧꦁꦱ berbangsa dan ꦧꦼꦂꦤꦼꦒꦫ bernegara. 

Ternyata tradisi dan keyakinan terhadap nenek moyang juga masih ada dan berkembang di tengah tengah belantara modernisasi kota Surabaya.

 

Dipandu Asap Dupa

Ini adalah pengalaman pribadi yang nyata. Dari kejauhan, aku mencium aroma dupa. Jarak mulai aku mencium aroma dupa dengan sumber dupa sekitar 10 kilometer, dari ꦗꦩ꧀ꦧꦔꦤ꧀ Jambangan, Surabaya Selatan ke ꦠꦸꦧꦤꦤ꧀ꦭꦩ Tubanan Lama, Surabaya Barat.

Dari ꦗꦩ꧀ꦧꦔꦤ꧀ Jambangan sore itu (Kamis, 14 Desember 2023) aku mengalami pengalaman spiritual atau tepatnya gaib. Tubuh dan pundakku terasa berat tiba tiba. Di saat yang bersamaan, aku mencium aroma dupa. Padahal tidak ada dupa di sekitarku di Sentra Wisata Kuliner (SWK) ꦗꦩ꧀ꦧꦔꦤ꧀ Jambangan, Surabaya Selatan.

Aku sontak menyadari bahwa ada yang sedang membersamaiku. Ia bersamaku. ꦱꦶꦪꦥꦣꦶꦪ Siapa dia? Tak bisa kujelaskan.

Karena aroma itu terus menusuk hidung dalam perjalanan pulang ke rumah, maka aku sempat berhenti di depan penjual ꦱꦠꦺ sate di Karah Surabaya untuk mengadu bau sate dan aroma dupa. Ketika berhenti di tempat pembakaran sate, bau sate sempat mengalahkan aroma dupa. Aroma dupa hilang dan aku melanjutkan perjalanan.

Baru beberapa meter meninggalkan penjual sate, aroma dupa pun menyeruak masuk ke dalam hidung. Aku terus melanjutkan perjalanan pulang ke arah rumah di ꦩꦤꦸꦏꦤ꧀ Manukan Rejo Surabaya Barat. Dalam perjalanan itu, aroma dupa terus menyertaiku. Aku sadar bahwa dia masih bersamaku dan aku pun merasa aman dalam perjalanan pulang bersamanya.

Sesampai di kawasan Tubanan Lama, sebelum sampai di Manukan Rejo di Surabaya Barat, aku berhenti di sebuah kantor Balai RW, yang berdiri tepat di pinggir jalan, dimana sumber aroma dupa itu bermula. Di kantor Balai RW ꦠꦸꦧꦤꦤ꧀ꦭꦩ Tubanan Lama ini sedang berlangsung latihan kelompok seni Campursari dengan seperangkat gamelan. Suaranya riuh.

Disanalah aroma dupa itu sangat terasa. Tapi aku tidak langsung bertanya kepada para ꦮꦶꦪꦒ   wiyaga dimana letak dupa dibakar. Aku pun mengambil beberapa foto dari mereka yang sedang berlatih. Kemudian ku lanjutkan

ꦮꦮꦚ꧀ꦕꦫ wawancara dengan salah satu anggota mengenai kegiatan mereka.

Dijelaskannya bahwa mereka berlatih ꦕꦩ꧀ꦥꦸꦂꦱꦫꦶ campursari seminggu sekali, setiap hari Kamis malam. Menurutnya Kamis malam atau Malam Jumat adalah hari baik.

Setelah ngobrol sejenak ku bertanya dimana letak dupa yang dibakar. Dijawabnya bahwa dupa dibakar di belakang ꦒꦺꦴꦁ gong. Aku pun minta ijin untuk memotret dupa yang berada di belakang ꦒꦺꦴꦁ   gong.

Setelah melangkah melewati beberapa wiyaga, saya sudah berada di belakang ꦒꦺꦴꦁ gong dan melihat keberadaan dupa yang sedang menyala dengan asap putihnya yang bergerak membubung ke udara. 

Begitu lensa HP kuarahkan dan memframing dupa, tiba tiba HP mati. Maka gagal lah mengabadikan dupa yang ꦩꦼꦚꦭ menyala itu, yang percaya atau tidak, telah menuntunku dari kejauhan sekitar 10 kilometer dari Surabaya Selatan ke Surabaya Barat.

Buktinya, dari tempat itu, Kantor Balai RW Tubanan Lama ke rumah di Manukan Rejo, Tandes, sudah tidak tercium lagi aroma dupa. (nng)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *